Peristiwa di Gua Hira ribuan tahun silam mengubah arah sejarah peradaban manusia secara total. Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW dan menyampaikan perintah singkat namun sangat bertenaga: “Iqra!”. Perintah ini bukan sekadar kata biasa, melainkan fondasi utama bagi seluruh umat Islam. Melalui wahyu pertama ini, Allah SWT menegaskan bahwa Islam adalah agama yang berdiri di atas landasan ilmu pengetahuan Pentingnya Menuntut Ilmu dalam Islam.
Memahami Makna Luas di Balik Kata Iqra
Secara harfiah, “Iqra” berarti bacalah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa makna “Iqra” mencakup aktivitas yang jauh lebih luas daripada sekadar mengeja huruf. Membaca dalam konteks ini berarti menelaah, mengamati, meneliti, dan memahami fenomena alam semesta. Allah memerintahkan manusia untuk membaca ayat-ayat-Nya, baik yang tertulis dalam kitab suci maupun yang terbentang di alam raya.
Muslim yang memahami esensi “Iqra” tidak akan pernah berhenti belajar sepanjang hayat mereka. Mereka memandang dunia sebagai laboratorium besar untuk mengenal kebesaran Sang Pencipta. Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam menjadi identitas utama yang membedakan seorang mukmin sejati dengan yang lainnya.
Wahyu Pertama Sebagai Landasan Literasi
Dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5, Allah SWT berfirman:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Kutipan ini menunjukkan bahwa proses belajar merupakan anugerah terbesar dari Allah kepada manusia. Melalui perantaraan “kalam” atau pena, manusia bisa mentransfer pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa tradisi literasi dan belajar, umat Islam akan kehilangan obor penerang dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Mengapa Muslim Wajib Menjadi Pembelajar Sejati?
Ada beberapa alasan mendasar mengapa setiap individu Muslim harus memiliki semangat pembelajar yang tinggi. Pertama, ilmu pengetahuan merupakan jalan utama untuk memperkuat keimanan. Seseorang yang memiliki ilmu akan lebih mudah menyadari betapa teraturnya alam semesta ini. Kesadaran tersebut kemudian akan menuntun hati untuk semakin tunduk dan patuh kepada kekuasaan Allah SWT.
Kedua, ilmu pengetahuan memberikan kemuliaan dan derajat yang tinggi bagi pemiliknya. Al-Qur’an menjanjikan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa tingkat. Muslim pembelajar akan selalu relevan dengan perkembangan zaman dan mampu memberikan solusi bagi tantangan masyarakat.
Ketiga, belajar adalah bentuk ibadah yang memiliki nilai pahala sangat besar. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan belajar, kita sebenarnya sedang menjalankan ketaatan kepada perintah Allah yang paling awal.
Menghidupkan Kembali Tradisi Intelektual Islam
Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah mencapai masa keemasan karena semangat “Iqra” yang membara. Ilmuwan Muslim masa lalu tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga menguasai kedokteran, astronomi, dan matematika. Mereka memadukan kecerdasan spiritual dengan kecerdasan intelektual secara harmonis untuk memajukan umat manusia.
Saat ini, umat Islam perlu membangkitkan kembali semangat menjadi pembelajar sejati tersebut. Kita tidak boleh cepat puas dengan pengetahuan yang sudah kita miliki sekarang. Dunia terus berubah dengan cepat, dan hanya para pembelajar yang mampu bertahan serta memimpin perubahan tersebut. Pembelajar sejati selalu membuka diri terhadap informasi baru, melakukan riset, dan berpikir kritis sebelum mengambil keputusan.
Menutup Celah Ketertinggalan dengan Ilmu
Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam juga berkaitan erat dengan martabat umat di mata dunia. Ketertinggalan teknologi dan ekonomi seringkali berakar dari rendahnya minat baca dan semangat belajar. Oleh karena itu, menjadikan “Iqra” sebagai gaya hidup adalah solusi nyata untuk bangkit dari keterpurukan.
Setiap Muslim harus memiliki jadwal rutin untuk membaca buku, mengikuti kursus, atau berdiskusi mengenai hal-hal bermanfaat. Kita harus memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana untuk menyerap ilmu pengetahuan yang positif. Jangan biarkan waktu terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tidak menambah nilai pengetahuan atau keimanan kita.
Kesimpulan
Wahyu pertama “Iqra” adalah panggilan abadi bagi setiap Muslim untuk terus bergerak maju. Menjadi pembelajar sejati bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah tanggung jawab moral dan religius. Mari kita jadikan setiap detik kehidupan sebagai kesempatan untuk membaca, memahami, dan mengamalkan ilmu pengetahuan. Dengan semangat belajar yang tiada padam, kita dapat membangun masa depan peradaban Islam yang lebih cerah dan bermartabat.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
