Budaya bullying dan penyebaran hoaks kini menjadi tantangan besar dalam kehidupan masyarakat modern. Media sosial sering kali memperparah fenomena ini melalui komentar jahat dan informasi palsu. Islam memberikan panduan lengkap melalui Al-Qur’an untuk menghadapi masalah sosial ini. Salah satunya tertuang dengan sangat indah dalam Surah Al-Hujurat. Para ulama sering menyebut surah ini sebagai “Surah Akhlak” atau pedoman adab bagi umat manusia.
Pentingnya Tabayyun dalam Menghadapi Hoaks
Langkah pertama mencegah kekacauan informasi adalah dengan melakukan verifikasi. Allah SWT memberikan peringatan tegas dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Ayat ini memerintahkan kita untuk melakukan tabayyun atau pemeriksaan ulang. Masyarakat saat ini sering kali langsung membagikan informasi tanpa mengecek sumbernya. Tindakan ceroboh ini dapat memicu fitnah dan merugikan pihak lain. Dengan menerapkan tabayyun, kita bisa memutus rantai penyebaran hoaks secara efektif. Pastikan Anda hanya mempercayai informasi dari narasumber yang kredibel dan terpercaya.
Menghapus Budaya Bullying Melalui Penghormatan Sesama
Bullying atau perundungan sering bermula dari rasa sombong dan merendahkan orang lain. Surah Al-Hujurat ayat 11 secara spesifik melarang perilaku negatif ini. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…”
Ayat ini melarang kita menghina, mencela, atau memanggil orang lain dengan julukan buruk. Tindakan merendahkan fisik atau status sosial seseorang termasuk dalam kategori perundungan. Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang hanya terletak pada tingkat ketakwaannya. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib menjaga lisan dan tulisan mereka di media sosial. Menghargai orang lain adalah kunci untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan damai.
Menjaga Prasangka dan Privasi di Era Digital
Selain larangan menghina, Islam juga memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka buruk. Hal ini tertuang jelas dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain…”
Prasangka buruk atau su’uzhan sering menjadi akar dari tindakan bullying. Ketika seseorang berprasangka buruk, mereka akan cenderung mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus). Di dunia maya, tindakan ini sering muncul dalam bentuk mengintip privasi atau stalking untuk mencari aib. Allah SWT menyamakan perbuatan menggunjing (ghibah) dengan memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Perumpamaan ini menunjukkan betapa kejinya perilaku merusak reputasi orang lain melalui lisan atau jempol kita.
Implementasi Tafsir Al-Hujurat dalam Kehidupan Sehari-hari
Kita perlu menerapkan nilai-nilai Surah Al-Hujurat dalam setiap interaksi sosial. Pertama, berhentilah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Kedua, gunakan bahasa yang santun saat berkomunikasi dengan siapa pun. Ketiga, hindari memberikan komentar yang mengandung unsur hinaan atau ejekan.
Menerapkan etika ini akan melindungi diri kita dari dosa dan penyesalan. Masyarakat yang beradab lahir dari individu yang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Surah Al-Hujurat bukan sekadar bacaan dalam salat. Surah ini adalah konstitusi akhlak untuk menyelamatkan peradaban manusia dari kehancuran moral. Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai filter utama sebelum kita berbicara atau mengunggah konten di dunia maya.
Kesimpulan
Tafsir Surah Al-Hujurat memberikan solusi konkret bagi masalah bullying dan hoaks. Dengan melakukan tabayyun, kita bisa mencegah tersebarnya berita bohong. Dengan menghindari olok-olok, kita bisa menghentikan budaya perundungan. Terakhir, dengan menjaga prasangka, kita bisa menghormati privasi dan kehormatan sesama manusia. Marilah kita kembali kepada tuntunan Ilahi demi kehidupan yang lebih tenang dan berkah.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
