SURAU.CO – Dunia intelektual Islam di Indonesia, khususnya di ranah Minangkabau, memiliki deretan tokoh hebat yang tidak hanya menguasai ilmu agama secara mendalam, tetapi juga memiliki integritas moral yang luar biasa. Salah satu sosok yang patut kita teladani adalah Buya Haji Zainuddin Hamidy. Beliau bukan sekadar seorang ulama atau mufassir, melainkan seorang pejuang yang memilih jalan kesederhanaan di tengah derasnya tawaran jabatan dan kemewahan dunia.
Dalam artikel ini, kita akan mengulas perjalanan hidup, dedikasi keilmuan, hingga warisan spiritual yang ditinggalkan oleh sang mufassir yang bersahaja ini.
Masa Kecil dan Akar Intelektual Zainuddin Hamidy
Haji Zainuddin Hamidy lahir pada 8 Februari 1907 di Kota Nan Empat, Payakumbuh, Sumatera Barat. Tumbuh di lingkungan Minangkabau yang kental dengan tradisi keislaman, Zainuddin kecil telah menunjukkan bakat intelektual yang menonjol. Namun, yang menarik, masyarakat tidak selalu menganggap latar belakang keluarganya sebagai ‘elit agama’ tradisional. Meskipun publik mengenal ayahnya sebagai sosok berkarakter kuat, ketekunan Zainuddin membantunya menembus batas-batas tersebut hingga ia berhasil menjadi seorang ulama besar.
Beliau mengenyam pendidikan di Madrasah Darul Funun El-Abbasiyah, sebuah lembaga pendidikan yang menjadi pusat pembaruan pemikiran Islam di Sumatera Barat kala itu. Di sana, ia mengasah kemampuan bahasa Arab, tafsir, dan hadis. Kecerdasannya membuat ia dipercaya menjadi asisten pengajar bahkan sebelum ia menyelesaikan pendidikannya secara formal.
Rihlah Ilmiah ke Tanah Suci
Haus akan ilmu, Zainuddin Hamidy memutuskan untuk berangkat ke Mekkah guna memperdalam ilmu agama. Beliau tercatat sebagai salah satu orang Indonesia pertama yang menempuh pendidikan di Ma’had Islamy di Mekkah. Di Tanah Suci, ia tidak hanya menunaikan ibadah haji, tetapi juga menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berguru kepada ulama-ulama besar dunia.
Perjalanan ini membentuk karakter intelektualnya yang moderat namun teguh pada prinsip. Setelah merasa bekal ilmunya cukup, ia kembali ke tanah air dengan misi besar: mencerdaskan umat dan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan.
Perjuangan di Masa Sulit: Bertahan di Tengah Badai
Tahun 1941 menjadi masa yang sangat menantang bagi Buya Zainuddin. Angin topan menghancurkan bangunan sekolah tempatnya mengajar secara fisik. Secara politis, pemerintah kolonial Belanda menekan dan membatasi aktivitas pendidikan Islam dengan sangat ketat. Pemerintah kolonial melarang banyak guru mengajar, sehingga para murid harus belajar di dangau-dangau atau pondok sawah yang sederhana.
Namun, semangat Buya Zainuddin tidak goyah. Ia tetap mengajar di siang hari dan berkeliling kampung untuk berdakwah pada malam hari. Keteguhan inilah yang membuatnya dihormati. Beliau membuktikan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena ketiadaan fasilitas mewah.
Menolak Jabatan Demi Kemaslahatan Umat
Setelah Indonesia merdeka, banyak tokoh perjuangan yang menduduki posisi strategis di pemerintahan. Buya Zainuddin Hamidy pun mendapatkan tawaran serupa. Beliau pernah ditawari jabatan tinggi di Kementerian Agama di Jakarta hingga posisi dosen di Yogyakarta.
Namun, secara mengejutkan, beliau menolak semua tawaran tersebut. Mengapa? Buya Zainuddin merasa lebih tentram hidup di kampung halaman, mengurus madrasah, dan melayani umat secara langsung di masjid-masjid. Beliau sering berseloroh tentang “PGT” atau Peraturan Gaji Tuhan. Baginya, rezeki dari Allah selalu cukup dan tidak pernah menimbulkan kegelisahan batin dibandingkan gaji besar dari jabatan yang penuh intrik politik.
Sosok Mufassir dan Ahli Hadis yang Produktif
Salah satu kontribusi terbesar Buya Zainuddin Hamidy bagi literasi Islam di Indonesia adalah karyanya dalam bidang tafsir dan hadis. Bersama Fachruddin HS, beliau menyusun “Tafsir Al-Quran Indonesia” yang hingga kini masih menjadi referensi penting.
Selain itu, dedikasinya pada ilmu hadis ditunjukkan dengan kegigihannya memeriksa silsilah hadis-hadis dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Beliau juga menerjemahkan Kitab Hadis Arba’in karya Imam Nawawi. Sayangnya, banyak naskah karya beliau yang hilang atau musnah selama masa pendudukan Belanda dan Jepang karena penggeledahan dan penghancuran pesantren miliknya.
Kepribadian yang Bersahaja dan Tanpa Cacat Moral
Zainuddin Hamidy dikenal sebagai ulama yang sangat menjaga kehormatannya. Sepanjang hayatnya, tidak pernah terdengar skandal yang melibatkan namanya, baik itu terkait uang, jabatan, maupun masalah moral lainnya. Beliau hidup sangat sederhana, berpakaian apa adanya, dan tetap mempertahankan kebiasaan masyarakat lokal, seperti merokok daun Tarusan.
Kesederhanaan ini bukanlah bentuk kemiskinan, melainkan pilihan sadar (zuhud). Beliau memandang dunia hanya sebagai sarana, bukan tujuan. Hal ini tercermin dari murid-muridnya yang sukses menjadi pejabat, diplomat, hingga menteri, namun sang guru tetap memilih tinggal di rumah yang sederhana dan mengajar di masjid.
Akhir Hayat Sang Pejuang
Dunia Islam Indonesia berduka ketika Buya Haji Zainuddin Hamidy wafat secara mendadak pada hari Jumat, 29 Maret 1957. Kepergiannya yang tiba-tiba membuat Kota Payakumbuh seolah diselimuti mendung hitam. Ribuan orang mengantarkan jenazahnya, menunjukkan betapa besarnya cinta umat kepada sosok yang telah menghabiskan hidupnya untuk ilmu dan perjuangan.
Meskipun raganya telah tiada, warisan pemikirannya tetap hidup. Beliau meninggalkan teladan bahwa seorang ulama sejati adalah mereka yang tidak silau oleh gemerlap dunia dan tetap konsisten di jalur pengabdian hingga akhir hayat.
Kesimpulan: Pelajaran dari Kehidupan Buya Zainuddin
Kisah hidup Buya Haji Zainuddin Hamidy memberikan kita pelajaran berharga tentang integritas. Di era modern ini, di mana banyak orang mengejar popularitas dan jabatan, sosok seperti beliau mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati terletak pada keridaan Allah dan manfaat yang kita berikan kepada sesama.
Beliau adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya besar. Dengan prinsip hidup bersahaja dan tawakal penuh pada “Gaji Tuhan”, beliau berhasil mencetak generasi pemimpin bangsa yang berakhlak mulia. Semoga kita dapat meneladani jejak perjuangan dan kesederhanaan beliau.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
