SURAU.CO – Di Minangkabau, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah adat tak tertulis. Ia hadir di lapau kecil di tikungan sawah, di beranda rumah gadang, dan di serambi surau setelah Subuh. Kopi diseruput perlahan, sementara percakapan mengalir: tentang panen, anak rantau, harga karet, hingga soal iman.
Kopi di kampung bukan hanya menghangatkan tubuh, tetapi menjaga nyala pertemuan. Ia menjadi jembatan antara generasi, pengikat sunyi, dan sering kali pintu masuk dakwah yang paling halus.
Al-Qur’an sejak awal mengarahkan manusia untuk tidak memandang remeh apa yang ia makan dan minum:
> فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ
“Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya.”¹
Memperhatikan, bukan sekadar melihat. Tetapi merenung. Dari mana hidup itu datang, bagaimana hidup itu membentuk mereka, dan apa pelajaran yang dapat kita petik dari mereka? Kopi pun demikian.
Biji yang Digiling, Jiwa yang Ditempa
Tidak ada kopi tanpa kehancuran. Petik biji yang keras, jemur, sangrai, lalu giling hingga lumat. Dari kehancuran itulah muncul aroma. Dari pahit itulah lahir kenikmatan.
Begitulah kehidupan manusia kampung. Kesulitan hidup telah membuat banyak petani, nelayan, buruh kebun, dan perantau Minang menemukan kedalaman hidup mereka. Gagal panen. Anak sakit. Harga jatuh. Rindu kampung. Semua menghantam. Semua menggiling.
Allah telah mengingatkan hukum ini:
> وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.”²
Seperti kopi, tidak semua yang pahit itu buruk. Ada pahit yang mendidik. Ada pahit yang membersihkan jiwa. Dan Ada pahit yang membangunkan manusia dari kelalaian.
Lapau Kopi: Madrasah Rakyat
Di Minangkabau, lapau kopi sering lebih ramai daripada aula. Di sanalah orang kampung berkumpul tanpa undangan. Dari sanalah isu sosial menyebar. Dan Dari sanalah opini lahir. Dari sanalah, diam-diam, nilai ditanamkan.
Tak sedikit penyuluh, imam, atau guru surau yang memulai dakwah bukan dari mimbar tinggi, tetapi dari bangku lapau. Duduk sejajar. Menyeruput kopi yang sama. Mendengar lebih dulu, baru bicara. Inilah dakwah kampung: tidak menggurui, tetapi menyertai.
Rasulullah ﷺ sendiri mencontohkan metode ini. Beliau hadir di pasar, di rumah sahabat, di jalan, di majelis, dan dalam jamuan sederhana. Dakwah beliau bukan hanya khutbah, tetapi pergaulan.
Allah berfirman:
> ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”³
Lapau kopi, bila dihidupkan dengan hikmah, dapat menjadi perpanjangan tangan surau. Tempat menyentuh mereka yang jarang disentuh mimbar.
Pahit bagi Lidah, Berat bagi Nafsu
Kopi tidak memikat pada seruput pertama. Ia pahit. Namun justru di sanalah letak kenikmatannya. Demikian pula iman.
Kejujuran pahit. Istiqamah berat. Menundukkan pandangan tidak selalu manis. Menjaga shalat Subuh di surau kampung, ketika dingin dan gelap, bukan perkara ringan.
Tetapi Rasulullah ﷺ telah mengingatkan hukum besar kehidupan:
> حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (oleh hawa nafsu), dan neraka dikelilingi oleh syahwat.”⁴
Kopi mengajarkan lidah untuk menerima pahit. Iman mengajarkan jiwa untuk menerima beban. Keduanya sama-sama menuntut kedewasaan.
Kopi dan Dzikir Subuh
Di banyak kampung Minangkabau, ada tradisi yang hampir hilang: Subuh berjamaah, zikir singkat, lalu kopi bersama di serambi surau. Tidak resmi. Tidak terjadwal. Tetapi hidup.
Di situlah ayat dibaca pelan. Masalah keluarga disampaikan lirih. Anak muda ditegur tanpa dimarahi. Orang tua didengar tanpa ditinggikan suara.
Allah memuji orang-orang yang memadukan dzikir dan tafakkur:
> الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan penciptaan langit dan bumi.”⁵
Kopi sering menjadi teman tafakkur. Tetapi ia baru bernilai ibadah ketika mengantar kepada dzikir, bukan menggantikannya.
Syukur yang Sering Terlupa
Dalam secangkir kopi kampung, ada banyak tangan: petani yang menanam, ibu yang menjemur, pedagang yang mengangkut, peracik yang menyeduh. Dan di atas semuanya, ada takdir Allah yang menumbuhkan, menurunkan hujan, dan menjaga rasa.
Namun betapa sering kopi diminum tanpa satu kalimat pun syukur.
Padahal Allah berfirman:
> يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.”⁶
“Halal” menjaga hukum. “Thayyib” menjaga keberkahan. Dan syukur menjaga jiwa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya Allah ridha kepada seorang hamba yang ketika makan ia memuji-Nya, dan ketika minum ia memuji-Nya.”⁷
Bisa jadi, kopi yang disertai hamdalah lebih mulia daripada minuman mahal yang ditelan tanpa kesadaran.
Antara Tradisi dan Kelalaian
Namun kopi juga membawa peringatan. Tidak sedikit lapau yang berubah dari ruang silaturahim menjadi ruang ghibah. Dari tempat diskusi menjadi tempat mencela. Dari perpanjangan surau menjadi pesaingnya.
Islam tidak mengharamkan kopi. Tetapi Islam mengharamkan kelalaian yang lahir darinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”⁸
Kamu boleh terus menyeruput kopi. Tetapi kamu harus menjaga lidah. Kamu harus menghormati waktu. Dan kamu harus mengutamakan shalat.
Penutup: Menghidupkan Surau dengan Secangkir Kopi
Minangkabau tidak kekurangan masjid. Tetapi ia sering kekurangan pertemuan. Kopi dapat menjadi jembatan. Lapau dapat menjadi pintu. Surau harus tetap menjadi pusat.
Kopi tidak akan pernah menggantikan iman. Tetapi ia bisa mengantarkan kepadanya.
Maka jika suatu pagi di kampung engkau memegang secangkir kopi, jangan hanya hirup uapnya. Hirup pula maknanya. Bacalah pahitnya sebagai nasihat. Hangatnya sebagai rahmat. Hitamnya sebagai kedalaman.
Dan jadikan ia bukan hanya minuman, tetapi undangan: kembali ke surau, kembali ke dzikir, kembali ke jiwa kampung yang beriman.
Catatan Kaki (Footnote)
- QS. ‘Abasa (80): 24.
-
QS. Al-Baqarah (2): 155.
- QS. An-Nahl (16): 125.
-
HR. Muslim, no. 2822.
- QS. Ali ‘Imran (3): 191.
-
QS. Al-Baqarah (2): 168.
-
HR. Muslim, no. 2734.
-
HR. At-Tirmidzi, no. 2317; Hasan. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
