SURAU.CO – Dalam diskursus filsafat kontemporer, nama Taha Abdurrahman mungkin belum sepopuler para pemikir kiri atau liberal dari dunia Arab. Namun, melalui karyanya yang mendalam, filsuf asal Maroko ini menawarkan perspektif yang revolusioner: bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah “modernitas alternatif” yang mampu berdiri tegak di samping atau bahkan melampaui dominasi modernitas Barat.
Artikel ini akan mengupas tuntas pemikiran Taha Abdurrahman mengenai kritik terhadap rasionalisme Barat, pentingnya etika (akhlak) sebagai fondasi peradaban, dan bagaimana Islam menyediakan kerangka kerja baru untuk kemanusiaan di masa depan.
Mengenal Taha Abdurrahman dan Kegelisahan Intelektualnya
Taha Abdurrahman lahir di El Jadida, Maroko, dan menempuh pendidikan filsafat di Universitas Sorbonne, Prancis. Latar belakang pendidikannya yang kuat dalam logika dan filsafat bahasa membuatnya mampu melakukan kritik internal terhadap pemikiran Barat dengan sangat tajam. Taha memandang ketergantungan intelektual atau ‘taklid’ terhadap model modernitas Barat sebagai masalah utama dunia Islam saat ini.
Selama ini, kita sering terjebak dalam dikotomi: menjadi modern dengan cara meniru Barat secara total, atau menjadi tradisionalis dengan menolak segala bentuk kemajuan. Taha Abdurrahman memutus rantai kebuntuan ini. Ia berargumen bahwa modernitas bukanlah milik eksklusif bangsa atau wilayah tertentu. Modernitas adalah sebuah “spirit” atau ruh yang bisa dimanifestasikan melalui berbagai nilai budaya dan agama yang berbeda.
Kritik Terhadap Modernitas Barat yang Tanpa Jiwa
Salah satu poin krusial dalam pemikiran Taha adalah kritiknya terhadap landasan rasionalitas Barat. Menurutnya, modernitas Barat telah mengalami kegagalan etis karena terlalu mendewakan rasionalitas instrumental. Dalam pandangan ini, akal hanya digunakan sebagai alat untuk menguasai alam dan sesama manusia demi kepentingan material.
Dampaknya adalah lahirnya peradaban yang canggih secara teknologi tetapi kering secara spiritual. Modernitas Barat, menurut Taha, telah memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan etika, serta antara ruang publik dengan nilai-nilai ketuhanan. Hal inilah yang menyebabkan krisis kemanusiaan, mulai dari kerusakan lingkungan hingga ketimpangan sosial yang akut.
Konsep “Ruh al-Hadathah” atau Spirit Modernitas
Dalam bukunya yang fenomenal, Ruh al-Hadathah (Spirit Modernitas), Taha menjelaskan bahwa ada perbedaan mendasar antara “spirit modernitas” dengan “aplikasi modernitas”. Spirit modernitas mencakup nilai-nilai universal seperti kreativitas, kemandirian, dan kritik. Namun, apa yang kita lihat di Barat saat ini hanyalah salah satu bentuk aplikasi dari spirit tersebut.
Taha Abdurrahman menegaskan bahwa umat Islam memiliki hak dan kewajiban untuk menciptakan “aplikasi modernitas” mereka sendiri yang berbasis pada wahyu dan tradisi intelektual Islam. Inilah yang ia sebut sebagai modernitas alternatif. Modernitas ini tidak harus mengikuti pola sekularisasi atau liberalisme ekstrem yang ada di Eropa atau Amerika.
Akhlak sebagai Fondasi Utama Peradaban
Jika modernitas Barat bertumpu pada rasionalitas murni, maka modernitas Islam yang ditawarkan Taha Abdurrahman bertumpu pada Etika atau Akhlak. Bagi Taha, akhlak bukan sekadar perilaku sopan santun, melainkan fondasi ontologis dari keberadaan manusia.
Ia memperkenalkan istilah tahdhib al-akhlaq atau penyempurnaan etika dalam spektrum yang sangat luas. Dalam sistem pemikirannya, tidak ada ilmu pengetahuan yang bebas nilai. Politik, ekonomi, hingga sains harus tunduk pada kontrol etis. Tanpa etika, kemajuan manusia hanya akan menjadi mesin penghancur bagi dirinya sendiri.
Taha melihat bahwa Islam memiliki kekayaan spiritual (tasawuf) yang bisa menjadi jawaban atas kekosongan jiwa manusia modern. Namun, tasawuf yang ia maksud bukanlah isolasi diri, melainkan keterlibatan aktif dalam dunia dengan bimbingan spiritual yang kuat.
Paradigma Trusteeship (Al-I’timaniya)
Konsep lain yang sangat penting dalam pemikiran Taha adalah I’timaniya atau paradigma amanah (trusteeship). Dalam pandangan ini, manusia bukanlah penguasa absolut atas alam semesta (tasayyud), melainkan pengelola yang memegang amanah dari Tuhan (ta’abbud).
Perbedaan paradigma ini sangat mendasar:
-
Paradigma Barat: Manusia merasa memiliki alam secara penuh, sehingga bebas mengeksploitasinya demi keuntungan.
-
Paradigma Taha Abdurrahman: Manusia adalah penjaga yang bertanggung jawab kepada Sang Pencipta. Segala tindakan harus didasari oleh rasa syukur, kerendahan hati, dan tanggung jawab moral.
Mengapa Pemikiran Taha Abdurrahman Relevan Saat Ini?
Di tengah arus globalisasi yang sering kali menghapus identitas lokal, pemikiran Taha memberikan rasa percaya diri bagi masyarakat non-Barat, khususnya umat Islam. Ia membuktikan bahwa kita bisa menjadi modern tanpa harus kehilangan jati diri.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa kita perlu mempelajari pemikirannya:
-
Melawan Intelektual Minder: Mengajarkan kita untuk tidak sekadar membebek pada teori-teori Barat.
-
Solusi Krisis Moral: Menawarkan kerangka etika yang kuat untuk menghadapi tantangan teknologi (seperti AI dan bioteknologi).
-
Integrasi Ilmu: Menyatukan kembali dimensi spiritual dengan dimensi rasional dalam kehidupan sehari-hari.
Menuju Masa Depan yang Lebih Beretika
Taha Abdurrahman telah membuka cakrawala baru bahwa “Islam adalah modernitas”. Islam memiliki semua perangkat yang dibutuhkan untuk membangun peradaban masa depan yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan.
Melalui gagasan modernitas alternatif, kita diajak untuk kembali merenungkan posisi kita sebagai manusia. Apakah kita hanya ingin menjadi konsumen peradaban orang lain, atau kita berani menjadi produsen peradaban yang berbasis pada nilai-nilai luhur kita sendiri? Jawaban atas tantangan ini akan menentukan posisi umat Islam dalam panggung sejarah dunia di masa yang akan datang.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
