SURAU.CO – KH Abdurrahman Wahid, atau yang lebih akrab kita sapa Gus Dur, bukan sekadar mantan Presiden Indonesia ke-4. Ia adalah seorang bapak bangsa, pemikir Islam moderat, dan pejuang kemanusiaan yang gigih. Pemikirannya mengenai nilai demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) telah menjadi oase di tengah keberagaman Indonesia. Hal ini dikarenakan bagi Gus Dur, demokrasi dan Islam bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan justru merupakan dua entitas yang bisa saling menguatkan sehingga mampu menjunjung tinggi martabat manusia.
Siapa Sosok Gus Dur dalam Konteks Demokrasi?
Gus Dur lahir dalam tradisi pesantren yang sangat kuat. Sebagai cucu dari KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), ia memiliki akar keislaman yang sangat dalam. Namun, pendidikannya yang melanglang buana hingga ke Mesir, Irak, dan Eropa membentuk perspektifnya yang luas tentang dunia internasional, terutama mengenai sistem politik demokrasi.
Dalam pandangan Gus Dur, demokrasi adalah sistem terbaik yang memungkinkan nilai-nilai keadilan ditegakkan. Ia meyakini bahwa kedaulatan rakyat merupakan perwujudan dari amanah Tuhan untuk menciptakan kesejahteraan di muka bumi. Oleh karena itu, bagi Gus Dur, memperjuangkan demokrasi adalah bagian dari menjalankan ibadah.
Pilar Utama Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Pemikiran Gus Dur
Sebab, bagi beliau, berbicara tentang HAM bukan sekadar teori, melainkan secara mendasar berarti membicarakan bagaimana memberikan perlindungan nyata terhadap kelompok yang lemah serta masyarakat minoritas. Beliau tidak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan latar belakang agama, suku, maupun ras. Berikut adalah beberapa poin utama pemikiran Gus Dur mengenai HAM:
1. Keadilan untuk Semua Tanpa Terkecuali
Gus Dur sering menekankan bahwa keadilan tidak boleh tebang pilih. Ketika seseorang menzalimi satu kelompok, tindakan tersebut secara langsung mengancam esensi kemanusiaan itu sendiri. Gus Dur secara gigih menerapkan prinsip ini terutama saat ia berusaha membela hak-hak penganut Tionghoa di Indonesia, karena pada masa itu rezim Orde Baru sering kali melakukan diskriminasi serta meminggirkan mereka dari ruang publik.
2. Kebebasan Beragama sebagai Hak Dasar
Sebagai seorang tokoh Islam yang berpengaruh, Gus Dur dikenal sangat tegas dalam menyikapi urusan keyakinan. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa negara sejatinya tidak memiliki hak untuk mengintervensi hubungan yang bersifat pribadi antara manusia dengan Tuhannya. Selain itu, ia menegaskan bahwa kebebasan beragama merupakan bagian mutlak dari Hak Asasi Manusia (HAM). Maka dari itu, aspek tersebut tidak hanya harus dijamin secara hukum oleh konstitusi, tetapi juga wajib dilindungi secara aktif oleh setiap warga negara tanpa terkecuali.
3. Perlindungan Terhadap Kaum Minoritas
Salah satu kutipan terkenal dari Gus Dur adalah, “Tidak ada jabatan di dunia ini yang layak dipertahankan dengan pertumpahan darah.” Kalimat ini mencerminkan betapa besarnya nilai nyawa manusia bagi beliau. Ia selalu berdiri di barisan terdepan untuk membela kelompok minoritas yang seringkali menjadi korban intimidasi oleh kelompok mayoritas.
Hubungan Erat antara Islam, Demokrasi, dan Kemanusiaan
Sering kali, banyak pihak yang cenderung mempertentangkan Islam dengan demokrasi, padahal keduanya memiliki titik temu dalam nilai-nilai keadilan. Namun, Gus Dur berhasil menjembatani kedua hal ini melalui pendekatan teologis yang humanis. Ia memperkenalkan konsep bahwa inti dari ajaran Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta alam).
Dalam konteks bernegara, rahmat ini diterjemahkan melalui sistem demokrasi yang menghargai suara rakyat. Gus Dur menunjukkan bahwa Islam memiliki tradisi syura (musyawarah) yang sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi modern. Dengan demikian, seorang muslim yang baik seharusnya adalah seorang demokrat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Warisan Gus Dur bagi Masa Depan Indonesia
Nilai-nilai yang diwariskan oleh Gus Dur sangat relevan dengan tantangan Indonesia saat ini, di mana polarisasi dan intoleransi seringkali muncul ke permukaan. Membaca kembali pemikiran beliau membantu kita untuk:
-
Memperkuat Toleransi: Menghargai perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai ancaman.
-
Menjaga Integritas Politik: Mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan atau pribadi.
-
Menegakkan Supremasi Hukum: Memastikan setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di depan hukum.
Menghidupkan Kembali Semangat Gus Dur
Meneladani Gus Dur tidak berarti kita harus menjadi presiden atau tokoh besar. Kita bisa memulai dengan menerapkan nilai-nilai demokrasi dan HAM dalam kehidupan sehari-hari. Mulailah dengan menghargai pendapat orang lain, membela mereka yang terpinggirkan di lingkungan kita, dan selalu mengedepankan dialog dalam menyelesaikan masalah.
Gus Dur telah pergi, namun pemikirannya tetap hidup. Ia adalah bukti nyata bahwa agama bisa menjadi kekuatan pendorong untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan demokratis. Mari kita teruskan perjuangan beliau demi Indonesia yang lebih inklusif dan bermartabat.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
