SURAU.CO – Banyak orang tua sering berpesan kepada anak-anak mereka, “Belajarlah yang rajin supaya jadi orang pintar dan sukses.” Kalimat ini seolah-olah menjadi mantra ajaib yang menjanjikan masa depan cerah, kehormatan keluarga, hingga peningkatan derajat ekonomi. Namun, jika kita menilik lembaran sejarah dan realitas sosial, menjadi pintar ternyata tidak selamanya berbuah manis. Dalam banyak kasus, kecerdasan justru menjadi beban, pengasingan, bahkan ancaman bagi keselamatan nyawa pemiliknya. Inilah yang kemudian dikenal sebagai fenomena di mana kepintaran menjadi sebuah “kutukan”.
Ilusi Kecerdasan dan Realitas Sosial
Secara teoretis, masyarakat yang maju seharusnya sangat menghargai individu-individu dengan kapasitas intelektual tinggi. Namun, kenyataan di lapangan sering kali menunjukkan pola yang berbeda. Masyarakat sering kali menganggap orang yang memiliki pemikiran di atas rata-rata atau mampu melihat kebenaran di balik selubung dogma sebagai sebuah ancaman.
Alih-alih mendapatkan apresiasi, mereka yang “terlalu pintar” kerap dijauhi atau dikucilkan dari lingkungan sosialnya. Hal ini terjadi karena kecerdasan cenderung membawa seseorang pada sikap kritis yang mempertanyakan status quo. Saat mayoritas merasa nyaman dengan kebodohan yang terstruktur atau mitos yang sudah mapan, mereka menganggap kehadiran intelektual yang membongkar hal tersebut sebagai gangguan terhadap stabilitas.
Belajar dari Kejayaan Intelektual Masa Lalu
Jika kita melihat ke belakang, peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaan (The Golden Age) karena kepedulian para penguasanya terhadap ilmu pengetahuan. Pada masa itu, para khalifah tidak ragu memberikan gaji besar kepada para penerjemah buku dari berbagai peradaban, mulai dari Yunani, Ibrani, hingga India.
Disiplin ilmu seperti filsafat, matematika, kimia, dan fisika berkembang pesat. Nama-nama besar seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Al-Khawarizmi lahir dari iklim intelektual yang sehat ini. Mereka tidak hanya menyerap ilmu asing, tetapi mengembangkannya menjadi penemuan baru yang bermanfaat bagi dunia.
Sayangnya, saat ini banyak dari kita yang terjebak dalam romantisme sejarah belaka. Kita sering membanggakan nama-nama besar tersebut hanya untuk menyerang kemajuan Barat hari ini, tanpa benar-benar mau mempelajari dan menghidupkan kembali tradisi berpikir kritis yang mereka miliki. Akibatnya, kecerdasan yang mereka wariskan hanya menjadi catatan kaki, bukan lagi api semangat yang membakar nalar generasi masa kini.
Otoritas Mutlak dan Bahaya bagi Ilmuwan
Sejarah mencatat bahwa saat penguasa atau otoritas keagamaan memegang kendali secara mutlak dan kaku, mereka akan menganggap kepintaran sebagai bid’ah atau kesesatan. Di Eropa, Abad Kegelapan menjadi bukti nyata bagaimana otoritas menekan ilmu pengetahuan. Ilmuwan besar seperti Galileo Galilei harus mendekam di penjara dan melihat api melalap karya-karyanya hanya karena ia membuktikan bahwa Bumi mengelilingi Matahari—sebuah fakta yang menabrak doktrin otoritas saat itu.
Bahkan jauh sebelum itu, para filsuf Yunani telah merasakan pahitnya menjadi pintar di tengah masyarakat yang belum siap. Socrates, bapak filsafat Barat, dihukum mati dengan meminum racun karena dituduh merusak pikiran pemuda dan mempertanyakan dewa-dewa negara. Kepintarannya dalam bertanya dan mencari kebenaran justru membawanya pada maut.
Seneca, seorang filsuf Stoik yang juga penasihat Kaisar Nero, harus mengalami nasib serupa. Karena kecerdasannya dianggap mengancam posisi politik penguasa, ia dipaksa mengakhiri hidupnya sendiri. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa kepintaran sering kali berbenturan dengan dinding keras otoritarianisme.
Fenomena di Dunia Modern: Persekusi dan Pengasingan
Fenomena kepintaran menjadi kutukan tidak berhenti di zaman kuno. Di era modern, banyak pemikir kritis yang masih harus menghadapi tekanan hebat dari kelompok fundamentalis atau rezim otoriter. Kita bisa melihat contoh dari tokoh-tokoh seperti Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zayd, hingga Farag Foda.
Kelompok penentang memaksa Fazlur Rahman, seorang cendekiawan Muslim terkemuka, meninggalkan Pakistan dan pindah ke Amerika Serikat setelah mereka menuduh pemikiran progresifnya sesat. Di negaranya sendiri, massa membakar karya-karyanya, namun masyarakat Amerika justru menghormatinya sebagai profesor jenius. Nasib serupa juga menimpa Nasr Hamid Abu Zayd dari Mesir; otoritas setempat bahkan membatalkan status pernikahannya karena mereka menganggap pemikiran kritisnya sebagai bentuk kemurtadan.
Tragedi paling kelam menimpa Farag Foda, yang dengan berani mengkritik monopoli agama oleh kelompok tertentu. Ia menegaskan bahwa siapa saja harus memahami Islam secara terbuka tanpa memerlukan ‘wakil Tuhan’ di bumi. Akibat keberanian intelektualnya, kelompok radikal membunuh dirinya hingga tewas. Ini adalah bukti nyata bahwa di tengah masyarakat yang intoleran, kepintaran adalah risiko yang sangat besar.
Mengapa Masyarakat Takut pada Orang Pintar?
Ada beberapa alasan mengapa kepintaran sering kali dianggap sebagai kutukan dalam konteks sosial:
-
Mengancam Kenyamanan: Orang pintar cenderung membongkar kebohongan atau ketidakefisienan yang sudah lama dipraktikkan.
-
Kemandirian Berpikir: Orang cerdas sulit dikendalikan atau didoktrin secara buta, yang mana hal ini sangat tidak disukai oleh pemimpin otoriter.
-
Ketimpangan Komunikasi: Sering kali terdapat jarak komunikasi antara mereka yang berpemikiran maju dengan masyarakat awam, yang kemudian memicu kecurigaan.
Mengubah Kutukan Menjadi Anugerah
Menjadi pintar memang bisa menjadi beban berat jika berada di lingkungan yang salah. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa peradaban manusia tidak akan pernah maju tanpa keberanian para individu yang memikul ‘kutukan’ tersebut. Kita tidak akan mengenal sains modern, pengobatan canggih, atau kebebasan berpendapat tanpa pengorbanan mereka yang berani berpikir berbeda.
Sebagai masyarakat, tugas kita adalah menciptakan iklim yang menghargai kecerdasan dan perbedaan pendapat. Jangan biarkan kepintaran menjadi kutukan. Sebaliknya, jadikanlah ia sebagai anugerah yang memandu bangsa menuju pencerahan. Dengan berhenti melakukan persekusi terhadap pemikiran kritis, kita sebenarnya sedang menyelamatkan masa depan peradaban kita sendiri.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
