Sejarah
Beranda » Berita » Sejarah dan Jejak Peradaban: 5 Kerajaan Islam di Indonesia yang Mengubah Nusantara

Sejarah dan Jejak Peradaban: 5 Kerajaan Islam di Indonesia yang Mengubah Nusantara

Kerajaan Islam di Indonesia
Kerajaan Islam di Indonesia

SURAU.CO – Sejarah panjang Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh besar agama Islam. Jauh sebelum era kolonialisme merambah secara masif, berbagai kerajaan Islam di Indonesia telah berdiri kokoh dan menjadi pusat peradaban, perdagangan, hingga pendidikan agama. Masuknya Islam ke Nusantara membawa transformasi besar, mulai dari sistem pemerintahan dari konsep “Dewa Raja” menjadi “Sultan”, hingga perubahan pola pikir masyarakat yang lebih egaliter.

Dalam artikel ini, kita akan menelaah lebih dalam lima kerajaan Islam besar yang telah sukses di negara ini. Dengan memahami sejarah mereka, kita dapat mempelajari bagaimana nilai-nilai Islam berpadu dengan kearifan lokal untuk membangun kesuksesan di masa lalu.

1. Perlak: Pionir Islam di Tanah Rencong

Kerajaan Perlak (atau Peureulak) sering disebut sebagai kerajaan Islam tertua di Nusantara. Berlokasi di wilayah Aceh Timur, kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-9, tepatnya pada tahun 840 Masehi. Sultan pertamanya adalah Sultan Alaidin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah.

Perlak memiliki posisi geografis yang sangat strategis sebagai pelabuhan niaga. Banyak pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat singgah di sini. Keberadaan para pedagang muslim inilah yang menjadi cikal bakal penyebaran Islam melalui proses perkawinan dan interaksi sosial. Menariknya, Perlak sempat terbagi menjadi dua bagian akibat perbedaan aliran (Syi’ah dan Sunnah), namun kemudian bersatu kembali sebelum akhirnya melebur dengan Kerajaan Samudera Pasai pada masa Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II.

2. Samudera Pasai: Pusat Studi Islam Nusantara

Terletak di pantai utara Aceh, Kerajaan Samudera Pasai merupakan kelanjutan kejayaan Islam di Sumatra. Meurah Silu, yang kemudian bergelar Sultan Malik as-Saleh, mendirikan kerajaan ini pada tahun 1267 dan mengembangkannya menjadi pelabuhan perdagangan internasional yang makmur.

Menguak Rahasia Koin Umayyah Abad ke-7 di Situs Bongal

Samudera Pasai bukan sekadar pusat ekonomi, melainkan juga pusat dakwah Islam di Asia Tenggara. Penjelajah Ibnu Battuta memuji kesalehan Sultan Samudera Pasai dan menyebutnya pusat studi Islam yang maju. Kerajaan ini juga menunjukkan kemandirian ekonomi dengan mempelopori penggunaan mata uang emas (dirham).

3. Demak: Tonggak Islam di Tanah Jawa

Bergeser ke Pulau Jawa, Kerajaan Demak memegang peranan vital dalam runtuhnya pengaruh Majapahit dan bangkitnya supremasi Islam di tanah Jawa. Didirikan oleh Raden Patah pada akhir abad ke-15, Demak menjadi kesultanan Islam pertama di Jawa dengan dukungan penuh dari para Wali Songo.

Kejayaan Demak mencapai puncaknya di bawah pimpinan Sultan Trenggono. Pada masa ini, wilayah kekuasaannya meluas hingga ke Jawa Barat dan Jawa Timur. Masjid Agung Demak menjadi simbol ikonik perpaduan arsitektur lokal dan Islam. Kerajaan ini juga melahirkan Adipati Unus, pahlawan yang menyerang Portugis di Malaka demi kedaulatan Nusantara.

4. Gowa-Tallo: Benteng Islam di Timur Indonesia

Di wilayah Sulawesi Selatan, terdapat dua kerajaan yang kemudian bersatu menjadi pusat kekuatan Islam di Indonesia Timur, yaitu Kerajaan Gowa dan Tallo (dikenal sebagai Kesultanan Makassar). Kerajaan ini resmi memeluk Islam pada awal abad ke-17 di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin.

Makassar dikenal memiliki pelaut-pelaut tangguh dan teknologi perkapalan (Phinisi) yang mendunia. Secara politik, Gowa-Tallo menerapkan hukum Islam dalam tata kehidupan masyarakatnya. Raja yang paling tersohor dari kerajaan ini adalah Sultan Hasanuddin, yang dijuluki oleh Belanda sebagai “Ayam Jantan dari Timur” karena keberaniannya menentang monopoli perdagangan VOC. Gowa-Tallo menjadi pintu gerbang penting bagi perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan Maluku dengan wilayah Barat.

Transformasi dan Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia Era Orde Baru

5. Ternate dan Tidore: Sang Penguasa Kepulauan Rempah

Maluku Utara memiliki sejarah gemilang melalui Kerajaan Ternate dan Tidore. Islam mulai masuk ke wilayah ini sekitar abad ke-15. Raja Ternate yang terkenal pertama kali memeluk Islam adalah Kolano Marhum, yang kemudian dilanjutkan oleh putranya, Zainal Abidin.

Ternate dan Tidore sering kali bersaing secara politik, namun keduanya memiliki peran besar dalam mempertahankan wilayah Nusantara dari cengkeraman bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, dan Belanda). Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate berhasil mengusir Portugis dan memperluas pengaruhnya hingga ke wilayah Filipina bagian selatan. Kekuatan utama kerajaan ini terletak pada produksi cengkeh dan pala, yang pada waktu itu harganya lebih mahal daripada emas di pasar dunia.

Hikmah Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia

Mempelajari sejarah kerajaan Islam di Indonesia memberikan kita perspektif bahwa Islam masuk ke Nusantara tidak melalui penaklukan militer, melainkan melalui jalur perdagangan, diplomasi, dan akulturasi budaya yang damai. Kerajaan-kerajaan ini membuktikan bahwa Islam mampu menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi, kedaulatan politik, dan pusat ilmu pengetahuan.

Warisan dari kerajaan-kerajaan ini masih bisa kita rasakan hingga hari ini, mulai dari peninggalan bangunan fisik, karya sastra, hingga tradisi keagamaan yang sudah menyatu dengan identitas bangsa Indonesia. Sebagai generasi penerus, menjaga dan memahami sejarah ini adalah kunci untuk membangun masa depan bangsa yang lebih bermartabat.

Dari Perlak di ujung Barat hingga Ternate di ujung Timur, sejarah kerajaan Islam di Indonesia adalah bukti kejayaan peradaban bangsa kita di masa lalu. Keberhasilan mereka dalam mengelola ekonomi, menjalin hubungan internasional, dan menyebarkan nilai-nilai agama menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Menelusuri Tradisi Islam yang Mulai Menghilang di Era Modernisasi


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.