SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Jam Dinding Dan Amanah Waktu: Ketika Benda Diam Menjadi Pemberi Nasihat Paling Setia

Jam Dinding Dan Amanah Waktu: Ketika Benda Diam Menjadi Pemberi Nasihat Paling Setia

Jam Dinding Dan Amanah Waktu: Ketika Benda Diam Menjadi Pemberi Nasihat Paling Setia
Jam Dinding Dan Amanah Waktu: Ketika Benda Diam Menjadi Pemberi Nasihat Paling Setia

 

SURAU.CO – Ia tergantung diam di dinding. Tidak menegur. Tidak memanggil. Serta Tidak memaksa. Namun jarumnya terus bergerak. Pelan, pasti, dan tak pernah kembali. Itulah jam dinding. Benda sederhana yang hampir selalu ada di rumah, sekolah, kantor, dan masjid tetapi paling sering luput dibaca maknanya.

 

Kita menoleh kepadanya hanya ketika terburu-buru. Kita memotretnya ketika rusak. Dan Kita menggantinya ketika mati. Selebihnya, ia menjadi latar. Padahal sesungguhnya, jam dinding adalah salah satu pengingat paling jujur tentang hidup: bahwa waktu terus berjalan, dan manusia terus berkurang.

 

Sepuluh Ramadhan: Meluruskan Niat, Menyiapkan Hati

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā bahkan bersumpah dengan waktu:

> وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”¹

 

Jam dinding di ruang tamu, di surau kampung, atau di kantor nagari seakan mengulang sumpah itu dalam bahasa sunyi: engkau sedang berkurang.

Bedanya Selamat dengan Islam

 

Detik yang Tidak Pernah Menunggu

Tidak ada satu pun jarum jam yang pernah berhenti menunggu manusia. Ia tidak peduli apakah seseorang sedang tertawa, berdagang, tertidur, atau tenggelam dalam dosa. Detik tetap melangkah.

 

Begitulah hakikat umur. Ia tidak melambat karena kita belum siap. Dan ia tidak berhenti karena kita ingin menunda. Ia tidak mundur karena kita menyesal.

 

Islam “Biasa Saja”: Ketika Surau Mulai Sepi dan Prinsip Diminta Menyingkir

Allah menggambarkan penyesalan itu kelak:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’”²

 

Tetapi jam tidak pernah mundur. Permintaan tidak pernah dikabulkan. Kesempatan hanya sekali.

 

Jam dinding mengajarkan satu kebenaran keras: hidup bukan tentang berapa lama, tetapi tentang bagaimana ia diisi.

 

Jam Dinding di Masjid: Penjaga Disiplin Ruhani

Di masjid-masjid kampung, jam dinding hampir selalu digantung di depan. Dekat mihrab. Dan Dekat mimbar. Dekat jadwal shalat. Ia menjadi saksi: siapa yang datang sebelum azan, siapa yang selalu terlambat, dan siapa yang perlahan menghilang.

 

Shalat dalam Islam tidak dilepaskan dari waktu. Bahkan Allah menegaskan:

> إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.”³

 

Jam dinding di masjid bukan sekadar alat. Ia adalah penjaga disiplin ruhani. Ia menegur tanpa suara setiap kali manusia menunda-nunda. Serta, Ia mengingatkan tanpa emosi setiap kali jamaah berkurang.

 

Tak jarang, jam itu pula yang menjadi saksi azan yang sepi, shaf yang renggang, dan imam yang menua. Ia melihat generasi berganti, tetapi jarumnya tetap setia.

 

Jam Dinding di Rumah: Saksi yang Tidak Pernah Bersaksi Palsu

Di rumah, jam dinding lebih sunyi lagi. Ia melihat semuanya: shalat yang diakhirkan, makan yang berlarut, anak-anak yang tumbuh, orang tua yang menua, dan tamu yang lupa waktu.

 

Ia tidak memihak. Dan ia tidak memuji. Ia tidak memaki. Tetapi ia mencatat.

 

Allah mengingatkan bahwa seluruh umur akan dimintai pertanggungjawaban:

 

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi siapa yang ingin mengambil pelajaran atau bersyukur.”

 

Jam dinding di rumah adalah tafsir visual dari ayat ini: pergantian yang tidak pernah lelah, tetapi sering diabaikan.

 

Mentalitas Waktu dan Kemunduran Umat

Umat Islam dahulu dikenal sebagai umat yang paling menghargai waktu. Ulama menulis jadwal harian. Para penuntut ilmu mencatat detik. Dan Para mujahid menghitung jam. Para pedagang menjaga tempo. Para imam memelihara ketepatan.

 

Hari ini, jam ada di tangan, di saku, di layar, di dinding. Tetapi justru di situlah paradoksnya: semakin banyak jam, semakin sedikit rasa waktu.

 

Keterlambatan dianggap biasa. Penundaan dianggap lumrah. Pemborosan waktu dianggap hiburan.

 

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan penyakit ini jauh hari:

> نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”

 

Jam dinding di kampung seharusnya tidak hanya menjadi hiasan, tetapi penanda peradaban. Sebab umat yang menyia-nyiakan waktu, sedang menggali kemundurannya sendiri.

 

Jarum Jam dan Fase Umur

Perhatikan jam dinding. Jarum detik berlari cepat. Jarum menit lebih tenang. Serta, jarum jam lebih lambat. Tetapi semuanya menuju arah yang sama.

 

Begitulah hidup. Masa kecil terasa lambat. Dewasa terasa cepat. Tua terasa lebih cepat lagi. Tetapi semuanya menuju satu titik: pertemuan dengan Allah.

 

Allah berfirman:

> كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati.”

 

Jam dinding tidak pernah mengumumkan: “Ini detik terakhir.” Ia berjalan biasa saja. Tetapi bisa jadi, satu putarannya adalah putaran terakhir seseorang di dunia.

 

Hasan al-Baṣrī رحمه الله berkata: “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap satu hari pergi, maka sebagian dari dirimu telah pergi.” Jam dinding menampilkan kalimat itu tanpa suara.

 

Sibuk Belum Tentu Bernilai

Banyak orang bergerak seperti jarum jam, tetapi tidak pernah naik derajat. Dan banyak yang berputar, tetapi tidak pernah mendekat. Banyak yang sibuk, tetapi kosong.

 

Allah telah meletakkan ukuran yang jelas:

> فَمَن كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا

“Barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh.”

 

Jam dinding mengajarkan keteraturan. Tetapi iman mengajarkan arah. Waktu yang rapi tanpa amal hanya melahirkan lelah. Waktu yang diisi iman melahirkan bekal.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

> لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.”⁸

Jam dinding hari ini akan menjadi saksi di akhirat.

 

RENUNGAN KHUSUS: “DETIK YANG HILANG”

Bayangkan satu detik. Terlalu kecil untuk disesali. Terlalu cepat untuk ditangisi. Tetapi detik itulah bahan baku umur.

 

Satu detik hilang, tak pernah kembali.

Enam puluh detik menjadi satu menit.

Enam puluh menit menjadi satu jam.

Dua puluh empat jam menjadi satu hari.

Tiga ratus enam puluh lima hari menjadi satu tahun.

Dan tiba-tiba, rambut memutih.

 

Detik yang diisi dzikir akan berbicara.

Detik yang diisi maksiat akan bersaksi.

Juga Detik yang diisi kelalaian akan menuntut.

 

Jam dinding di dinding rumahmu hari ini sedang memakan umurmu.

Bukan karena ia jahat.

Tetapi karena engkau masih hidup.

 

Pertanyaannya bukan: “Jam berapa sekarang?”

Tetapi: “Apa yang telah kau berikan kepada Allah pada jam ini?”

 

Menghidupkan Dakwah Melalui Kesadaran Waktu

Jam dinding seharusnya tidak hanya digantung, tetapi “dihidupkan.” Ia bisa menjadi media dakwah paling sunyi.

 

Di rumah: jadikan ia pengingat shalat tepat waktu.

Dimasjid: jadikan ia saksi disiplin jamaah.

Di sekolah: jadikan ia penanam adab.

Di kantor: jadikan ia pengawal amanah.

 

Sebab dakwah bukan hanya mimbar. Ia juga benda. Dan Ia juga suasana. Ia juga kebiasaan.

 

Ketika umat kembali menghormati waktu, umat sedang menyiapkan kebangkitan.

Penutup: Biarkan Jam Dinding Terus Menasihati

Jam dinding tidak bisa berkhutbah. Tetapi ia berdakwah setiap detik. Ia mengingatkan yang lalai, menegur yang menunda, dan menghibur yang sadar.

 

Mungkin karena itulah ia selalu diletakkan tinggi. Agar ia melihat semua. Agar ia menyapa siapa pun. Serta, Agar ia menjadi saksi ketika manusia lupa.

 

Maka jika hari ini engkau menoleh ke jam dinding di rumahmu atau di surau kampungmu, jangan hanya membaca angka. Bacalah pesan.

 

Bahwa umur sedang berkurang.

Dan Bahwa kesempatan sedang berjalan.

Bahwa pintu taubat masih terbuka, tetapi tidak selamanya.

 

Karena jarum jam tidak pernah lelah.

Tetapi manusia sering terlambat.

CATATAN KAKI (FOOTNOTE)

  1. QS. Al-‘Ashr (103): 1–2.

  2. QS. Al-Mu’minūn (23): 99–100.

 

  1. QS. An-Nisā’ (4): 103.

  2. QS. Al-Furqān (25): 62.

 

  1. HR. al-Bukhārī, no. 6412.

  2. QS. Āli ‘Imrān (3): 185.

 

  1. QS. Al-Kahfi (18): 110.

  2. HR. at-Tirmiżī, no. 2417; hasan shahih. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.