SURAU.CO – Dalam khazanah sejarah Islam, kisah pertemuan antara Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS merupakan salah satu narasi yang paling sarat akan hikmah. Kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ini bukan sekadar cerita tentang perjalanan fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan intelektual yang mengajarkan kita tentang hakikat ilmu, pentingnya kesabaran, dan yang paling utama adalah sifat rendah hati.
Awal Mula Perjalanan: Teguran Atas Rasa Bangga Diri
Segala sesuatu bermula ketika Nabi Musa AS, sebagai seorang Rasul yang mulia dan pemberi hukum bagi Bani Israil, menyampaikan sebuah khutbah yang memukau. Seseorang bertanya kepadanya, “Wahai Musa, siapakah manusia yang paling berilmu di muka bumi ini?” Dengan kejujuran atas apa yang diketahuinya, Nabi Musa menjawab, “Aku.”
Jawaban ini, meski secara lahiriah tampak benar karena beliau adalah seorang nabi yang menerima wahyu, ternyata mendapat teguran dari Allah SWT. Allah ingin mengajarkan bahwa di atas orang yang berilmu, masih ada Zat Yang Maha Mengetahui, dan ilmu Allah itu luasnya tak terbatas. Allah kemudian mewahyukan bahwa ada seorang hamba-Nya yang tinggal di pertemuan dua lautan (Majma’ al-Bahrayn) yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa.
Kerendahan Hati Seorang Nabi dalam Mencari Ilmu
Mendengar kabar tersebut, Nabi Musa tidak merasa tersinggung atau gengsi. Sebaliknya, beliau justru menunjukkan semangat yang luar biasa untuk belajar. Hal ini merupakan pelajaran penting pertama bagi kita: setinggi apa pun gelar atau kedudukan seseorang, proses belajar tidak pernah boleh berhenti.
Nabi Musa bersikeras untuk menemui hamba tersebut, bahkan jika beliau harus berjalan selama bertahun-tahun (huquba). Inilah wujud nyata dari kerendahan hati dalam menuntut ilmu. Seorang pemimpin besar dan nabi sekelas Musa AS rela melakukan perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan tambahan pengetahuan dari orang lain.
Adab dan Perjanjian Antara Murid dan Guru
Setelah perjalanan yang melelahkan, Nabi Musa akhirnya bertemu dengan Nabi Khidir. Dalam pertemuan ini, Musa mengajukan permohonan dengan bahasa yang sangat santun: “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66).
Memiliki bekal ilmu ladunni dari Allah, Nabi Khidir memperingatkan Musa tentang ketidaksanggupannya dalam bersabar. Khidir menyadari bahwa tindakannya sering kali menentang logika lahiriah manusia pada umumnya. Namun, Musa berjanji untuk bersabar dan tidak akan menentang perintah Khidir.
Di sini kita belajar tentang adab menuntut ilmu. Murid harus menghormati guru dan melatih kesabaran ekstra saat menerima pelajaran yang belum sepenuhnya tercerna oleh logika saat itu.
Tiga Peristiwa Besar dan Rahasia di Baliknya
Perjalanan mereka diwarnai dengan tiga peristiwa yang membuat Nabi Musa terus mempertanyakan tindakan Khidir:
-
Melubangi Perahu: Khidir melubangi perahu milik orang miskin yang telah membantu mereka. Musa menganggap ini sebagai tindakan jahat yang membahayakan. Tindakan itu ternyata menyelamatkan perahu dari penyitaan paksa oleh raja zalim yang merampas kapal-kapal bagus milik rakyat.
-
Membunuh Seorang Anak: Tindakan ini sangat mengejutkan Musa. Namun, Khidir menjelaskan bahwa anak tersebut kelak akan tumbuh menjadi beban bagi orang tuanya yang saleh karena kekafirannya. Allah bermaksud menggantinya dengan anak yang lebih baik dan lebih berbakti.
-
Membangun Kembali Dinding yang Roboh: Di sebuah desa yang penduduknya kikir dan menolak memberi makan, Khidir justru memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh tanpa meminta upah. Ternyata, di bawah dinding tersebut terdapat harta karun milik dua anak yatim yang harus dijaga sampai mereka dewasa.
Hikmah Utama: Kesabaran dan Batasan Logika Manusia
Kisah ini memberikan pesan mendalam bahwa pengetahuan manusia itu sangat terbatas. Apa yang secara lahiriah tampak buruk bagi kita, belum tentu buruk dalam pandangan Allah. Sebaliknya, apa yang tampak menguntungkan bisa jadi menyimpan bahaya.
Nabi Musa, yang mewakili hukum syariat (lahiriah), seringkali terjebak pada apa yang terlihat oleh mata. Sementara Nabi Khidir mewakili ilmu hakikat (batiniah) yang melihat rencana Allah yang lebih besar. Kombinasi keduanya mengajarkan bahwa dalam menjalani hidup, kita butuh ketaatan pada aturan Tuhan sekaligus kepasrahan pada takdir-Nya yang penuh rahasia.
Implementasi Nilai Rendah Hati
Dalam konteks masa kini, pesan “rendah hati dalam menuntut ilmu” sangatlah relevan. Di era informasi di mana setiap orang merasa bisa menjadi ahli melalui pencarian singkat di internet, sikap seperti Nabi Musa sangat dibutuhkan. Kita harus sadar bahwa:
-
Ilmu bukan hanya soal informasi, tapi juga soal hikmah dan keberkahan.
-
Guru memiliki peran sentral dalam membimbing adab dan pemahaman.
-
Sikap merasa “paling tahu” adalah penghalang utama masuknya cahaya ilmu yang sejati.
Kisah Nabi Musa dan Khidir dalam artikel ini mengajak kita untuk merefleksikan kembali posisi kita sebagai penuntut ilmu. Kerendahan hati Nabi Musa dalam mencari kebenaran, serta pengajaran Nabi Khidir tentang luasnya rahasia Allah, adalah pedoman abadi bagi setiap Muslim.
Mari kita terus memupuk rasa haus akan ilmu pengetahuan tanpa melupakan adab dan kerendahan hati. Sebab, setinggi apa pun ilmu yang kita miliki, itu hanyalah setetes air di tengah samudra ilmu Allah yang tak bertepi.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
