SURAU.CO – Di tengah budaya yang mengagungkan pencapaian, gelar, dan pengaruh, manusia modern semakin akrab dengan etalase keberhasilan, tetapi semakin jauh dari kesadaran kehambaan. Media sosial menjadi panggung pembuktian diri, jabatan menjadi ukuran nilai, dan popularitas sering dianggap sebagai legitimasi kebenaran. Dalam iklim semacam ini, rendah hati terdengar seperti nasihat klasik yang lembut, tetapi sesungguhnya ia adalah sikap revolusioner yang menyelamatkan hati.
Islam sejak awal menempatkan tawadhu’ (rendah hati) sebagai fondasi akhlak. Bukan sekadar etika sosial, tetapi kesadaran teologis: bahwa manusia tidak memiliki apa-apa kecuali apa yang Allah titipkan. Karena itu, kesombongan dalam Islam bukan hanya cacat kepribadian, melainkan penyakit iman.
Allah mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam ilusi kebesaran diri:
> “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.”¹
Ayat ini meruntuhkan mitos keperkasaan manusia. Setinggi apa pun jabatan, seluas apa pun pengaruh, manusia tetap makhluk rapuh yang hidup dari napas yang setiap detiknya bisa dihentikan oleh Pemilik kehidupan.
Segalanya Hanya Titipan
Salah satu sebab utama lahirnya kesombongan adalah ilusi kepemilikan. Manusia merasa memiliki ilmu, merasa memiliki jabatan, merasa memiliki harta, seakan semua itu lahir dari dirinya sendiri. Padahal, Al-Qur’an secara tegas menegur cara pandang ini:
> “Katakanlah: Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki…”²
Kekuasaan, kehormatan, dan kedudukan bukan hasil mutlak kecerdasan manusia, tetapi karunia yang bisa dicabut kapan saja. Sejarah penuh dengan figur yang kemarin dielu-elukan, hari ini ditinggalkan. Kemarin berada di puncak, hari ini berada di tepi. Kemarin memberi perintah, hari ini menerima perawatan.
Kesadaran bahwa semua hanyalah titipan inilah yang melahirkan rendah hati. Orang yang tawadhu’ tidak sibuk membesarkan diri, karena ia tahu apa pun yang ia miliki bisa hilang sebelum ia sempat membanggakannya.
Penjaga Nilai Amal
Dalam perspektif Islam, rendah hati bukan hanya soal hubungan antarmanusia, tetapi juga soal keselamatan amal. Banyak amal yang secara lahir tampak besar, tetapi menjadi ringan di sisi Allah karena disertai kesombongan dan rasa paling berjasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”³
Hadis ini menempatkan kesombongan sebagai ancaman serius bagi keselamatan akhirat. Sebab kesombongan membuat seseorang sulit menerima kebenaran jika datang dari orang yang dianggap “lebih rendah”. Ia menutup pintu nasihat, mematikan semangat belajar, dan menumbuhkan kebiasaan menghakimi.
Sebaliknya, rendah hati menjaga amal agar tetap hidup. Orang yang rendah hati mudah mengakui salah, lapang menerima kritik, dan ringan kembali kepada kebenaran. Ia tidak sibuk mempertahankan citra, tetapi sibuk menjaga hati.
Dalam konteks dakwah, rendah hati adalah benteng agar ilmu tidak berubah menjadi alat merendahkan, dan aktivitas keagamaan tidak menjelma panggung ego. Ia menjaga agar amal tetap berjalan di rel keikhlasan.
Paradoks Ketinggian
Islam menghadirkan satu paradoks moral yang indah: semakin tinggi Allah mengangkat seseorang, semakin dalam ia seharusnya menundukkan hati. Ketinggian bukan alasan untuk membusung, tetapi alasan untuk semakin tunduk.
Allah menggambarkan identitas hamba pilihan-Nya:
> “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…”⁴
Rendah hati bukan sifat pelengkap, melainkan identitas. Ia adalah tanda bahwa seseorang benar-benar mengenal Tuhannya. Sebab semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin kecil ia memandang dirinya.
Rasulullah ﷺ, manusia paling mulia, adalah teladan tertinggi dalam hal ini. Beliau hidup sederhana, duduk bersama orang miskin, memenuhi undangan budak, menambal sandalnya sendiri, dan tidak membedakan perlakuan antara elite dan awam. Padahal, jika beliau mau, dunia akan tunduk di hadapannya.
Beliau bersabda:
> “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”⁵
Janji ini membalik logika dunia. Dunia berkata, “Tinggikan dirimu agar dihormati.” Islam berkata, “Rendahkan dirimu di hadapan Allah, niscaya Dia yang akan mengangkatmu.”
Dimensi Psikologis Rendah Hati
Selain bernilai teologis, rendah hati juga menyehatkan jiwa. Kesombongan membuat hidup penuh ketegangan: mudah tersinggung, sulit puas, dan selalu merasa terancam. Ia melahirkan kebutuhan terus-menerus untuk diakui dan dibenarkan.
Sebaliknya, rendah hati melapangkan dada. Orang yang rendah hati tidak runtuh ketika dikritik, tidak mabuk ketika dipuji, dan tidak hancur ketika diabaikan. Ia hidup dengan standar yang lebih tinggi daripada penilaian manusia: standar ridha Allah.
Rendah hati membebaskan manusia dari penjara ego. Ia membuat seseorang mudah memaafkan karena sadar dirinya pun penuh salah. Ia membuat seseorang tulus menghargai orang lain karena sadar setiap manusia membawa kelebihan yang Allah titipkan.
Dalam tradisi keilmuan Islam, kerendahan hati para ulama menjadi sebab keberkahan ilmu mereka. Imam Malik rahimahullah, meskipun imam besar Madinah, tidak segan menjawab “aku tidak tahu” atas banyak pertanyaan. Ini bukan kelemahan, melainkan kematangan spiritual.
Standar Kemuliaan yang Berbeda
Islam menutup semua ukuran duniawi tentang kemuliaan dengan satu kriteria tunggal:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”⁶
Takwa tidak selalu identik dengan sorotan. Ikhlas tidak selalu tampak di permukaan. Karena itu, orang beriman tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan, dan tidak menjadikan celaan manusia sebagai akhir segalanya.
Ia bekerja bukan untuk disebut, tetapi untuk diterima. Ia berdakwah bukan untuk disanjung, tetapi untuk ditunaikan. Ia beramal bukan untuk membangun citra, tetapi untuk menghadap Tuhan.
Di sinilah rendah hati menemukan makna terdalamnya: mengecil di hadapan Allah agar tidak sibuk membesar di hadapan manusia.
Menjaga Hati hingga Ujung Usia
Rendah hati bukan capaian sesaat, tetapi perjuangan seumur hidup. Ia harus dijaga ketika seseorang mulai dikenal, ketika mulai dipercaya, ketika mulai diikuti. Sebab sering kali, kesombongan justru tumbuh bukan saat seseorang belum punya apa-apa, tetapi ketika ia mulai “menjadi”.
Karena itu, nasihat ini selalu relevan: tetaplah rendah hati. Agar ilmu menjadi berkah, bukan alat merasa paling benar. Dan Agar amal menjadi cahaya, bukan bahan kebanggaan. Agar peran sosial menjadi ladang pahala, bukan jebakan ego.
Sebab yang paling kita takutkan bukan sedikitnya amal, tetapi rusaknya amal. Dan yang paling kita harapkan bukan tepuk tangan manusia, tetapi keselamatan di hadapan Allah.
Footnote
- QS. Al-Isrā’: 37
-
QS. Āli ‘Imrān: 26
-
HR. Muslim, no. 91
-
QS. Al-Furqān: 63
-
HR. Muslim, no. 2588
- QS. Al-Ḥujurāt: 13. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat
Padang, Indonesia)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
