Khazanah Opinion
Beranda » Berita » Masa Depan dan Jalan Sunyi Islam Politik: Refleksi Sejarah dan Strategi Perjuangan

Masa Depan dan Jalan Sunyi Islam Politik: Refleksi Sejarah dan Strategi Perjuangan

islam dan politik ilustrasi
islam dan politik ilustrasi

SURAU.CO – Islam politik sering kali dianggap sebagai fenomena yang timbul tenggelam dalam panggung sejarah dunia. Dari Ikhwanul Muslimin di Mesir hingga Masyumi di Indonesia, gerakan yang membawa aspirasi agama ke dalam ruang publik dan negara selalu berhadapan dengan tembok kekuasaan yang kokoh. Artikel ini akan mengulas bagaimana “jalan sunyi” menjadi pilihan realistis sekaligus strategis bagi keberlanjutan nilai-nilai Islam dalam sistem politik modern.

Memahami Akar Islam Politik: Antara Idealisme dan Realitas

Secara historis, Islam politik lahir sebagai respons terhadap kolonialisme dan upaya mencari identitas bangsa yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan. Namun, perjalanan gerakan ini tidak pernah mulus. Dalam perspektif ilmu politik modern, pertentangan antara kekuatan negara (state power) dan masyarakat sipil (civil society) menjadi panggung utama bagi pergulatan ini.

Di Mesir, Ikhwanul Muslimin (IM) sempat mencapai puncak kekuasaan melalui proses demokratis pasca-Arab Spring. Namun, kemenangan tersebut berumur pendek. Intervensi militer yang didukung oleh kekuatan geopolitik global segera meruntuhkan dominasi tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa Islam politik sering kali berhadapan dengan represi sistematis yang tidak hanya bersifat domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh kepentingan internasional yang kompleks.

Tragedi Jamaat-e-Islami dan Dilema Pakistan

Beralih ke Pakistan, kita melihat model yang berbeda. Sejak lahir, Pakistan telah memproklamirkan diri sebagai negara dengan identitas Islam yang kuat. Namun, realitas kekuasaan tetap berada di tangan birokrasi dan militer. Jamaat-e-Islami, sebagai representasi Islam politik di sana, dibiarkan hidup namun dalam ruang gerak yang sangat terbatas.

Kondisi ini menciptakan sebuah jebakan struktural. Gerakan Islam politik di Pakistan terjepit di antara idealisme untuk menegakkan syariat secara menyeluruh dan kompromi politik demi tetap eksis di bawah bayang-bayang militer. Ini adalah bentuk “jalan sunyi” yang lain—di mana suara terdengar, namun kebijakan sulit ditembus.

Membangun Narasi Persatuan di Tengah Polarisasi: Belajar dari Kitab Al-Fashl Ibnu Hazm

Belajar dari Masyumi: Kekalahan yang Membuahkan Kemenangan

Indonesia memberikan catatan sejarah yang paling menarik terkait Islam politik. Rezim Soekarno membubarkan Masyumi—partai besar representasi umat Islam awal kemerdekaan—melalui konsep Nasakom, sehingga memaksa partai tersebut menerima kenyataan pahit. Secara formal, keadaan ini menyingkirkan Masyumi dari panggung politik praktis dan membuatnya mengaku kalah

Namun, sejarah membuktikan bahwa kekalahan formal tidak berarti berakhirnya pengaruh. Para tokoh Masyumi beralih dari jalur politik kekuasaan ke jalur dakwah, pendidikan, dan intelektual. Inilah yang disebut sebagai strategi “penetrasi kultural”. Meskipun mereka berada di luar sistem pemerintahan, gagasan-gagasan tentang integrasi nilai Islam dalam kehidupan bernegara tetap hidup.

Transformasi Nilai: Dari Politik Praktis ke Formalisasi Kebijakan

Paradoks sejarah terjadi di Indonesia. Meskipun negara sering kali menekan organisasi gerakan Islam politik, mereka justru perlahan-lahan menerima substansi perjuangan tersebut. Kita bisa melihat bagaimana negara memformalisasi peran ulama melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Selain itu, lahirnya berbagai regulasi seperti Undang-Undang Zakat, perbankan syariah, hingga sistem pendidikan Islam, merupakan bukti nyata bahwa nilai-nilai Islam politik tetap “menang” dalam jangka panjang. Gerakan ini tidak meraih kemenangan melalui mobilisasi massa yang reaktif, melainkan melalui proses normalisasi dan formalisasi yang bertahap di dalam kebijakan negara.

Tantangan Modern: Menghadapi Tembok Negara Bersenjata

Hari ini, tantangan bagi Islam politik tidaklah berkurang. Di berbagai belahan dunia, gerakan ini masih harus berhadapan dengan rezim yang memiliki akses terhadap kekuatan militer dan dukungan modal besar. Geopolitik global yang sering kali menyudutkan gerakan berbasis agama membuat ruang gerak semakin sempit.

Politik Harapan: Menggerakkan Perubahan Tanpa Kekerasan melalui Keteguhan Iman

Namun, pelajaran dari masa lalu mengajarkan bahwa konfrontasi langsung dengan “tembok negara” sering kali berujung pada penghancuran gerakan. Strategi yang lebih cerdas adalah dengan merawat nilai melalui kesabaran intelektual. Strategi ini menuntut para penggerak Islam politik untuk lebih mengedepankan dialog, literasi, dan pembangunan infrastruktur sosial daripada sekadar mengejar kursi kekuasaan.

Optimisme dalam Jalan Sunyi

Islam politik tidak akan pernah benar-benar mati selama nilai-nilai keadilan, ketuhanan, dan kemanusiaan tetap menjadi kebutuhan masyarakat. Sejarah menunjukkan bahwa rezim bisa datang dan pergi, namun ideologi yang terjaga dengan strategi tepat mampu melampaui usia para penindasnya.

Orang-orang yang memahami bahwa perubahan besar sering kali berawal dari bawah secara perlahan namun pasti, tidak memandang ‘jalan sunyi’ sebagai bentuk kepasrahan, melainkan memilihnya sebagai sebuah strategi. Optimisme Islam politik terletak pada kemampuan para pendukungnya untuk tetap konsisten merawat nilai di tengah perubahan zaman yang serba cepat.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.