Kisah
Beranda » Berita » Kisah Rasulullah Memberi Makan Orang yang Hendak Membunuhnya: Teladan Akhlak Mulia

Kisah Rasulullah Memberi Makan Orang yang Hendak Membunuhnya: Teladan Akhlak Mulia

Kisah Rasulullah memberi makan orang yang hendak membunuhnya
Kisah Rasulullah memberi makan orang yang hendak membunuhnya

SURAU.CO – Dalam sejarah Islam, kita sering mendengar betapa agungnya akhlak Nabi Muhammad SAW. Salah satu kisah yang paling menyentuh hati adalah kisah Rasulullah memberi makan orang yang hendak membunuhnya. Sosok tersebut adalah Tsumamah bin Utsal, seorang penguasa dari wilayah Yamamah yang sangat membenci Islam. Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pelajaran berharga tentang bagaimana kebencian bisa luluh oleh kasih sayang dan kelembutan.

Siapakah Tsumamah bin Utsal?

Tsumamah bin Utsal adalah seorang pemimpin terpandang dari Bani Hanifah. Sebelum mengenal Islam, kaum Muslimin mengenalnya sebagai musuh bebuyutan. Ia begitu membenci Rasulullah SAW hingga pernah merencanakan pembunuhan beliau secara diam-diam. Ia menganggap kehadiran Islam mengganggu tatanan tradisi nenek moyangnya.

Suatu hari, Tsumamah melakukan perjalanan menuju Mekkah untuk melakukan ibadah sesuai keyakinannya saat itu. Namun, di tengah jalan, ia tertangkap oleh pasukan patroli Muslimin yang sedang bertugas di perbatasan Madinah. Para sahabat yang menangkapnya tidak mengetahui identitas aslinya sebagai raja, sehingga mereka membawa Tsumamah ke Madinah dan mengikatnya di salah satu tiang Masjid Nabawi.

Pertemuan yang Tak Terduga di Masjid Nabawi

Ketika Rasulullah SAW masuk ke masjid dan melihat sosok yang terikat tersebut, beliau langsung mengenali bahwa itu adalah Tsumamah bin Utsal. Alih-alih memerintahkan untuk menghukum atau menyiksanya karena rencana jahat yang pernah ia buat, Rasulullah justru menunjukkan sikap yang sangat mengejutkan para sahabat.

Rasulullah SAW menghampiri Tsumamah dan bertanya dengan lembut, “Apa yang kau miliki (untuk dikabarkan), wahai Tsumamah?”

Hikmah Mendalam Kisah Nabi Yunus dalam Perut Ikan: Pelajaran Kesabaran dan Kekuatan Doa

Tsumamah menjawab dengan angkuh, “Jika engkau membunuhku, Muhammad, engkau membunuh orang yang darahnya layak dituntut (karena kedudukannya). Jika engkau memberi maaf, engkau memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika engkau menginginkan harta, mintalah sesukamu.”

Rahasia di Balik Kisah Rasulullah Memberi Makan Tawanan

Inilah titik balik dalam kisah Rasulullah memberi makan orang yang hendak membunuhnya. Meskipun Tsumamah menjawab dengan nada menantang, Rasulullah tetap tenang. Beliau tidak mendebatnya. Sebaliknya, Rasulullah justru kembali ke rumah dan memerintahkan keluarganya untuk menyiapkan makanan terbaik.

Beliau juga memerintahkan agar unta perahannya diperas dan susunya diberikan kepada Tsumamah. Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian sudah memberinya makan?” Para sahabat tertegun. Mengapa orang yang berniat membunuh pemimpin mereka justru dilayani dengan sangat baik? Namun, itulah strategi dakwah Rasulullah: membalas kejahatan dengan kebaikan. Selama tiga hari Tsumamah diikat di masjid, ia terus mendapatkan perlakuan istimewa, makanan lezat, dan susu segar langsung dari kediaman Nabi.

Hidayah yang Datang Melalui Kelembutan

Selama tiga hari berada di Masjid Nabawi, Tsumamah tidak hanya diberi makan secara fisik, tetapi jiwanya juga “diberi makan” oleh pemandangan indah di dalam masjid. Ia melihat bagaimana kaum Muslimin shalat dengan khusyuk, bagaimana mereka saling mencintai, dan bagaimana Rasulullah memimpin dengan penuh kasih.

Pada hari ketiga, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk melepaskan ikatan Tsumamah tanpa syarat apa pun. Beliau tidak meminta tebusan harta maupun komitmen politik. Tsumamah pun pergi meninggalkan Madinah. Namun, baru saja menjauh sebentar, ia berhenti di sebuah kebun kurma, mandi, lalu kembali masuk ke Masjid Nabawi.

Kisah Karomah Ashim bin Tsabit: Sahabat Nabi yang Jasadnya Dijaga Lebah

Di hadapan Rasulullah, ia bersyahadat. Tsumamah berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah, dahulu tidak ada wajah yang paling aku benci di muka bumi ini selain wajahmu. Namun sekarang, wajahmu adalah yang paling aku cintai. Dahulu, tidak ada agama yang paling aku benci selain agamamu, tapi sekarang agamamu adalah yang paling aku cintai.”

Kekuatan Akhlak di Atas Segalanya

Melalui kisah Rasulullah memberi makan orang yang hendak membunuhnya, kita belajar bahwa kita tidak selalu harus membalas kekerasan dengan kekerasan. Seringkali, tetesan kelembutan yang terus-menerus mampu meluluhkan hati yang keras seperti batu.

Dalam pandangan Yoast SEO dan strategi komunikasi modern, kisah ini mengingatkan kita untuk selalu mengedepankan empati. Dengan menunjukkan akhlak yang mulia, kita bisa mengubah musuh menjadi kawan sejati. Kisah Tsumamah bin Utsal adalah bukti nyata bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang menyebarkan kedamaian bagi seluruh alam.

Semoga kita bisa meneladani kesabaran dan kemurahan hati Rasulullah SAW dalam menghadapi orang-orang yang membenci kita. Karena pada akhirnya, cinta dan kasih sayanglah yang akan menang.

Meneladani Akhlak Rasulullah sebagai Suami dan Kepala Keluarga Idaman

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.