SURAU.CO – Dunia tasawuf mengenal banyak tokoh besar yang membawa lentera spiritual bagi umat Islam. Salah satu figur yang paling berpengaruh, terutama di wilayah Afrika Utara hingga menyebar luas ke Indonesia, adalah Syekh Ahmad At-Tijani. Beliau bukan hanya dikenal sebagai seorang ulama besar, tetapi juga sebagai pendiri Tarekat Tijaniyah, sebuah aliran tarekat yang memiliki ciri khas unik dalam pendekatan spiritualnya.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai biografi, perjalanan spiritual, hingga sejarah berdirinya Tarekat Tijaniyah yang penting untuk diketahui oleh para pencari ilmu dan pecinta tasawuf.
Asal-Usul dan Nasab Mulia Syekh Ahmad At-Tijani
Syekh Ahmad At-Tijani lahir dengan nama lengkap Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Al-Mukhtar At-Tijani. Beliau dilahirkan pada tahun 1150 Hijriah (sekitar 1737 Masehi) di sebuah desa bernama ‘Ain Madi, Aljazair.
Salah satu aspek yang sangat menonjol dari figur beliau adalah garis keturunannya. Syekh Ahmad At-Tijani merupakan seorang Sayyid, yang berarti nasabnya bersambung langsung kepada Rasulullah SAW melalui jalur Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA. Latar belakang keluarga yang religius dan disiplin dalam ilmu agama membentuk karakter beliau sejak usia dini.
Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Tercatat bahwa pada usia tujuh tahun, Ahmad At-Tijani telah menghafal Al-Qur’an dengan sempurna di bawah bimbingan guru-guru terbaik di daerahnya. Tidak berhenti di situ, beliau juga mendalami berbagai disiplin ilmu syariat seperti tafsir, hadis, fikih, dan bahasa Arab.
Perjalanan Intelektual dan Pencarian Spiritual
Kehausan akan ilmu membawa Syekh Ahmad At-Tijani berkelana ke berbagai pusat peradaban Islam. Pada usia 21 tahun, beliau mulai meninggalkan kampung halamannya untuk menuju kota Fez di Maroko. Fez saat itu dikenal sebagai jantung intelektual yang menampung banyak ulama besar dan pakar tasawuf.
Selama masa pengembaraannya, beliau tidak hanya belajar ilmu-ilmu zahir (syariat), tetapi juga sangat aktif mencari guru-guru spiritual. Beliau sempat berguru dan mengambil ijazah dari berbagai tarekat besar pada masanya, antara lain:
-
Tarekat Qadiriyah
-
Tarekat Nasiriyah
-
Tarekat Khalwatiyah
-
Tarekat Syadziliyah
Meskipun telah mencapai derajat keilmuan yang tinggi dalam berbagai tarekat tersebut, Syekh Ahmad At-Tijani merasa masih ada “dahaga spiritual” yang belum sepenuhnya terobati. Hal inilah yang mendorongnya untuk terus melakukan uzlah (mengasingkan diri) dan memperbanyak ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Titik Balik Spiritual: Bertemu Rasulullah SAW Secara Yaqazhah
Momen paling bersejarah dalam biografi Syekh Ahmad At-Tijani terjadi pada tahun 1196 H (1781 M) di sebuah wilayah bernama Abi Samghun. Saat itu, beliau sedang melakukan khalwat (menyendiri untuk beribadah).
Tradisi Tijaniyah meyakini bahwa pada saat itulah Syekh Ahmad At-Tijani mengalami fenomena spiritual yang luar biasa, yaitu bertemu Nabi Muhammad SAW secara yaqazhah (sadar/terjaga), bukan melalui mimpi. Dalam pertemuan spiritual tersebut, Rasulullah SAW memberikan instruksi langsung kepada beliau untuk meninggalkan seluruh tarekat yang pernah beliau ikuti sebelumnya.
Rasulullah SAW kemudian mengajarkan kepadanya wirid-wirid khusus yang menjadi pondasi utama Tarekat Tijaniyah. Para sufi memandang beliau sebagai Khatm al-Awliya (Penutup para Wali), sebuah kedudukan spiritual yang sangat tinggi dalam hierarki kewalian.
Berdirinya Tarekat Tijaniyah dan Penyebarannya
Setelah menerima mandat spiritual tersebut, Syekh Ahmad At-Tijani mulai menyebarkan ajarannya. Tarekat Tijaniyah berbeda dengan tarekat lainnya yang seringkali mengharuskan pengikutnya melakukan riyadhah (latihan spiritual) yang sangat berat atau isolasi total dari dunia.
Karakteristik utama Tarekat Tijaniyah adalah:
-
Kesederhanaan Wirid: Praktik zikirnya terdiri dari Istighfar, Shalawat, dan Hailalah (Laa ilaha illallah) yang dilakukan secara rutin pagi dan sore.
-
Penekanan pada Syariat: Syekh Ahmad selalu berpesan agar pengikutnya tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau pernah berkata, “Jika kalian mendengar sesuatu dariku, timbanglah dengan timbangan syariat. Jika cocok, ambillah; jika bertentangan, tinggalkan.”
-
Aksesibilitas: Tarekat ini menyebar dengan cepat karena sifatnya yang inklusif, dapat diikuti oleh pedagang, petani, pejabat, hingga ulama.
Pusat dakwah beliau kemudian berpindah kembali ke Fez, Maroko. Di sana, beliau membangun Zawiyah (pusat kegiatan spiritual) yang hingga kini masih menjadi tempat ziarah utama bagi jutaan pengikut Tijaniyah dari seluruh dunia.
Masuknya Tarekat Tijaniyah ke Indonesia
Tarekat Tijaniyah mulai masuk ke Indonesia sekitar awal abad ke-20. Syekh Ali bin Abdullah At-Thayyib, ulama asal Madinah yang kemudian menetap di Jawa Barat (khususnya Cirebon dan Tasikmalaya), membawa ajaran ini pertama kali ke tanah air.
Perkembangan tarekat ini di Indonesia sangat pesat, terutama di kalangan pondok pesantren. Beberapa tokoh besar di Indonesia yang dikenal sebagai muqaddam (pemimpin) Tijaniyah antara lain KH. Abbas Buntet (Cirebon) dan KH. Badri Mashduqi (Probolinggo). Fleksibilitas ajaran ini membuatnya mudah diterima oleh masyarakat Muslim Indonesia yang sangat mencintai selawat dan zikir.
Warisan dan Wafatnya Sang Wali
Syekh Ahmad At-Tijani wafat pada tanggal 17 Syawal 1230 H (1815 M) dalam usia 80 tahun. Beliau dimakamkan di kota Fez, Maroko. Meskipun raganya telah tiada, warisan spiritualnya terus hidup melalui jutaan pengikutnya yang tersebar di Afrika, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara.
Kitab utama yang merangkum biografi dan ajaran beliau adalah Jawahirul Ma’ani yang ditulis oleh murid setianya, Ali Harazim. Kitab ini menjadi referensi utama bagi siapa saja yang ingin mendalami esensi ajaran Tijaniyah.
Mengenal biografi Syekh Ahmad At-Tijani memberikan kita pelajaran berharga tentang konsistensi dalam menuntut ilmu dan kejujuran dalam mencari kebenaran spiritual. Beliau mendirikan Tarekat Tijaniyah bukan sekadar sebagai perkumpulan zikir, melainkan sebagai jalan untuk memperbaiki akhlak dan memperkuat hubungan cinta kepada Rasulullah SAW. Umat Islam memandang sosok beliau sebagai bukti nyata bahwa kemuliaan nasab yang bersanding dengan ketakwaan dan kedalaman ilmu akan menciptakan pengaruh abadi yang melintasi zaman.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
