SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Membentak Orang Tua: Ketika Lisan Menjadi Jalan Durhaka

Membentak Orang Tua: Ketika Lisan Menjadi Jalan Durhaka

Membentak Orang Tua: Ketika Lisan Menjadi Jalan Durhaka
Membentak Orang Tua: Ketika Lisan Menjadi Jalan Durhaka

 

SURAU.CO – Di banyak rumah, konflik keluarga tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Ia sering bermula dari hal remeh: nada suara yang meninggi, kalimat pendek yang tajam, atau desahan kesal yang terdengar sepele. Namun, justru dari hal-hal kecil itulah luka besar kerap tercipta. Terlebih jika nada tinggi itu diarahkan kepada orang tua. Ayah dan ibu yang dulu menjadi tempat berlindung, perlahan berubah menjadi sasaran emosi.

 

Fenomena membentak orang tua hari ini semakin terasa sebagai gejala sosial. Tekanan ekonomi, jarak generasi, perbedaan cara pandang, hingga pengaruh budaya digital membuat banyak anak mudah tersulut. Orang tua dianggap kuno, lamban, atau tidak paham zaman. Dari sinilah bentakan lahir, sering tanpa disadari telah menyeberang dari sekadar emosi menjadi bentuk durhaka.

 

Sepuluh Ramadhan: Meluruskan Niat, Menyiapkan Hati

Islam memandang persoalan ini bukan sekadar isu etika keluarga, tetapi masalah akhlak dan keimanan. Al-Qur’an menempatkan adab kepada orang tua pada posisi yang sangat tinggi, bahkan langsung setelah perintah tauhid.

 

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isrā’: 23).¹

 

Bedanya Selamat dengan Islam

Ayat ini sering dibaca, tetapi jarang direnungi secara mendalam. Allah tidak langsung melarang memukul atau mencaci, melainkan melarang ucapan paling ringan yang menunjukkan kejengkelan: “uffin” — “ah”. Sebuah ekspresi kecil, napas pendek, keluhan lirih. Jika yang selembut itu saja dilarang, maka bentakan, teriakan, apalagi kata-kata kasar, jelas lebih berat pelanggarannya.

Bentakan dan Keangkuhan yang Tersembunyi

Membentak orang tua bukan semata soal emosi. Ia sering lahir dari rasa lebih tahu, lebih benar, lebih berjasa. Anak merasa telah dewasa, mandiri, berpenghasilan, berpendidikan, lalu tanpa sadar menempatkan diri di atas ayah dan ibunya. Padahal, seluruh “kemandirian” itu berdiri di atas pengorbanan yang panjang dan senyap.

 

Ibu menahan sakit sembilan bulan, mempertaruhkan nyawa saat melahirkan. Ayah memikul beban hidup, sering dalam sunyi, agar dapur tetap berasap. Semua itu dilakukan jauh sebelum seorang anak mengenal kata “terima kasih”. Ketika kemudian seorang anak meninggikan suara, sesungguhnya ia sedang menegakkan keangkuhan di atas pengorbanan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan tegas:

Islam “Biasa Saja”: Ketika Surau Mulai Sepi dan Prinsip Diminta Menyingkir

> رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Keridaan Allah tergantung pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua.” (HR. At-Tirmidzi).²

 

Hadis ini tidak hanya bicara soal pahala, tetapi juga arah hidup. Banyak orang mengeluhkan sempitnya rezeki, gelisahnya hati, dan keretakan rumah tangga, tetapi jarang menoleh ke hubungan mereka dengan orang tua. Padahal, di sanalah sering tersimpan kunci keberkahan.

Ketika Orang Tua Tidak Sesuai Harapan

Sebagian orang berkilah, “Saya membentak karena orang tua saya salah, keras, atau tidak adil.” Islam tidak menutup mata bahwa orang tua juga manusia, bisa keliru, bahkan bisa menyakiti. Namun, kesalahan mereka tidak pernah menjadi legitimasi bagi durhaka kita.

 

Al-Qur’an bahkan memberikan panduan adab ketika orang tua berada pada posisi yang sangat ekstrem: mengajak kepada kesyirikan.

 

> وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau taati keduanya, tetapi pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqmān: 15).³

 

Ayat ini menunjukkan keseimbangan Islam: tegas dalam prinsip, lembut dalam akhlak. Tidak taat dalam maksiat, tetapi tetap santun dalam muamalah. Berbeda pendapat boleh, menolak perintah yang salah wajib, namun membentak tetap haram.

Dosa Besar yang Sering Diremehkan

Dalam daftar dosa besar, durhaka kepada orang tua berada pada posisi yang sangat tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda:

> أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ … الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa-dosa terbesar? … (yaitu) menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).⁴

 

Durhaka tidak selalu berupa tindakan besar. Nada tinggi, wajah masam, memotong pembicaraan, meremehkan nasihat, atau menjawab dengan sinis—semua itu termasuk bentuk ‘uqūq yang sering diremehkan. Ia tidak berdarah, tidak berbekas di tubuh, tetapi meninggalkan luka batin yang dalam.

 

Ulama salaf menaruh perhatian besar pada adab ini. Sebagian mereka enggan makan sambil bersandar ketika orang tua masih hidup, khawatir dianggap kurang hormat. Mereka menurunkan suara di hadapan ibu sebagaimana mereka menurunkan suara di hadapan guru. Bukan karena budaya, tetapi karena iman.

Dampak yang Melampaui Rumah

Membentak orang tua tidak berhenti pada satu momen. Ia membawa dampak berantai. Secara spiritual, ia mengeraskan hati dan menghapus keberkahan. Secara sosial, ia merusak struktur penghormatan dalam keluarga. Anak yang terbiasa membentak orang tuanya akan kesulitan membangun relasi yang sehat: di rumah tangganya, di lingkungan kerja, bahkan dalam kehidupan beragama.

 

Tidak sedikit rumah tangga retak karena seorang suami atau istri tumbuh tanpa adab kepada orang tua. Nada tinggi yang dulu diarahkan kepada ayah, kelak diarahkan kepada pasangan. Sikap meremehkan yang dulu ditujukan kepada ibu, kelak diwariskan kepada anak.

Taubat yang Tidak Cukup dengan Air Mata

Islam selalu membuka pintu kembali. Bagi siapa pun yang pernah membentak orang tuanya, jalan taubat tidak tertutup. Namun, taubat dalam perkara ini memiliki dimensi ganda: kepada Allah dan kepada manusia.

 

Taubat kepada Allah dilakukan dengan penyesalan, istigfar, dan tekad untuk berubah. Tetapi itu belum cukup tanpa memperbaiki hubungan dengan orang tua. Meminta maaf bukan formalitas, melainkan ibadah. Merendahkan suara, mengakui kesalahan tanpa dalih, dan menerima reaksi mereka dengan lapang dada adalah bagian dari penyucian jiwa.

 

Selain itu, taubat harus diwujudkan dalam amal: memperbanyak khidmah, membantu kebutuhan mereka, meluangkan waktu, dan menjaga lisan. Al-Qur’an mengajarkan doa yang sarat makna:

 

> رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika kecil.” (QS. Al-Isrā’: 24).⁵

 

Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi pengingat: dahulu kita lemah, kini mereka yang lemah. Dahulu kita merepotkan, kini mereka yang membutuhkan kesabaran.

Menurunkan Suara, Meninggikan Derajat

Kolom ini tidak hendak menafikan kompleksitas relasi keluarga. Ada orang tua yang keras, ada yang menyakitkan, ada yang meninggalkan trauma. Islam tidak memerintahkan menelan kezaliman. Tetapi Islam memerintahkan agar perjuangan kita melawan salah tetap dibingkai dengan akhlak.

 

Meninggikan suara mungkin memberi kepuasan sesaat. Namun, menurunkannya sering memberi keselamatan jangka panjang. Sebab di dalam suara yang lembut, tersimpan peluang turunnya rahmat. Di dalam lisan yang terjaga, tersimpan kemungkinan diampuninya dosa.

 

Jika hari ini orang tua kita masih hidup, itu berarti ladang birrul walidain masih terbentang. Jangan biarkan ladang itu kering oleh bentakan. Jangan tunggu pusara untuk menyesal. Turunkan suara. Lunakkan kata. Sebab boleh jadi, dari satu kalimat santun kepada ayah dan ibu, Allah menuliskan keberkahan yang mengubah seluruh arah hidup kita.

Catatan Kaki

  1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Isrā’: 23.

  2. HR. At-Tirmidzi no. 1899, dinilai hasan sahih.

 

  1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Luqmān: 15.

  2. HR. Al-Bukhari no. 2654 dan Muslim no. 87.

  3. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Isrā’: 24. (Tengku Iskandar: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.