SURAU.CO – Dalam khazanah dunia tasawuf Islam, nama Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili menempati posisi yang sangat istimewa. Sebagai pendiri Tarekat Syadziliyah, ia bukan hanya dikenal sebagai seorang pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai sosok yang membawa pembaruan dalam cara seorang hamba memandang dunia dan Sang Pencipta. Tarekatnya kini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia, dan terus memberikan inspirasi bagi jutaan umat Muslim untuk meraih kedamaian batin tanpa meninggalkan tanggung jawab duniawi.
Asal-Usul dan Masa Kecil Abu Hasan Asy-Syadzili
Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili lahir pada tahun 593 Hijriyah atau sekitar 1197 Masehi. Ia lahir di sebuah desa bernama Ghumarah, yang terletak di wilayah Sabtah (Ceuta), Maroko. Nama lengkapnya adalah Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar al-Idrisi al-Hasani. Nama “Asy-Syadzili” sendiri kemudian melekat padanya karena ia pernah tinggal dan menetap cukup lama di sebuah desa bernama Syadzilah di Tunisia.
Menariknya, Abu Hasan Asy-Syadzili memiliki garis keturunan (nasab) yang sangat mulia. Silsilah keluarganya bersambung langsung kepada Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu dari Baginda Rasulullah SAW. Keturunan yang mulia ini seakan menjadi dasar bagi terbentuknya karakter yang luhur dan keilmuan yang luas dalam dirinya sejak usia dini.
Sejak masa kecilnya, Abu Hasan memang telah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan yang sangat luar biasa. Selain itu, ia juga tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang sangat menghargai nilai-nilai ilmu syariat serta Al-Qur’an. Oleh karena itu, setelah ia berhasil menyelesaikan seluruh pendidikan dasarnya di tanah kelahirannya, ia kemudian membulatkan tekad untuk segera berkelana demi mencari ilmu yang lebih luas ke berbagai wilayah, mulai dari Afrika Utara hingga ke kawasan Timur Tengah.
Perjalanan Spiritual dan Pencarian Guru Sejati
Pencarian spiritual Abu Hasan Asy-Syadzili dimulai dengan pengembaraan mencari sosok “Wali Qutub” pada zamannya. Dalam perjalanannya ke Baghdad, ia bertemu dengan seorang sufi terkemuka, Syekh Abu Fath al-Wasithi. Namun, sang syekh justru memberitahunya bahwa sosok yang dicarinya sebenarnya berada di tanah airnya sendiri, yaitu di wilayah Maghrib (Maroko).
Abu Hasan kemudian kembali ke Maroko dan akhirnya bertemu dengan gurunya yang paling berpengaruh, yakni Syekh Abdussalam bin Masyisy. Pertemuan ini menjadi titik balik dalam kehidupan spiritualnya. Syekh Abdussalam bukan hanya memberikan bimbingan syariat, tetapi juga membuka mata batin Abu Hasan untuk memahami hakikat ketuhanan secara mendalam. Di bawah bimbingan sang guru, ia bertransformasi menjadi seorang sufi yang matang dan siap menyebarkan ajarannya.
Berdirinya Tarekat Syadziliyah dan Prinsip-Prinsipnya
Setelah mendapatkan restu dari gurunya, Abu Hasan Asy-Syadzili pindah ke Tunisia dan menetap di desa Syadzilah. Di sinilah cikal bakal Tarekat Syadziliyah mulai terbentuk. Berbeda dengan beberapa tarekat lain yang mungkin menekankan pada asketisme (zuhud) yang ekstrem dengan menjauhi dunia, Tarekat Syadziliyah menawarkan pendekatan yang lebih moderat dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Prinsip utama dari tarekat ini adalah integrasi antara kehidupan spiritual dan aktivitas sosial. Abu Hasan sering menekankan bahwa seorang pengikut tarekat tidak perlu meninggalkan pekerjaan atau status sosialnya untuk mencapai kedekatan dengan Allah. Baginya, syukur atas nikmat Allah adalah jalan pintas menuju keridhaan-Nya, lebih utama daripada sekadar memaksakan lapar (lapar fisik) jika hal itu tidak disertai dengan kesadaran batin.
Ada lima prinsip dasar (Al-Ushul al-Khamsah) yang menjadi landasan Tarekat Syadziliyah:
-
Takwa kepada Allah baik dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain.
-
Mengikuti Sunnah Rasulullah dalam perkataan maupun perbuatan.
-
Zuhud dan Berserah Diri (tawakkal) dengan tidak menggantungkan hati pada makhluk.
-
Ridha kepada Ketentuan Allah dalam segala kondisi, baik suka maupun duka.
-
Senantiasa Mengingat Allah (dzikir) dalam setiap tarikan napas dan langkah kaki.
Keunikan Ajaran Abu Hasan Asy-Syadzili
Salah satu ciri khas yang paling menonjol dari Abu Hasan Asy-Syadzili adalah penampilannya yang rapi dan elegan. Ia dikenal sebagai sufi yang tidak menyukai pakaian compang-camping atau gaya hidup yang terlihat kumuh atas nama zuhud. Beliau sering berkata bahwa memakai pakaian yang bagus dan bersih adalah salah satu bentuk syukur kepada Allah atas nikmat-Nya.
Ajaran ini sangat relevan bagi masyarakat modern. Abu Hasan mengajarkan bahwa kekayaan yang ada di tangan tidak boleh masuk ke dalam hati. Dengan kata lain, seseorang boleh memiliki harta yang melimpah, asalkan hatinya tetap terpaku hanya pada Allah SWT. Hal ini menjadikan Tarekat Syadziliyah sangat populer di kalangan pedagang, intelektual, dan pejabat di berbagai masa.
Warisan Literasi dan Hizib-Hizib yang Melegenda
Meskipun Abu Hasan Asy-Syadzili sendiri tidak banyak menulis kitab-kitab tebal tentang tasawuf, ia meninggalkan warisan spiritual berupa doa-doa dan hizib yang sangat kuat. Beberapa yang paling terkenal adalah Hizib Bahr (Hizib Laut) dan Hizib Nashr. Doa-doa ini hingga sekarang masih diamalkan oleh jutaan umat Islam untuk memohon perlindungan, kekuatan, dan ketenangan hati.
Para muridnya, terutama Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, kemudian membukukan dan melestarikan ajaran-ajaran tersebut melalui kitab legendarisnya yang berjudul Al-Hikam. Karya Ibnu Athaillah inilah yang kemudian mensistematisasikan pemikiran-pemikiran Abu Hasan Asy-Syadzili sehingga generasi-generasi berikutnya dapat mempelajarinya secara luas.
Akhir Hayat dan Penyebaran Tarekat di Indonesia
Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili wafat pada tahun 656 Hijriyah (1258 Masehi) di sebuah tempat bernama Humaitsara, saat ia sedang dalam perjalanan untuk menunaikan ibadah haji. Makamnya di padang pasir Mesir hingga kini masih menjadi tempat ziarah utama bagi para pengikut tarekat dan pecinta tasawuf dari seluruh dunia.
Di Indonesia, Tarekat Syadziliyah memiliki pengaruh yang sangat besar. Banyak pesantren-pesantren besar di Jawa dan wilayah lainnya yang menjadikan ajaran Syadziliyah sebagai kurikulum spiritual bagi para santrinya. Hal ini membuktikan bahwa ajaran beliau bersifat universal dan mampu beradaptasi dengan budaya setempat tanpa menghilangkan esensi aslinya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
