SURAU.CO – Dalam sejarah perjuangan Islam, terdapat banyak figur inspiratif yang menunjukkan loyalitas luar biasa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Salah satu sosok yang kisahnya melegenda karena keajaiban yang terjadi setelah wafatnya adalah Ashim bin Tsabit RA. Ia bukan sekadar pejuang di medan laga, melainkan seorang mukmin yang memegang teguh janji sucinya kepada Allah hingga titik darah penghabisan.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam perjalanan hidup, keteguhan iman, hingga mukjizat yang melindungi jasad Ashim bin Tsabit dari jamahan kaum musyrikin.
Siapakah Ashim bin Tsabit?
Ashim bin Tsabit al-Anshari adalah salah satu sahabat Nabi dari golongan kaum Anshar di Madinah. Sejak memeluk Islam, ia dikenal sebagai pemanah ulung dan pejuang yang gagah berani. Rasulullah SAW bahkan pernah memuji teknik bertempurnya dan menyarankan para sahabat lain untuk belajar taktik perang dari Ashim.
Namanya mulai dikenal luas setelah peristiwa Perang Badar dan Perang Uhud. Dalam pertempuran tersebut, Ashim berhasil menumbangkan beberapa pembesar kaum Quraisy, termasuk putra-putra dari seorang wanita bernama Sulafah binti Sa’ad. Dendam yang membara di hati Sulafah inilah yang nantinya menjadi pemicu peristiwa dramatis dalam hidup Ashim.
Sumpah Setia: Tak Akan Menyentuh dan Disentuh Musyrik
Salah satu keistimewaan Ashim bin Tsabit adalah nazarnya yang sangat kuat. Ia bersumpah di hadapan Allah bahwa selama hidupnya, ia tidak akan pernah menyentuh orang musyrik dan tidak akan membiarkan dirinya disentuh oleh mereka.
Sumpah ini didasari oleh prinsip kesucian jiwa dan raga seorang mukmin yang sangat membenci kesyirikan. Baginya, bersentuhan dengan mereka yang memusuhi Allah adalah sebuah hal yang ingin ia hindari seumur hidup. Allah SWT rupanya mendengar dan mengabulkan sumpah tulus hamba-Nya ini, bahkan setelah ia menghembuskan napas terakhir.
Tragedi di Ar-Raji: Pengkhianatan yang Menyakitkan
Kisah heroik Ashim mencapai puncaknya pada peristiwa Ar-Raji. Saat itu, sekelompok orang dari kabilah Adhal dan Al-Qarah datang menemui Rasulullah SAW, berpura-pura telah masuk Islam dan meminta dikirimkan guru agama untuk mengajar suku mereka.
Rasulullah SAW kemudian mengutus sepuluh orang sahabat di bawah pimpinan Ashim bin Tsabit. Namun, di tengah perjalanan menuju daerah Ar-Raji, mereka dikhianati. Ternyata permintaan guru agama tersebut hanyalah jebakan. Mereka dihadang oleh sekitar 100 orang pemanah dari Bani Lihyan (bagian dari suku Hudzail).
Melihat jumlah musuh yang tidak seimbang, Ashim dan rekan-rekannya naik ke atas bukit untuk bertahan. Musuh menawarkan jaminan keselamatan jika mereka mau menyerah. Namun, Ashim bin Tsabit dengan tegas menolak. Ia memilih gugur sebagai syuhada daripada menyerahkan diri kepada orang-orang kafir yang telah mengkhianati janji mereka.
Doa Terakhir Sang Syuhada
Sesaat sebelum syahid, Ashim memanjatkan doa yang sangat masyhur: “Ya Allah, aku telah menjaga agama-Mu di awal siang (hidupku), maka jagalah daging dan tulangku di akhir siang (setelah wafatku).”
Ia berperang dengan gigih hingga sisa anak panah di kantongnya habis. Setelah itu, ia terus melawan menggunakan pedang sampai akhirnya puluhan anak panah musuh menembus tubuhnya. Ashim pun gugur sebagai syuhada di bukit tersebut.
Keajaiban Setelah Wafat: Pasukan Lebah sebagai Pelindung
Kabar kematian Ashim bin Tsabit segera sampai ke telinga kaum Quraisy di Mekah. Sulafah binti Sa’ad, yang menyimpan dendam kesumat, telah menjanjikan hadiah melimpah berupa emas dan unta bagi siapa saja yang bisa membawa kepala Ashim kepadanya. Ia berambisi menjadikan tengkorak Ashim sebagai wadah meminum khamr.
Pasukan musuh pun segera bergerak untuk mengambil jasad Ashim guna memenggal kepalanya. Namun, sesuatu yang luar biasa terjadi. Saat mereka mendekat, tiba-tiba muncul awan gelap yang ternyata adalah ribuan ekor lebah atau tawon hutan yang menutupi seluruh tubuh Ashim.
Setiap kali pasukan musuh mencoba mendekat, lebah-lebah tersebut menyerang dengan sengit. Mereka tidak mampu menyentuh kulit Ashim sedikit pun. “Biarkan saja sampai malam tiba, lebah-lebah itu pasti akan pergi,” ujar salah satu dari mereka.
Allah Menjaga Hingga Akhir
Allah SWT memiliki cara tersendiri untuk menyempurnakan penjagaan-Nya. Ketika malam tiba, alih-alih lebah itu pergi dan membiarkan musuh mengambil jasad Ashim, tiba-tiba langit menurunkan hujan yang sangat lebat secara mendadak.
Banjir bandang kemudian datang melanda lembah tersebut dan menghanyutkan jasad Ashim bin Tsabit ke tempat yang tersembunyi. Keesokan harinya, ketika kaum musyrikin kembali mencari, mereka tidak menemukan jejak sedikit pun dari jasad sang sahabat Nabi. Allah menyembunyikan jasad kekasih-Nya agar tetap suci dari tangan-tangan kotor kaum musyrik, sesuai dengan sumpah yang Ashim ucapkan semasa hidupnya.
Hikmah dari Kisah Ashim bin Tsabit
Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam mengenai kekuatan doa dan kejujuran dalam beriman. Ketika seorang hamba jujur kepada Allah, maka Allah akan menjaga martabatnya, baik saat hidup maupun setelah mati. Umar bin Khattab RA saat mendengar kisah ini berkata, “Allah benar-benar menjaga hamba-Nya yang mukmin. Ashim bernazar tidak akan menyentuh musyrik dan tidak disentuh musyrik saat hidup, maka Allah menjaganya agar tidak disentuh setelah ia mati.”
Melalui kisah Ashim bin Tsabit, kita belajar bahwa kemuliaan bukanlah terletak pada bagaimana kita mati, melainkan pada prinsip apa kita hidup dan sejauh mana kepercayaan kita kepada perlindungan Allah SWT.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
