SURAU.CO – Di zaman yang serba terkoneksi saat ini, masyarakat sering kali memperbincangkan kata ikhlas di era digital sebagai topik hangat, namun mereka sekaligus merasa sulit untuk mempraktikkannya. Kita sering menemui kata “ikhlas” terselip dalam khotbah, buku motivasi, hingga caption di media sosial. Namun, apakah kita benar-benar memahami makna ikhlas ketika kita hampir selalu membarengi setiap tindakan baik dengan keinginan untuk mengunggahnya ke internet?
Artikel ini mengulas secara mendalam transformasi makna ikhlas, tantangan di tengah budaya pamer (performatif), serta cara kita menjaga ketulusan hati di tengah gempuran metrik digital.
Apa Itu Ikhlas? Melampaui Definisi Ketulusan Biasa
Secara bahasa, ikhlas sering diterjemahkan sebagai ketulusan. Namun, dalam cakupan filosofi Islam, ikhlas memiliki kedalaman yang jauh lebih besar. Ikhlas adalah proses pemurnian niat. Ia adalah sebuah kondisi batin di mana seseorang menyelaraskan tindakannya agar terbebas dari tarikan ego, keinginan untuk dipuji, atau tujuan transaksional lainnya.
Ikhlas bukan sekadar “melakukan hal baik”, melainkan “mengapa” hal baik itu dilakukan. Di sinilah letak jantung moralitas. Ikhlas memosisikan diri kita bukan sebagai pencari validasi, melainkan sebagai hamba yang mengorientasikan setiap tindakan pada makna yang lebih tinggi, yakni pengabdian kepada Tuhan.
Tantangan Era Performatif: Ketika Kebaikan Menjadi Konten
Kita kini hidup di era performatif. Saat ini, orang-orang hampir tidak pernah membiarkan sebuah tindakan terjadi dalam kesunyian. Mereka sering kali mendokumentasikan dan membagikan aktivitas seperti makan siang, sedekah, hingga ibadah umrah, sembari mengharapkan respons berupa like atau komentar.
Fenomena ini menciptakan tantangan besar bagi konsep ikhlas di era digital. Ketika sebuah perbuatan baik berubah menjadi konten, garis antara niat tulus dan upaya membangun citra diri (personal branding) menjadi sangat tipis. Seseorang mungkin awalnya berniat tulus membantu sesama, namun begitu ia merasakan “candu” dari pujian warganet, niatnya perlahan bergeser dari mencari rida Tuhan menjadi mencari pengakuan sosial.
Belajar dari Ulama Klasik: Kewaspadaan Batin Menurut Al-Ghazali
Para ulama klasik seperti Imam Al-Ghazali telah memperingatkan kelicikan ego manusia jauh sebelum penemuan algoritma media sosial. Dalam kitab-kitabnya, Al-Ghazali menjelaskan bahwa ego atau nafs mampu menyamar di balik jubah kebajikan. Seseorang bisa merasa sedang beribadah, padahal sebenarnya ia sedang memuaskan dahaga egonya agar terlihat saleh.
Oleh karena itu, ikhlas bukanlah sebuah tujuan statis yang sekali diraih akan bertahan selamanya. Ikhlas adalah perjuangan yang terus-menerus (mujahadah). Ia adalah bentuk kewaspadaan batin untuk selalu memeriksa apakah di dalam hati kita masih tersisa keinginan untuk dipuji manusia.
Paradoks Keikhlasan yang Dipamerkan
Di era digital, salah satu fenomena yang paling meresahkan muncul ketika seseorang memamerkan ‘kerendahan hati’ itu sendiri. Kita sering mendapati orang-orang mengumumkan keengganan mereka untuk dikenal, namun ironisnya, tindakan tersebut justru melambungkan popularitas mereka. Ini adalah paradoks keikhlasan kontemporer.
Pertanyaannya: apakah ikhlas bisa bertahan dalam visibilitas (keterlihatan)? Para sufi memberikan jawaban yang bijak. Mereka tidak mengharuskan semua tindakan disembunyikan secara total. Namun, mereka menekankan pada “pelepasan dari hasil”.
Menurut Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam, ukuran keikhlasan bukan pada apakah orang melihat amal kita, melainkan pada apakah penilaian orang tersebut mengubah suasana hati kita. Jika pujian membuat kita semakin semangat beramal dan cacian membuat kita berhenti, maka itu pertanda bahwa niat kita belum sepenuhnya murni.
Melawan Logika Algoritma dengan Kebebasan Internal
Dunia digital bekerja berdasarkan logika visibilitas. Semakin terlihat, semakin dianggap berharga. Sebaliknya, ikhlas bekerja dengan logika yang sangat kontradiktif dengan budaya populer saat ini. Ikhlas menuntut kita untuk berani tidak diperhatikan dan berani tidak dirayakan.
Di sinilah ikhlas di era digital berfungsi sebagai bentuk perlawanan atau kontra-budaya. Saat algoritma memaksa kita untuk terus memproduksi konten demi validasi, ikhlas mengajak kita untuk kembali ke ruang privat hati. Ikhlas membebaskan kita dari “tiranny of visibility” (tirani keterlihatan).
Ikhlas sebagai Jalan Menuju Kebebasan
Menjadi ikhlas di zaman sekarang bukan berarti kita harus menutup diri dari dunia luar atau menghapus semua akun media sosial. Ikhlas adalah tentang keterlibatan tanpa kepemilikan. Kita bisa tetap berkarya, mengajar, dan berbagi di ruang digital, namun hati kita tetap berlabuh pada tujuan yang lebih mulia, bukan pada riuh rendah tepuk tangan penonton.
Pada akhirnya, ikhlas adalah sebuah kemerdekaan. Merdeka dari penilaian manusia, merdeka dari kecemasan akan citra diri, dan merdeka dari kewajiban untuk selalu menceritakan kebaikan kita sendiri. Dengan ikhlas, setiap tindakan kita akan mendapatkan kembali martabat dan kedalamannya. Ikhlas bukan sekadar slogan, melainkan sikap hidup yang harus kita perjuangkan setiap hari di dunia yang serba digital ini.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
