Khazanah Sejarah
Beranda » Berita » Musyawarah: Harmonisasi Budaya Lokal dan Nilai-Nilai Islam dalam Pengambilan Keputusan

Musyawarah: Harmonisasi Budaya Lokal dan Nilai-Nilai Islam dalam Pengambilan Keputusan

musyawarah sebagai budaya lokal
musyawarah sebagai budaya lokal

SURAU.CO – Dalam struktur sosial masyarakat Indonesia, musyawarah bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan sebuah fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Praktik ini telah mendarah daging dalam kearifan lokal Nusantara jauh sebelum konsep demokrasi modern dikenal secara luas. Menariknya, tradisi luhur ini memiliki keselarasan yang luar biasa dengan ajaran Islam. Artikel ini akan mengulas mendalam bagaimana musyawarah menjadi jembatan antara identitas budaya lokal dan nilai-nilai spiritual Islam yang luhur.

Apa Itu Musyawarah? Memahami Definisi dan Landasan Filosofis

Secara terminologi, merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), musyawarah diartikan sebagai pembahasan bersama yang dilakukan dengan tujuan mencapai keputusan atau penyelesaian masalah melalui perundingan dan perembukan. Di Indonesia, musyawarah memiliki kedudukan yang sangat sakral, bahkan menjadi salah satu pilar ideologi negara.

Sila ke-4 Pancasila yang berbunyi ‘Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan’ menegaskan bahwa rakyat menjalankan kedaulatan mereka melalui proses diskusi yang bijak. Hal ini membuktikan bahwa para pendiri bangsa menyadari betul bahwa penyatuan pikiran banyak orang menghasilkan keputusan terbaik, daripada mengandalkan otoritas tunggal yang bersifat absolut.

Musyawarah sebagai Akar Budaya Indonesia

Sejarah kemerdekaan Indonesia adalah sejarah musyawarah. Para pendiri bangsa melewati proses perumusan teks proklamasi, penyusunan undang-undang dasar, hingga penentuan bentuk negara melalui meja perundingan. Budaya berembuk ini mengikis sifat egoisme sektoral. Seorang pemimpin yang enggan bermusyawarah sering kali dicap sebagai sosok yang otoriter atau egois karena mengabaikan suara masyarakatnya.

Jika kita meninjau konteks lokal, kita sebenarnya mengenal berbagai istilah musyawarah yang sangat beragam, seperti tradisi Rembug Desa di tanah Jawa maupun praktik Tudang Sipulung yang masyarakat Sulawesi jalankan. Meskipun masyarakat menyebutnya dengan istilah yang berbeda-beda, namun pada dasarnya mereka mengusung semangat yang tetap sama, yaitu senantiasa mengedepankan dialog terbuka demi mencapai kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, aktivitas ini secara otomatis menciptakan sebuah suasana yang sangat egaliter, di mana setiap individu akhirnya memiliki hak serta kesempatan yang sama untuk berbicara, tanpa harus terhalang atau merasa rendah diri terlepas dari apa pun status sosialnya.

Membangun Narasi Persatuan di Tengah Polarisasi: Belajar dari Kitab Al-Fashl Ibnu Hazm

Perspektif Islam: Konsep Syura dalam Kehidupan

Dalam literatur Islam, musyawarah dikenal dengan istilah Syura. Fitriyadi Abdillah dalam karyanya, Problem Solving & Decision Making dalam Perspektif Islam, menjelaskan bahwa syura adalah prinsip fundamental yang mendorong partisipasi aktif setiap individu dalam pengambilan keputusan.

Al-Quran memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya praktik ini. Dalam Surat Asy-Syura ayat 38, Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۚ

“(juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka…”

Ayat ini menempatkan musyawarah sejajar dengan ketaatan kepada Tuhan dan pelaksanaan salat. Ini menunjukkan bahwa bermusyawarah bukan hanya soal urusan duniawi, melainkan bagian dari bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Islam memandang musyawarah sebagai aktivitas mulia untuk menangani perkara umat dengan cara yang paling adil.

Politik Harapan: Menggerakkan Perubahan Tanpa Kekerasan melalui Keteguhan Iman

Nilai-Nilai Islam yang Terkandung dalam Musyawarah

Musyawarah di Indonesia tidak hanya sekadar bicara, tetapi membawa nilai-nilai spiritual yang sangat kuat, antara lain:

  1. Keadilan dan Keterbukaan (Tafahhum): Memberikan ruang bagi fakta untuk berbicara dan memastikan semua pihak mendapatkan informasi yang sama.

  2. Menghormati Perbedaan Pendapat (Ikhtilaf): Menyadari bahwa keberagaman pemikiran adalah rahmat, bukan alasan untuk perpecahan.

  3. Jiwa Besar dan Lapang Dada: Menerima hasil keputusan meskipun pendapat pribadi tidak terpilih, demi kepentingan yang lebih besar.

  4. Ukhuwah (Persaudaraan): Menguatkan ikatan sosial antar anggota masyarakat melalui dialog yang hangat.

    Mengelola Konflik Kepentingan: Perspektif Maslahah Mursalah dalam Kitab Al-Ihkam karya Al-Amidi

Etika Berkomunikasi: Empat Prinsip Qaulan dalam Islam

Dalam pelaksanaan musyawarah, kualitas komunikasi sangat menentukan hasil. Islam mengatur bagaimana seseorang harus berbicara agar tidak melukai hati orang lain dan tetap pada jalur kebenaran. Terdapat empat prinsip Qaulan (perkataan) yang relevan dalam musyawarah:

  • Qaulan Sadidan: Menyampaikan pesan dengan benar, lurus, dan sesuai fakta tanpa ada yang ditutup-tutupi atau dimanipulasi.

  • Qaulan Ma’rufan: Menggunakan gaya bicara yang santun, sopan, dan penuh tata krama sehingga suasana musyawarah tetap kondusif.

  • Qaulan Kariman: Mengeluarkan kata-kata yang mulia dan terhormat. Dalam musyawarah, pantang bagi seorang Muslim untuk mencela, menghina, atau menyudutkan pihak lain.

  • Qaulan Maysuran: Berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak bertele-tele, sehingga maksud dan tujuan dapat ditangkap dengan jelas oleh seluruh peserta.

Implementasi Musyawarah dalam Kehidupan Bernegara

Di masa kini, musyawarah tetap relevan dalam memecahkan masalah kompleks. Sebagai contoh, dalam menangani bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, seperti di Pulau Sumatera atau Aceh. Para pimpinan lembaga negara tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Mereka harus berkumpul, berdiskusi, dan menyusun strategi bersama melalui mekanisme musyawarah.

Keputusan yang diambil melalui proses ini cenderung lebih akurat dan lebih mudah diterima oleh masyarakat karena melibatkan berbagai perspektif ahli dan pemangku kepentingan. Inilah bukti nyata bahwa warisan budaya lokal dan ajaran agama dapat bersinergi membangun peradaban yang lebih baik.

Musyawarah sebagai Identitas Bangsa

Musyawarah adalah manifestasi dari harmoni antara kearifan lokal Indonesia dengan nilai-nilai Islam. Ia mengajarkan kita untuk melepaskan ego, menghargai sesama, dan mencari kebenaran melalui jalur damai. Saat kita melestarikan budaya musyawarah yang berlandaskan etika komunikasi Islam, kita tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjalankan perintah agama untuk selalu mengutamakan kemaslahatan umat.

Mari kita jadikan musyawarah sebagai gaya hidup, baik dalam lingkup terkecil seperti keluarga, hingga lingkup yang lebih luas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan bermusyawarah, setiap masalah akan menemukan solusinya, dan setiap solusi akan membawa keberkahan bagi semua.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.