SURAU.CO – Di bandara, terminal, dan jalan raya, manusia modern tampak sangat percaya diri. Tiket sudah di tangan, peta digital terbuka, kendaraan siap melaju. Jarak ribuan kilometer kini dapat ditempuh dalam hitungan jam. Tetapi di tengah semua kemajuan itu, ada satu kebiasaan yang kian jarang terlihat: menengadahkan tangan dan berdoa sebelum memulai perjalanan.
Safar hari ini sering dimulai dengan mengecek baterai, bukan memperbarui niat. Padahal dalam Islam, perjalanan bukan sekadar mobilitas, melainkan momen tauhid. Al-Qur’an menempatkan safar sebagai ruang kesadaran, bukan sekadar perpindahan lokasi:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ
“Katakanlah: berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan.” (QS. al-‘Ankabūt: 20)¹
Ayat ini tidak hanya memerintah kaki untuk melangkah, tetapi juga akal dan hati untuk merenung. Safar adalah kesempatan membaca tanda-tanda Allah di hamparan bumi. Namun dalam praktik modern, perjalanan lebih sering menjadi simbol kemandirian manusia, bukan ketergantungannya kepada Tuhan.
Safar Membongkar Ilusi Kekuatan
Di rumah, manusia merasa berdaulat. Ia mengatur waktu, makanan, ibadah, bahkan suasana. Tetapi begitu safar dimulai, ilusi itu runtuh. Jadwal berubah, cuaca tak bisa dikendalikan, kendaraan bisa rusak, tubuh lelah, emosi mudah goyah. Safar memaksa manusia jujur pada dirinya sendiri: ia lemah.
Al-Qur’an menegaskan siapa sebenarnya yang menggerakkan perjalanan:
وَهُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
“Dialah yang menjalankan kamu di darat dan di laut.” (QS. Yūnus: 22)²
Ayat ini mematahkan kesombongan modern. Mesin, pilot, sopir, dan sistem navigasi hanyalah sebab. Yang menentukan bergerak atau berhentinya sebuah perjalanan tetap Allah. Karena itu, safar dalam tradisi Nabi ﷺ selalu dibuka dengan doa. Bukan sebagai simbol, tetapi sebagai deklarasi iman.
Doa Safar: Manifesto Tauhid Musafir
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa safar yang sarat makna:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هٰذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى،
اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هٰذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ،
اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ.³
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridhai. Yaa Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan penjaga keluarga.”
Menariknya, Nabi ﷺ tidak memulai dengan permintaan keselamatan, tetapi dengan al-birr wat-taqwā. Seolah beliau ingin menegaskan: bahaya terbesar dalam safar bukan hanya kecelakaan, tetapi rusaknya iman. Banyak perjalanan berhasil secara geografis, tetapi gagal secara spiritual. Sampai tujuan, tetapi pulang membawa dosa.
Permohonan “mudahkanlah perjalanan kami” tidak hanya berarti jalan lancar. Para ulama menjelaskan, kemudahan dalam safar mencakup kemudahan fisik, ketenangan jiwa, dan penjagaan agama. Seseorang mungkin selamat jasadnya, tetapi jika shalat ditinggalkan dan maksiat dibiarkan, maka ia sejatinya sedang berada dalam kesulitan ruhani.
Allah sendiri menegaskan prinsip besar syariat:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. al-Baqarah: 185)⁴
Karena itu, safar menjadi sebab hadirnya rukhsah: shalat diqashar, puasa boleh ditunda. Semua ini bukan dispensasi kosong, melainkan pesan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang lemah.
Safar: Ruang Doa yang Mustajab
Menariknya, safar bukan hanya kondisi yang membutuhkan doa, tetapi juga keadaan yang menjadikan doa lebih dekat pada pengabulan. Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Tiga doa yang mustajab tanpa keraguan: doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua terhadap anaknya.”⁵
Doa musafir mustajab karena ia lahir dari kondisi lemah. Safar memeras kesombongan dan memendekkan jarak antara hamba dan Rabb-nya. Dalam perjalanan, manusia lebih mudah merasakan butuh, lebih jujur berharap, dan lebih siap tunduk.
Namun realitas hari ini sering berbanding terbalik. Di banyak kendaraan umum, yang terdengar adalah dering notifikasi, bukan istighfar. Yang terlihat adalah layar hiburan, bukan mushaf. Safar berubah menjadi ruang pelarian, bukan perenungan. Padahal Nabi ﷺ memperbanyak dzikir di setiap perubahan lanskap, seakan mengajarkan bahwa setiap tanjakan dan turunan adalah ayat-ayat tauhid.
Allah sebagai Teman Perjalanan
Dalam doa safar, Nabi ﷺ mengajarkan kalimat yang sangat dalam: “Engkaulah teman dalam perjalanan dan penjaga keluarga.” Di sini terkumpul dua kecemasan utama manusia: keselamatan diri dan keamanan orang yang ditinggalkan. Keduanya tidak mampu dijamin sepenuhnya oleh teknologi atau sistem.
Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung puncak tawakkal, karena seorang hamba menyerahkan dua wilayah paling sensitif dalam hidupnya kepada Allah: dirinya di jalan dan keluarganya di rumah.⁶
Di sinilah tauhid menemukan bentuk praktisnya. Bertawakal bukan berarti menolak sebab, tetapi menyadari keterbatasannya. Manusia boleh menyiapkan kendaraan terbaik, memeriksa jadwal, dan mengunci pintu. Tetapi hatinya tidak bergantung di sana.
Safar Dunia dan Safar Menuju Akhirat
Setiap perjalanan sejatinya adalah latihan kematian. Kita keluar dari rumah, berpisah dengan yang dicintai, membawa bekal, menempuh jarak, lalu sampai atau tidak sampai. Tidak ada safar yang sepenuhnya pasti.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
“Wahai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (QS. al-Insyiqāq: 6)⁷
Hidup adalah safar panjang. Dan seperti safar kecil, ia tidak pantas dijalani tanpa doa. Jika manusia begitu serius memohon kemudahan dalam perjalanan beberapa jam, mengapa begitu lalai memohon kemudahan dalam perjalanan seumur hidup menuju akhirat?.
Penutup: Mengembalikan Doa ke Awal Langkah
Kolom ini bukan nostalgia romantik terhadap masa unta dan padang pasir. Ia adalah kritik terhadap manusia modern yang semakin cepat bergerak, tetapi semakin jarang bersujud. Safar dalam Islam bukan sekadar berpindah koordinat, tetapi berpindah kesadaran.
Doa bukan pelengkap, melainkan pembuka. Ia adalah pengakuan bahwa manusia bukan pusat, bukan pengendali, dan bukan pemilik keselamatan.
Allah menegaskan:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. ath-Thalāq: 3)⁸
Siapa yang Allah cukupkan, ia tidak pernah benar-benar sendirian di jalan. Dan siapa yang memulai safarnya dengan tauhid, ia telah meletakkan langkahnya di jalur yang paling aman.
Catatan Kaki (Footnote):
-
Al-Qur’an, QS. al-‘Ankabūt: 20.
-
Al-Qur’an, QS. Yūnus: 22.
-
HR. Muslim no. 1342.
-
Al-Qur’an, QS. al-Baqarah: 185.
-
HR. Abu Dāwud no. 1536; at-Tirmidzi no. 1905.
-
Ibnul Qayyim, Zādul Ma‘ād, jilid 2.
-
Al-Qur’an, QS. al-Insyiqāq: 6.
-
Al-Qur’an, QS. ath-Thalāq: 3. (Tengku Iskandar: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
