Khazanah
Beranda » Berita » Menelusuri Dimensi Kehambaan dalam Peristiwa Isra Mi’raj: Refleksi Spiritual dan Intelektual

Menelusuri Dimensi Kehambaan dalam Peristiwa Isra Mi’raj: Refleksi Spiritual dan Intelektual

Peristiwa Isra Mi’raj: Refleksi Spiritual dan Intelektual
Peristiwa Isra Mi’raj: Refleksi Spiritual dan Intelektual

SURAU.CO – Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar catatan sejarah dalam kalender Islam yang dirayakan secara seremonial setiap tahunnya. Lebih dari itu, perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga menuju Sidratul Muntaha menyimpan rahasia besar mengenai hakikat “kehambaan” atau ’abd. Dalam perspektif spiritual, peristiwa ini merupakan puncak dari pengakuan Tuhan terhadap posisi manusia sebagai hamba yang paling mulia.

Makna Penyucian Diri: Persiapan Menuju Perjalanan Agung

Berbagai riwayat sering mengisahkan satu fragmen penting sebelum Allah memberangkatkan Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan lintas dimensi tersebut: Malaikat Jibril membedah dada Nabi. Dalam konteks medis modern, kita bisa melihat peristiwa ini sebagai prototipe ilmu bedah kedokteran. Namun, secara esoteris, pembedahan ini adalah simbol penyucian total.

Penyucian ini menjadi syarat mutlak karena perjalanan yang akan ditempuh bukanlah perjalanan biasa. Untuk menghadap Sang Pencipta di Sidratul Muntaha, seseorang harus terbebas dari segala noda batin, kepentingan duniawi, dan penyakit hati. Prinsip “La yamassuhu illal mutohharun” (tidak ada yang menyentuhnya kecuali mereka yang disucikan) berlaku di sini. Bukan hanya suci secara lahiriah dengan wudhu, tetapi juga suci secara batiniah.

Hal ini mengajarkan kita bahwa dalam setiap upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, kita harus melakukan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa sebagai langkah pertama. Tanpa hati yang bersih, mustahil bagi seorang hamba untuk merasakan “kehadiran” Tuhan dalam hidupnya.

Melampaui Logika Ruang dan Waktu

Secara ilmiah, perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem lalu naik ke langit ketujuh dalam waktu kurang dari semalam adalah sesuatu yang mustahil jika menggunakan hukum fisika klasik. Immanuel Kant, seorang filsuf besar, pernah menyatakan bahwa ruang dan waktu adalah dua hal yang tak terpisahkan. Secara logika manusia, menempuh jarak ribuan kilometer dan menembus lapisan langit memerlukan waktu yang sangat lama.

Konsistensi: Amal Sunyi yang Menjaga Peradaban

Namun, Isra Mi’raj justru hadir untuk mematahkan keterbatasan akal manusia tersebut. Di sinilah keimanan menguji dimensi kehambaan kita. Jika kita memandang peristiwa ini dengan kacamata ketuhanan, maka Tuhanlah yang menciptakan hukum ruang dan waktu, dan Sang Pencipta tentu berkuasa melipat atau meniadakan hukum tersebut bagi hamba yang Dia kehendaki.

Istilah “Abdan” dalam Al-Qur’an: Puncak Kemuliaan Manusia

Satu hal menarik yang ditekankan dalam peristiwa isra’ mi’raj adalah penggunaan kata “Subhanalladzi asra bi ‘abdihi” dalam surat Al-Isra ayat 1. Mengapa Allah menggunakan kata ‘abdihi (hamba-Nya) dan bukan nabihi (nabi-Nya) atau rasulihi (rasul-Nya)?

Penggunaan kata “hamba” menunjukkan kedudukan tertinggi manusia di hadapan Allah. Menjadi seorang hamba berarti mengakui kefakiran, kelemahan, dan ketergantungan total kepada Sang Khalik. Ironisnya, justru dalam posisi “paling rendah” (sebagai hamba) inilah, manusia diangkat ke tempat “paling tinggi” (Sidratul Muntaha).

Ini adalah paradoks spiritual yang luar biasa:

  1. Kehambaan adalah Kebebasan: Dengan menjadi hamba Tuhan, manusia justru terbebas dari perbudakan sesama makhluk, materi, dan hawa nafsu.

    Makna Pernikahan dalam Islam: Solusi di Tengah Tantangan Generasi Muda

  2. Kehambaan adalah Kekuatan: Pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Allah justru mendatangkan kekuatan ilahi yang memungkinkan hal-hal mustahil terjadi.

Shalat sebagai Mi’raj-nya Orang Beriman

Hasil utama dari peristiwa Isra Mi’raj adalah perintah shalat lima waktu. Jika Nabi Muhammad melakukan Mi’raj secara fisik dan ruhani ke Sidratul Muntaha, maka umatnya diberikan sarana untuk melakukan “Mi’raj spiritual” melalui shalat.

Dalam shalat, seorang mukmin melepaskan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia, berdiri menghadap kiblat, dan berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Dimensi kehambaan sangat kental dalam setiap gerakan shalat, terutama saat sujud. Sujud menjadi simbol penyerahan diri paling total, di mana seseorang meletakkan bagian tubuh yang paling mulia (kepala) sejajar dengan tanah. Pada titik terendah inilah, secara ruhani manusia berada paling dekat dengan Allah SWT.

Relevansi Dimensi Kehambaan di Era Modern

Di zaman modern yang serba materialistik ini, manusia sering kali terjebak dalam kesombongan intelektual dan ego yang besar. Kita sering merasa menjadi “tuan” atas hidup kita sendiri dan melupakan status asli kita sebagai hamba.

Refleksi atas Isra Mi’raj mengajak kita untuk kembali sadar akan posisi kita. Dimensi kehambaan mengajarkan kita untuk:

Antara Taat dan Tunduk: Mengembalikan Kesadaran Kritis dalam Kehidupan Beragama

  • Rendah Hati: Menyadari bahwa kecerdasan dan harta hanyalah titipan yang bisa diambil kapan saja.

  • Etos Kerja sebagai Ibadah: Melakukan segala sesuatu bukan demi pujian manusia, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.

  • Keseimbangan Lahir Batin: Tidak hanya mengejar kesuksesan material, tetapi juga konsisten dalam menjaga kesucian hati.

Peristiwa Isra Mi’raj senantiasa mengingatkan kita bahwa kemampuan seseorang dalam menempatkan diri sebagai hamba di hadapan Sang Pencipta menentukan kemuliaan manusia, melampaui jabatan ataupun kekayaan. Melalui penyucian diri, pengakuan akan keterbatasan akal, dan konsistensi dalam ibadah shalat, kita dapat meraih esensi dari dimensi kehambaan tersebut.

Sebagai hamba, kita tidak bertugas memahami seluruh rahasia Tuhan dengan logika yang terbatas, melainkan harus berserah diri dan mengikuti jalan yang telah Dia tetapkan dengan penuh keimanan. Semoga setiap peringatan Isra Mi’raj membawa kita selangkah lebih dekat menuju kualitas ‘hamba’ yang Allah SWT cintai.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.