Kehidupan modern menuntut mobilitas yang sangat tinggi. Kita sering merasa lelah secara mental dan spiritual. Tekanan pekerjaan terus menghimpit batin setiap hari. Media sosial sering menciptakan standar hidup yang semu. Kondisi ini membuat banyak orang kehilangan arah sejati. Kita membutuhkan pegangan batin agar tetap tenang. Kitab Al-Hikam hadir sebagai jawaban yang sangat relevan. Syekh Ibnu Atha’illah al-Sakandari merangkai hikmah yang luar biasa. Tulisan beliau mampu menyentuh relung hati terdalam pembacanya.
Mengenal Sosok di Balik Al-Hikam
Ibnu Atha’illah al-Sakandari merupakan ulama besar abad ke-13. Beliau berasal dari kota Iskandariyah, Mesir. Sosok ini memadukan ilmu syariat dengan kedalaman tasawuf. Al-Hikam menjadi karya paling monumental sepanjang sejarah Islam. Kitab ini mengandung untaian hikmah pendek namun sangat padat. Setiap kalimat membawa pesan ketuhanan yang sangat kuat. Banyak pakar menyebut Al-Hikam sebagai mahakarya spiritual. Ulama dan penempuh jalan spiritual mempelajari kitab ini. Isinya membantu manusia mengenal jati diri dan Penciptanya.
Mengatasi Ambisi yang Melelahkan
Salah satu penyebab kelelahan modern adalah ambisi berlebihan. Kita terlalu keras memaksakan kehendak pada dunia. Ibnu Atha’illah memberikan nasihat yang sangat menenangkan hati. Beliau mengajarkan konsep kepasrahan yang aktif kepada Tuhan. Berikut adalah kutipan terkenalnya dalam kitab tersebut:
“Istirahatkanlah dirimu dari mengatur urusanmu, sebab apa yang telah dilakukan oleh selainmu untukmu, tidak usah engkau sibuk ikut memikirkannya.”
Kutipan ini bukan berarti kita harus malas bekerja. Namun, kita harus melepaskan beban hasil kepada Tuhan. Kita sering merasa stres karena ingin mengontrol segalanya. Padahal, hanya Tuhan yang memegang kendali atas hasil akhir. Kita hanya perlu melakukan ikhtiar yang terbaik. Kepasrahan ini memberikan energi baru bagi jiwa manusia. Jiwa yang tenang akan menghasilkan karya yang lebih baik.
Keseimbangan Antara Usaha dan Takdir
Manusia modern sering terjebak dalam dikotomi duniawi. Ada yang terlalu mengejar materi secara membabi buta. Ada pula yang ingin lari dari tanggung jawab. Ibnu Atha’illah memberikan perspektif yang sangat seimbang. Beliau menuliskan hikmah yang sangat mendalam terkait hal ini:
“Keinginanmu untuk tajrid (fokus ibadah tanpa bekerja), padahal Allah masih menempatkanmu pada asbab (bekerja mencari nafkah), termasuk syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk asbab, padahal Allah telah menempatkanmu pada tajrid, itu berarti berarti turun dari kedudukan yang tinggi.”
Pesan ini sangat cocok bagi kaum profesional saat ini. Kita tidak perlu meninggalkan pekerjaan untuk mendekat kepada Tuhan. Tuhan hadir dalam setiap aktivitas jujur yang kita lakukan. Jadikan pekerjaan sebagai sarana ibadah yang tulus. Spiritual tidak harus berarti meninggalkan gemerlapnya dunia. Kita cukup menjaga agar dunia tidak menguasai hati. Hati tetap terpaut pada Yang Maha Kuasa selamanya.
Menyembuhkan Luka Batin dan Kekecewaan
Kekecewaan sering muncul saat rencana kita gagal total. Manusia modern rentan terkena depresi karena kegagalan tersebut. Al-Hikam mengajarkan kita cara memandang sebuah kegagalan. Syekh Ibnu Atha’illah menjelaskan bahwa kegagalan bisa menjadi anugerah. Terkadang, Tuhan menutup satu pintu untuk membuka pintu lain. Kita sering tidak menyadari hikmah di balik musibah. Kedekatan dengan Tuhan justru muncul saat kita lemah. Kitab ini membimbing kita untuk selalu berprasangka baik.
Oase di Tengah Padang Pasir Modernitas
Membaca Al-Hikam seperti menemukan mata air di gurun. Kitab ini menawarkan kejernihan berpikir bagi orang bingung. Anda akan menemukan kedamaian saat memahami setiap baitnya. Bahasanya puitis namun tetap logis dan mudah dimengerti. Al-Hikam tidak hanya untuk kalangan santri atau ulama. Semua orang yang mencari kedamaian batin bisa membacanya. Kitab ini memandu kita keluar dari kegelapan ego. Kita belajar untuk melepaskan topeng-topeng keduniawian yang semu.
Kesimpulan
Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah adalah warisan spiritual yang abadi. Kitab ini memberikan solusi nyata bagi problematika manusia modern. Kita belajar tentang ketulusan, tawakal, dan pengenalan diri. Mempelajari kitab ini akan mengubah cara pandang hidup Anda. Anda akan merasa lebih tenang menghadapi dinamika zaman. Mari luangkan waktu untuk merenungi pesan-pesan suci ini. Jadikan Al-Hikam sebagai kompas batin dalam perjalanan hidup. Ketenangan sejati hanya ada saat kita dekat dengan-Nya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
