SURAU.CO – Di tengah zaman yang menuhankan perasaan, menikah sering direduksi menjadi urusan “cocok” dan “nyaman”. Ukurannya ialah degup jantung, bukan kedalaman iman. Akibatnya, ketika rasa menurun, ikatan pun goyah. Padahal, dalam Islam, menikah dengan yang dicintai bukanlah puncak cerita, melainkan pintu masuk menuju tanggung jawab besar: menjadikan cinta sebagai jalan ibadah.
Tidak semua orang diberi takdir menikah dengan orang yang dicintainya. Sebagian menikah karena pertimbangan keluarga, sebagian karena kematangan usia, sebagian karena keadaan. Namun, bagi mereka yang Allah karuniakan kesempatan menikah dengan yang dicintai, sesungguhnya ia sedang memegang dua nikmat sekaligus: nikmat rasa dan nikmat syariat. Rasa menemukan jalannya, dan syariat memberi arah agar rasa tidak tersesat.
Pernikahan Sebagai Tanda Kebesaran Allah
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah).”¹
Ayat ini tidak menyebut pernikahan sebagai kontrak sosial belaka, tetapi sebagai ayat, tanda kebesaran Allah. Di sana ada sakinah (ketenteraman), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Menikah dengan yang dicintai berarti mawaddah itu hadir sejak awal. Namun, Islam tidak berhenti pada mawaddah. Ia harus ditopang oleh rahmah kasih yang sanggup bertahan saat rasa sedang menurun.
Di sinilah banyak pasangan keliru membaca cinta. Mereka menyangka menikah dengan yang dicintai akan membuat hidup selalu berbunga. Padahal, pernikahan justru memperlihatkan wajah asli manusia: lelah, luka, kekurangan, dan perbedaan. Cinta pra-nikah sering kali hidup dari bayangan. Cinta pasca-nikah hidup dari kenyataan. Dan kenyataan menuntut kedewasaan iman.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
> لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci satu akhlaknya, ia akan ridha pada akhlak yang lain.”²
Hadis ini adalah fondasi psikologis pernikahan. Menikah dengan yang dicintai bukan berarti akan selalu menyukai semua sifatnya. Akan ada sisi yang mengecewakan, ada sikap yang melelahkan. Tetapi iman mendidik agar manusia tidak membatalkan seluruh kebaikan hanya karena satu kekurangan. Cinta yang matang bukan cinta yang menuntut kesempurnaan, tetapi cinta yang sanggup mengelola perbedaan.
Bertanggungjawab Dihadapan Allah
Lebih jauh, Islam menggeser orientasi cinta: dari sekadar rasa menuju amanah. Pernikahan bukan hanya tentang “aku bahagia bersamamu”, tetapi tentang “aku bertanggung jawab atasmu di hadapan Allah.” Allah Ta‘ala berfirman:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”³
Ayat ini menjadikan keluarga sebagai proyek keselamatan. Maka, menikah dengan yang dicintai seharusnya tidak berhenti pada romantisme, tetapi berlanjut pada misi spiritual: saling menolong dalam ketaatan, saling mengingatkan dalam kelalaian, dan saling menguatkan dalam ujian.
Betapa indah ketika cinta bertemu visi akhirat. Ketika suami mencintai istrinya, lalu membangunkannya untuk shalat, bukan hanya memujinya. Ketika istri mencintai suaminya, lalu mendoakannya dalam sujud, bukan hanya merindukannya. Inilah cinta yang diberkahi: cinta yang menumbuhkan takwa, bukan hanya tawa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”⁴
Hadis ini menggeser ukuran keutamaan. Bukan di podium, bukan di keramaian, tetapi di dalam rumah. Menikah dengan yang dicintai seharusnya melahirkan versi terbaik dari akhlak seseorang, bukan justru membuka pintu emosi terburuknya. Jika cinta hanya menghasilkan posesif, cemburu buta, dan kekerasan kata, maka ada yang salah dalam memaknainya.
Naik Kelas Menjadi Ibadah
Menikah dengan yang dicintai bahkan sering kali lebih berat daripada menikah tanpa cinta. Mengapa? Karena harapan biasanya lebih tinggi. Rasa memiliki biasanya lebih kuat. Dan kekecewaan, jika tidak ditopang iman, biasanya lebih dalam. Di sinilah cinta diuji: apakah ia akan berubah menjadi ego, atau naik kelas menjadi ibadah.
Islam tidak menolak cinta. Bahkan Rasulullah ﷺ mengakui fitrah ini. Ketika ditanya tentang siapa yang paling beliau cintai, beliau menjawab, “‘Aisyah.”⁵ Tetapi cinta beliau tidak menjadikannya zalim, tidak menjadikannya abai dari keadilan, dan tidak menjadikannya lupa dari misi kenabian. Inilah teladan: cinta yang hidup di bawah cahaya wahyu.
Dalam konteks masyarakat hari ini, menikah dengan yang dicintai sering dipromosikan sebagai tujuan akhir. Seolah-olah, jika telah menikah dengan orang yang dicinta, maka seluruh masalah selesai. Padahal, justru setelah akad, pekerjaan besar dimulai: mengelola perbedaan, merawat komunikasi, menjaga kesetiaan, dan menumbuhkan spiritualitas rumah tangga.
Cinta yang tidak dirawat akan menua sebelum waktunya. Ia akan terkikis oleh rutinitas, oleh masalah ekonomi, oleh perbedaan karakter, dan oleh luka-luka kecil yang dibiarkan menumpuk. Tetapi cinta yang dirawat dengan iman akan tumbuh. Ia mungkin tidak selalu membara, tetapi ia akan menghangatkan. Ia mungkin tidak selalu manis, tetapi ia akan menenangkan.
Kualitas Iman yang Membuat Cinta Menjadi Perhiasan
Rasulullah ﷺ bersabda:
> الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah.”⁶
Hadis ini sering dibaca dari sisi memilih pasangan. Tetapi ia juga mengandung pesan bagi yang telah menikah: bahwa kualitas imanlah yang membuat cinta menjadi perhiasan, bukan semata-mata rupa dan rasa. Menikah dengan yang dicintai akan menemukan maknanya ketika cinta itu ditopang oleh keshalihan.
Akhirnya, menikah dengan yang dicintai bukan tentang menemukan orang yang selalu membuat kita bahagia. Tetapi tentang menemukan orang yang bersedia berjalan bersama kita menuju Allah, bahkan ketika bahagia sedang menjauh. Bukan tentang siapa yang paling membuat kita tersenyum, tetapi siapa yang paling membantu kita tetap bersujud.
Karena dalam Islam, tujuan tertinggi pernikahan bukanlah “aku mencintaimu”, melainkan “aku ingin kita sama-sama selamat.” Selamat imannya, selamat keluarganya, dan kelak dengan rahmat Allah, selamat berkumpul kembali di surga-Nya.
Catatan Kaki (Footnote)
- QS. Ar-Rum: 21.
-
HR. Muslim, no. 1469.
- QS. At-Tahrim: 6.
-
HR. At-Tirmidzi, no. 3895; Ibnu Majah, no. 1977.
-
HR. Al-Bukhari, no. 3662; Muslim, no. 2384.
-
HR. Muslim, no. 1467. (Tengku Iskandar: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
