Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO kini menghantui banyak orang. Media sosial memperparah kondisi ini dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita sering merasa tertinggal saat melihat pencapaian orang lain. Perasaan cemas muncul ketika melihat unggahan liburan atau kesuksesan teman. Padahal, Al-Quran telah memberikan solusi elegan melalui konsep syukur.
Memahami Akar Masalah FOMO
FOMO adalah kecemasan sosial yang berasal dari perasaan kekurangan. Seseorang merasa bahwa kehidupan orang lain jauh lebih menarik. Mereka takut melewatkan momen berharga yang orang lain alami. Hal ini sering memicu stres dan rasa rendah diri.
Dunia digital memaksa kita terus membandingkan diri dengan orang lain. Kita sering lupa bahwa unggahan di media sosial hanyalah potongan kecil. Orang hanya menampilkan sisi terbaik dari hidup mereka saja. Di sinilah letak jebakan psikologis yang sangat berbahaya bagi mental.
Syukur Sebagai Antidote Alami
Al-Quran menawarkan perspektif yang berbeda tentang kebahagiaan. Kunci utamanya adalah rasa syukur atas segala nikmat Allah. Syukur bukan sekadar ucapan terima kasih di bibir saja. Ia adalah kesadaran hati akan keberlimpahan yang kita miliki.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
“Lain syakartum la azidannakum, wala-in kafartum inna ‘adzabi lasyadid.”
Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Ayat ini menegaskan bahwa syukur membawa tambahan keberkahan. Ketika kita bersyukur, fokus pikiran kita akan berubah total. Kita tidak lagi melihat apa yang tidak kita miliki. Sebaliknya, kita merayakan apa yang sudah ada dalam genggaman.
Mengubah Fokus dari Orang Lain ke Diri Sendiri
FOMO membuat mata kita selalu tertuju pada layar ponsel. Syukur mengajak kita kembali melihat ke dalam diri sendiri. Al-Quran mengajarkan kita untuk selalu mengingat nikmat-nikmat Allah yang luas. Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 18:
“Wa in ta’uddu ni’matallahi la tuhshuha.”
Artinya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
Dengan merenungi ayat ini, kita menyadari satu hal penting. Nikmat Tuhan sangat banyak dan tidak terbatas jumlahnya. Kesehatan, napas, dan keluarga adalah nikmat yang sering terabaikan. Fokus pada nikmat ini akan melunturkan rasa cemas berlebih.
Langkah Praktis Mengatasi FOMO Secara Islami
Bagaimana cara mengaplikasikan syukur untuk melawan FOMO? Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa Anda terapkan:
-
Lakukan Digital Detox Secara Berkala.
Batasi waktu penggunaan media sosial setiap hari secara ketat. Berikan waktu bagi jiwa untuk beristirahat dari keriuhan duniawi. -
Praktikkan Jurnal Syukur.
Tuliskan tiga hal yang Anda syukuri setiap malam hari. Cara ini melatih otak untuk menemukan kebaikan dalam hidup. -
Ingat Konsep Qana’ah.
Qana’ah berarti merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Sifat ini adalah benteng terkuat untuk melawan arus konsumerisme. -
Berdoa Mohon Ketenangan Hati.
Mintalah kepada Allah agar hati selalu merasa cukup dan tenang. Hati yang tenang tidak akan mudah goyah oleh tren.
Syukur Membawa Keberkahan yang Nyata
Orang yang bersyukur cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Mereka tidak merasa perlu bersaing dengan standar hidup orang lain. Mereka memahami bahwa setiap manusia memiliki garis waktu masing-masing. Allah telah menetapkan rezeki bagi setiap hamba-Nya secara adil.
Syukur juga memperluas kapasitas hati kita untuk menerima kebahagiaan. Saat kita berhenti mengejar apa yang orang lain miliki, kita bebas. Kita bebas menikmati hidup yang sedang kita jalani saat ini. Ini adalah bentuk kemerdekaan jiwa yang sesungguhnya dalam Islam.
Kesimpulan
Mengatasi FOMO dengan perspektif syukur Al-Quran adalah jalan menuju kedamaian. Kita tidak perlu merasa tertinggal dalam perlombaan dunia yang semu. Fokuslah pada pertumbuhan diri dan kedekatan kepada Sang Pencipta. Ingatlah bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita lihat. Kebahagiaan sejati ada pada seberapa besar rasa syukur di hati.
Mulailah hari ini dengan melihat ke dalam diri Anda sendiri. Temukan nikmat-nikmat kecil yang selama ini mungkin Anda lupakan. Dengan bersyukur, Anda sedang menyembuhkan jiwa dari racun FOMO. Mari jadikan syukur sebagai gaya hidup utama di era digital.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
