Kalam
Beranda » Berita » Menghakimi Orang Lain: Mengapa Kita Sering Lupa Koreksi Diri?

Menghakimi Orang Lain: Mengapa Kita Sering Lupa Koreksi Diri?

Menghakimi Orang Lain: Mengapa Kita Sering Lupa Muhasabah?
Menghakimi Orang Lain: Mengapa Kita Sering Lupa Muhasabah?

SURAU.CO – Dalam kehidupan bersosial, terutama di era digital yang serba cepat, muncul sebuah fenomena psikologis dan spiritual yang memprihatinkan: kemudahan dalam menilai orang lain. Sering kali, kita begitu cepat melontarkan kritik atau vonis terhadap tindakan orang lain tanpa menyadari bahwa kebiasaan tersebut justru menjauhkan kita dari proses koreksi diri atau muhasabah.

Mengapa kita lebih sibuk dengan “debu di mata orang lain” daripada “gajah di pelupuk mata sendiri”? Artikel ini akan mengulas secara mendalam bahaya sikap menghakimi, dampaknya terhadap kesehatan batin, serta bagaimana perspektif Islam memberikan solusi untuk menjaga kejernihan hati.

Fenomena Menghakimi di Era Digital

Di dunia maya, jari-jemari kita sering kali bergerak lebih cepat daripada pikiran. Kolom komentar di media sosial menjadi saksi betapa mudahnya seseorang menghujat atau memberikan label buruk kepada orang yang bahkan tidak dikenalnya secara pribadi. Penilaian spontan ini biasanya hanya didasarkan pada potongan video atau narasi singkat yang muncul di beranda, tanpa memahami konteks atau pergulatan batin yang dialami oleh orang tersebut.

Setiap orang memiliki latar belakang dan ujian hidup yang berbeda. Menghakimi mereka hanya akan menumbuhkan kesombongan yang membuat kita buta terhadap kekurangan diri sendiri.

Akar Masalah: Penyakit Sombong yang Halus

Salah satu dampak paling berbahaya dari seringnya menilai kesalahan orang lain adalah tumbuhnya rasa bangga diri (ujub) dan kesombongan. Tanpa disadari, ketika kita melihat orang lain salah, muncul perasaan bahwa diri kita lebih suci, lebih baik, atau lebih aman dari dosa.

Makna Ikhlas di Era Digital: Tantangan Ketulusan di Dunia Maya

Kesombongan ini sering kali bersifat halus (khafi). Ia tidak selalu muncul dalam bentuk kata-kata sombong, melainkan dalam getaran batin yang meremehkan orang lain. Dalam ajaran Islam, sombong adalah penyakit hati yang sangat serius. Ulama memperingatkan bahwa penyakit batin lebih sulit disembuhkan daripada dosa lahiriah, karena pelakunya sering kali tidak menyadari kesalahannya.

Mengapa Penyakit Hati Lebih Berbahaya?

Dosa yang terlihat oleh mata, seperti mencuri atau berbohong, biasanya akan membawa rasa malu yang mendorong seseorang untuk segera bertaubat. Sebaliknya, penyakit hati seperti merasa lebih baik dari orang lain justru membuat seseorang merasa berada di jalan yang benar, sehingga ia kehilangan keinginan untuk memperbaiki diri.

Pentingnya Sikap Tawadhu dalam Interaksi Sosial

Sebagai lawan dari sifat sombong, Islam mengajarkan konsep tawadhu atau rendah hati. Tawadhu bukan berarti kita harus merendahkan diri serendah-rendahnya hingga kehilangan harga diri, melainkan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki celah dan kelemahan yang sama.

Seorang yang memiliki sifat tawadhu akan berpikir dua kali sebelum melontarkan kritik pedas. Ia akan menyadari bahwa posisi yang ia tempati saat ini adalah berkat rahmat Allah, bukan semata-mata karena kekuatannya sendiri. Dengan sikap ini, kita akan lebih mudah berempati dan memberikan ruang bagi orang lain untuk berproses.

Muhasabah: Seni Melihat ke Dalam Diri

Solusi utama untuk mengatasi kebiasaan menghakimi adalah dengan memperbanyak muhasabah atau introspeksi diri. Muhasabah mengajak kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk menilai dunia luar, lalu mengarahkan pandangan ke dalam ruang batin pribadi.

Keutamaan Menghormati Orang yang Lebih Tua: Adab, Dalil, dan Berkahnya dalam Islam

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Ayat ini merupakan perintah tegas bagi setiap mukmin untuk selalu melakukan audit terhadap amal perbuatannya. Fokuslah pada apa yang sudah kita siapkan untuk masa depan (akhirat), daripada sibuk mencatat dosa-dosa orang lain yang belum tentu benar dalam pandangan Allah.

Allah Sang Pemilik Penilaian Mutlak

Salah satu prinsip fundamental yang sering kita lupakan adalah bahwa hanya Allah yang berhak memberikan penilaian akhir terhadap hamba-Nya. Penilaian manusia selalu terbatas pada hal-hal yang bersifat lahiriah atau fisik. Kita hanya melihat apa yang tampak di permukaan, sementara Allah melihat apa yang tersembunyi jauh di lubuk hati yang paling dalam.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menekankan hal ini: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Hadis ini seharusnya menjadi rem bagi kita semua. Jika Allah saja sangat memperhatikan kualitas hati, mengapa kita justru sibuk menilai kulit luar? Kadang, seseorang yang kita anggap buruk di mata manusia justru memiliki satu amal rahasia atau penyesalan mendalam yang membuatnya sangat mulia di sisi Allah. Sebaliknya, seseorang yang tampak sangat saleh secara lahiriah bisa jadi hatinya penuh dengan penyakit riya.

Menjaga Lisan: Rahasia Menjemput Keselamatan dan Kebahagiaan Hidup

Langkah Praktis untuk Berhenti Menghakimi

Untuk mengubah kebiasaan buruk ini menjadi pribadi yang lebih bijak, ada beberapa langkah yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Tunda Penilaian: Saat melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dari orang lain, jangan langsung memberikan label. Ingatlah bahwa Anda hanya melihat sebagian kecil dari realitas mereka.

  2. Cari Alasan Baik (Husnudzon): Cobalah mencari 70 alasan mengapa orang tersebut melakukan kesalahan tersebut sebelum Anda mengkritiknya.

  3. Fokus pada Kekurangan Sendiri: Gunakan waktu yang biasanya dipakai untuk menggunjing orang lain untuk muhasabah guna memperbaiki kekurangan diri, baik itu sifat malas, temperamen, atau kualitas ibadah.

  4. Ingat Batas Otoritas: Sadarilah bahwa Anda bukan hakim atas kehidupan orang lain. Tugas kita adalah saling menasihati dengan cara yang baik, bukan menghakimi.

Kembali ke Fitrah Kemanusiaan

Menghakimi orang lain adalah jalan pintas yang merusak pertumbuhan spiritual kita. Saat kita terlalu sibuk membenahi hidup orang lain, kita kehilangan kesempatan emas untuk memperbaiki kualitas diri kita sendiri.

Fokuslah memperbaiki diri dan memohon ampunan kepada Allah. Introspeksi yang konsisten akan melembutkan hati, mengharmoniskan hubungan, dan menyadarkan kita bahwa hanya Allah hakim yang paling adil.

Semoga kita dijauhkan dari penyakit sombong dan senantiasa diberikan kekuatan untuk terus melakukan perbaikan diri setiap harinya.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.