SURAU. CO. Gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-37 Tingkat Provinsi Sumatera Utara di Kota Tebing Tinggi tidak hanya menjadi panggung bagi para qari, tetapi juga menjadi saksi bisu kembalinya kepingan sejarah Islam yang sempat terkubur. Di tengah hiruk-pikuk acara, sebuah pameran di Museum Kota Tebing Tinggi mencuri perhatian publik dengan menampilkan artefak yang mengubah narasi sejarah masuknya Islam di Indonesia. Artefak itu berupa koin peninggalan zaman bani Umayyah. Penemuan ini mengiak fakta sejarah masuknya Islam pada wilayah tersebut.
Kisah penemuan ini bermula pada tahun 2019 di Kabupaten Tapanuli Tengah. Di tengah aktivitas warga yang sedang melakukan penggalian tambang emas di Situs Bongal, para pekerja menemukan kepingan-kepingan logam kecil. Awalnya, warga yang tidak menyadari benda tersebut mempunyai nilai sejarah. Bahkan sempat membuangnya begitu saja. Namun pada awal tahun 2020, penelitian dari Balai Arkeologi Sumatera Utara mengungkap fakta yang mengejutkan. Benda yang sempat terabaikan itu adalah koin dirham dari era Kekhalifahan Bani Umayyah. Penemuan ini menjadi bukti otentik yang mendukung teori bahwa peradaban Islam telah mencapai Sumatera Utara sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.
Bagian dari Pesan Dakwah
Adapun spesifikasi Koin Umayyah dalam inskripsi menunjukkan tahun 79 Hijriah. Bahannya terbuat dari material perak dengan diameter iameter 24,21 mm. Untuk bobotnya sendiri seberat 1,91 gram dengan menggunakan tipografi Khat Kufi, jenis kaligrafi Arab tertua yang dominan pada abad ke-7-8 Masehi. Meski memiliki tingkat kerusakan yang cukup tinggi, terutama pada tepian sisi kanan, detail inskripsi pada koin ini masih dapat diidentifikasi sebagai pesan dakwah yang sangat kuat.
Koin ini bukan sekadar alat transaksi, melainkan media penyebaran pesan tauhid. Struktur inskripsi pada koin ini terbagi menjadi dua bagian utama. Pada sisi depannya terdapat tiga baris kalimat lurus dan satu baris kalimat melingkar. Di bagian ini, terukir Kalimat Syahadat. Kehadiran kalimat ini menegaskan identitas Islam dalam setiap jengkal perdagangan yang dilakukan oleh para saudagar Muslim masa itu. Secara visual, bidang tulis ini dibatasi oleh tiga garis melingkar dengan ornamen lingkaran kecil di antaranya.
Sedangkan sisi belakang terdiri dari empat baris kalimat lurus dan satu baris melingkar. Bagian tengahnya memuat Surah Al-Ikhlas, surah yang melambangkan kemurnian keesaan Tuhan. Sementara itu, pada bagian yang melingkar, termuat kalimat sanjungan kepada Rasulullah SAW.
Signifikansi Sejarah bagi Sumatera Utara
Menurut sejarawan Sumut, Ichwan Azhari, penemuan puluhan koin dari Dinasti Umayyah dan Abbasiyah ini secara mengejutkan membuktikan bahwa koneksi global Sumatera Utara dengan pusat Kekhalifahan Islam di Timur Tengah sudah terjalin sejak abad ke-1 atau ke-2 Hijriah. Selain itu menunjukkan bahwa situs Bongal ternyata bukan sekadar tambang emas lokal, melainkan titik temu perdagangan internasional yang melibatkan komoditas dari Timur Tengah hingga India. Koin-koin yang kuno tersebut berfungsi ganda. Pertama, sebagai mata uang resmi berbahan perak dan tembaga untuk transaksi. Kemudian serta sebagian merubahnya menjadi liontin.
Penemuan koin Umayyah di Situs Bongal memberikan kontribusi signifikan terhadap penulisan sejarah Islam di Sumatera Utara dan Indonesia pada umumnya. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa Islam masuk ke Nusantara, khususnya di pantai barat Sumatera, jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya, yakni pada abad ke-7 Masehi, sezaman dengan masa kejayaan Dinasti Umayyah di Timur Tengah. Selain itu keberadaan koin-koin ini menunjukkan bahwa telah terjadi aktivitas perdagangan yang luas dan intensif antara pedagang Muslim dari Timur Tengah dengan masyarakat lokal di pantai barat Sumatera pada abad tersebut. Situs Bongal yang berada pada jalur muara sungai strategis menjadi bukti adanya interaksi peradaban yang mapan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
