Kisah Sejarah
Beranda » Berita » Kisah Utbah bin Ghazwan: Sang Pejuang Islam, Pendiri Kota Basrah yang Zuhud

Kisah Utbah bin Ghazwan: Sang Pejuang Islam, Pendiri Kota Basrah yang Zuhud

Utbah bin Ghazwan
Utbah bin Ghazwan

SURAU.CO – Sejarah peradaban Islam tidak pernah lepas dari peran besar para sahabat Rasulullah SAW yang memiliki dedikasi luar biasa. Salah satu sosok yang mungkin jarang terdengar namun memiliki kontribusi vital adalah Utbah bin Ghazwan. Beliau tidak hanya menjadi panglima perang yang tangguh, tetapi juga mendirikan kota Basrah dan menjadi simbol kezuhudan seorang pemimpin

Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai perjalanan hidup Utbah bin Ghazwan, mulai dari masa awal masuk Islam hingga akhir hayatnya yang penuh inspirasi.

Siapa Utbah bin Ghazwan?

Utbah bin Ghazwan al-Mazini adalah salah satu dari kelompok As-Sabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama kali memeluk Islam. Secara spesifik, beliau merupakan orang ketujuh yang menyatakan keimanannya dan berbaiat langsung kepada Nabi Muhammad SAW di Makkah.

Pada masa awal dakwah, Utbah merasakan getirnya penindasan kaum Quraisy. Beliau termasuk dalam rombongan yang melakukan hijrah dua kali: pertama ke Habasyah (Ethiopia) untuk menghindari siksaan, dan kemudian ke Madinah untuk membangun kekuatan Islam bersama Rasulullah.

Keahlian Militer dan Ketangguhan di Medan Perang

Dalam sejarah militer Islam, dunia mengenal Utbah bin Ghazwan sebagai sosok pemanah dan pelempar tombak yang sangat ulung. Beliau selalu menghadiri setiap peperangan besar di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW, seperti Perang Badar, Perang Uhud, hingga Perang Khandaq.

Kisah Hikmah “Saudara-Saudara 3 in 1 Mencari Teman Sejati”

Ketangguhannya tidak luntur setelah Rasulullah wafat. Pada masa kekhalifahannya, Umar bin Khattab memberikan mandat besar kepada Utbah untuk memimpin ekspedisi ke wilayah timur, tepatnya guna menghadapi kekuatan Persia di wilayah Ubullah.

Penaklukan Ubullah: Gerbang Menuju Kemenangan

Ubullah saat itu merupakan pelabuhan penting bagi kekaisaran Persia yang sangat kuat dan dijaga ketat. Dengan pasukan yang jumlahnya relatif sedikit, Utbah menunjukkan kecerdasan strateginya. Beliau menggunakan taktik psikologis dengan memerintahkan para wanita dalam rombongan untuk mengikat kain pada tombak agar terlihat seperti panji-panji pasukan besar dari kejauhan.

Melihat “pasukan besar” yang mendekat, mental tentara Persia runtuh. Utbah dan pasukannya berhasil menguasai wilayah tersebut dan mengusir penjajah Persia, membebaskan rakyat dari tirani yang telah lama membelenggu.

Membangun Basrah: Dari Kamp Militer Menjadi Kota Peradaban

Setelah kemenangan di Ubullah, Utbah bin Ghazwan tidak lantas berpuas diri. Beliau memahami bahwa wilayah strategis tersebut membutuhkan pusat pemerintahan dan basis pertahanan yang kuat. Atas izin Khalifah Umar bin Khattab, beliau mulai merancang sebuah pemukiman baru yang kemudian dikenal dengan nama Basrah.

Beberapa langkah penting yang dilakukan Utbah dalam membangun Basrah antara lain:

Mitos Dewa Kristen di Balik Bulan Masehi

  1. Pembangunan Masjid: Sebagai prioritas utama, beliau mendirikan masjid besar sebagai pusat ibadah dan pendidikan umat.

  2. Tata Ruang Kota: Beliau mengatur pembagian lahan untuk tempat tinggal prajurit dan masyarakat sipil agar tertata rapi.

  3. Pusat Logistik: Basrah dijadikan titik krusial untuk suplai logistik pasukan Islam yang akan melakukan ekspedisi lebih jauh ke wilayah Persia.

Keteladanan dalam Kepemimpinan yang Zuhud

Meskipun menjabat sebagai Gubernur Basrah, gaya hidup Utbah bin Ghazwan sama sekali tidak berubah. Beliau tetap menjadi sosok yang sederhana dan sangat takut akan fitnah dunia. Baginya, kekuasaan adalah amanah berat yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat.

Kisah yang paling terkenal adalah saat beliau berkhutbah di hadapan penduduk Basrah. Utbah mengingatkan mereka tentang masa-masa sulit saat awal Islam, di mana mereka hanya makan dedaunan hingga bibir mereka pecah-pecah. Beliau merasa khawatir jika kemewahan dunia yang mulai masuk ke Basrah akan merusak iman penduduknya.

Kecerdasan Emosional dalam Kisah Nabi Yusuf: Seni Mengelola Sakit Hati dan Menghapus Dendam

Mengundurkan Diri karena Takut akan Dunia

Saking kuatnya prinsip kezuhudan yang ia miliki, Utbah merasa tidak nyaman dengan jabatan gubernur. Beliau khawatir jabatan tersebut akan menjauhkannya dari Allah. Utbah kemudian berangkat ke Madinah untuk menghadap Khalifah Umar bin Khattab guna mengajukan pengunduran diri.

Namun, Khalifah Umar menolaknya karena menganggap Utbah adalah sosok yang paling tepat dan jujur untuk memimpin wilayah tersebut. Dengan berat hati dan ketaatan kepada pemimpin, Utbah setuju untuk kembali ke Basrah.

Akhir Hayat Sang Pendiri Basrah

Dalam perjalanan kembali dari Madinah menuju Basrah, Utbah bin Ghazwan memanjatkan doa yang tulus. Beliau memohon kepada Allah agar tidak dikembalikan lagi ke jabatan gubernur dan tidak dicoba dengan fitnah duniawi.

Doa tersebut dikabulkan. Di tengah perjalanan, beliau terjatuh dari tunggangannya dan mengembuskan napas terakhir. Beliau wafat dalam keadaan mulia, meninggalkan warisan berupa kota Basrah yang berkembang pesat dan teladan kepemimpinan yang bersih dari ambisi pribadi.

Kisah Utbah bin Ghazwan memberikan kita banyak pelajaran berharga tentang integritas. Di era modern ini, keteladanan beliau dalam memisahkan kepentingan pribadi dengan amanah publik sangat relevan untuk dipelajari.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.