Opinion
Beranda » Berita » Islamisasi Science: Mengintegrasikan Ilmu Pengetahuan dan Tauhid dalam Peradaban Modern

Islamisasi Science: Mengintegrasikan Ilmu Pengetahuan dan Tauhid dalam Peradaban Modern

Islamisasi Science
Islamisasi Science

SURAU.CO – Di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat, dunia akademis sering kali terjebak dalam dikotomi yang tajam antara sains dan agama. Sains modern yang berkembang saat ini cenderung bersifat sekuler dan materialistik, yang sering kali mengabaikan dimensi spiritual manusia. Fenomena inilah yang memicu urgensi konsep Islamisasi Science—sebuah upaya sistematis untuk menyatukan kembali ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Tauhid.

Apa Itu Islamisasi Science?

Secara epistemologis, Islamisasi Science adalah proses integrasi antara ilmu pengetahuan modern dengan prinsip-prinsip Islam. Dalam pandangan ini, sains tidak lagi dipandang sebagai sekadar alat pemuas kebutuhan materi, melainkan sarana suci untuk mengenal Sang Pencipta, Allah SWT.

Sains sekuler Barat sering kali memisahkan etika spiritual dari penemuan ilmiah. Akibatnya, perkembangan ilmu pengetahuan terkadang membawa dampak negatif, seperti eksploitasi alam yang tidak terkendali hingga penciptaan senjata pemusnah massal. Dengan Islamisasi, ilmu pengetahuan dikembalikan pada khitahnya sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).

Menelusuri Akar Sejarah: Era Golden Age Islam

Penting untuk diingat bahwa Islam pernah memimpin peradaban dunia melalui sains yang berbasis spiritualitas. Pada masa keemasan (Golden Age) antara abad ke-8 hingga ke-14, ilmuwan Muslim seperti Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina tidak memisahkan antara ibadah dan riset ilmiah.

  1. Matematika dan Astronomi: Al-Khawarizmi menemukan algoritma yang menjadi dasar teknologi komputer hari ini.

    Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

  2. Kedokteran: Ibnu Sina (Avicenna) menyusun kitab The Canon of Medicine yang menjadi rujukan utama di Eropa selama berabad-abad.

Pada saat Eropa berada dalam “Zaman Kegelapan”, dunia Islam justru melestarikan karya-karya Yunani kuno dan menyuntikkan perspektif Tauhid ke dalamnya. Hal ini membuktikan bahwa Islam tidak pernah memusuhi akal, melainkan mendorong manusia untuk merenungi alam semesta sebagai bukti kebesaran Ilahi.

Tokoh Kunci dan Pemikiran Modern tentang Islamisasi Ilmu

Pada abad ke-20, diskursus Islamisasi Science kembali mencuat sebagai respons atas dominasi budaya Barat yang sekuler. Dua tokoh paling berpengaruh dalam gerakan ini adalah Ismail Raji al-Faruqi dan Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Strategi 12 Langkah Al-Faruqi

Al-Faruqi, melalui karyanya “Islamization of Knowledge”, mengusulkan rencana kerja yang komprehensif. Ia menekankan bahwa setiap disiplin ilmu harus disusun ulang agar selaras dengan metodologi dan tujuan Islam. Fokus utamanya adalah menyatukan kesatuan pengetahuan, kesatuan hidup, dan kesatuan sejarah.

Konsep Pembebasan Al-Attas

Di sisi lain, Syed Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan Islamisasi sebagai proses pembebasan akal manusia dari pengaruh sihir, mitos, dan ideologi sekuler yang menyesatkan. Baginya, ilmu harus diintegrasikan dengan adab agar menghasilkan manusia yang beradab dan bertakwa.

Dunia Anak di Tengah Krisis Moral Digital

Harmonisasi Al-Qur’an dan Temuan Ilmiah Modern

Salah satu pilar utama dalam Islamisasi Science adalah membuktikan bahwa wahyu Allah tidak mungkin bertentangan dengan realitas alam. Al-Qur’an mengandung berbagai isyarat ilmiah yang baru bisa dibuktikan ribuan tahun kemudian oleh teknologi modern.

Mukjizat Embriologi dalam Al-Qur’an

Sebagai contoh, Surah Al-Mu’minun (23:12-14) menjelaskan tahapan perkembangan janin secara detail:

Penelitian dari pakar embriologi ternama, Keith L. Moore, mengonfirmasi bahwa deskripsi Al-Qur’an sangat akurat secara medis. Fenomena ini menunjukkan bahwa sains dan wahyu adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama.

Implementasi Institusional di Era Kontemporer

Gerakan Islamisasi Science kini tidak lagi sekadar wacana teoritis di atas kertas, melainkan telah merambah ke institusi pendidikan formal dan praktik etika medis.

  1. Lembaga Internasional: International Institute of Islamic Thought (IIIT) secara rutin mengadakan seminar tentang integrasi biosains dan Islam.

  2. Perguruan Tinggi: Di Indonesia, Universitas Islam Negeri (UIN) seperti UIN Malang telah mengadopsi model integrasi sains dan agama dalam kurikulumnya. Begitu pula dengan International Islamic University Malaysia (IIUM).

  3. Bioetika Islam: Dalam dunia kedokteran, teknologi seperti In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung dipandu oleh fatwa ulama. Penggunaan IVF diizinkan selama menggunakan sel sperma dan sel telur dari pasangan suami-istri yang sah, guna menjaga kemurnian nasab (garis keturunan).

  4. Teknologi CRISPR: Para ahli dapat menggunakan teknologi editing gen (CRISPR) untuk mengobati penyakit genetik sesuai prinsip syariah, asalkan bertujuan terapeutik dan tidak mengubah ciptaan Allah demi kepentingan kosmetik atau enhancement yang berlebihan.

Tantangan dan Kritik terhadap Islamisasi Science

Tentu saja, perjalanan mengintegrasikan agama dan sains tidak luput dari tantangan. Kelompok sekuler sering kali menuduh bahwa membawa agama ke ranah laboratorium akan membatasi kebebasan berpikir ilmuwan.

Namun, argumen ini dapat dijawab dengan kenyataan bahwa sains tanpa etika agama justru sering kali menjadi destruktif. Rasulullah SAW pernah mengingatkan tentang penyakit wahn (cinta dunia berlebihan). Jika sains hanya digunakan untuk mengejar kemajuan material tanpa landasan akhirat, maka manusia akan kehilangan kemanusiaannya. Islamisasi hadir bukan untuk membatasi riset, melainkan memberikan kompas moral agar penemuan manusia bermanfaat bagi kelestarian bumi.

Menuju Peradaban yang Beradab

Islamisasi Science adalah sebuah panggilan bagi umat Islam untuk merebut kembali peran sebagai pelopor intelektual. Integrasi antara sejarah kejayaan masa lalu, pemikiran filosofis modern, dan petunjuk abadi Al-Qur’an membentuk sebuah kerangka ilmu pengetahuan yang kokoh.

Dengan menyatukan akal dan wahyu, kita tidak hanya akan menghasilkan saintis yang cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual yang tinggi. Kunci ini mendorong lahirnya peradaban baru yang Allah ridhai, di mana sains menuntun umat manusia mengabdi demi mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.