Sejarah
Beranda » Berita » Transformasi dan Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia Era Orde Baru

Transformasi dan Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia Era Orde Baru

tokoh pembaharuan pemikiran islam
tokoh pembaharuan pemikiran islam

SURAU.CO – Dinamika intelektual Islam di Indonesia selalu mengalami perkembangan yang menarik untuk dikaji, terutama jika kita menilik kembali pada masa pemerintahan Orde Baru. Periode ini bukan sekadar pergantian rezim politik dari Orde Lama ke Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, melainkan juga menjadi inkubator lahirnya gagasan-gagasan progresif yang mengubah wajah keberagamaan di tanah air. Artikel ini akan mengulas secara mendalam bagaimana pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia era Orde Baru menjadi tonggak penting bagi moderasi beragama saat ini.

Latar Belakang Pembaharuan Pemikiran Islam

Munculnya gerakan pembaharuan pemikiran Islam pada era 1970-an tidak lepas dari kondisi sosial-politik yang ada. Setelah jatuhnya Orde Lama, umat Islam berada pada persimpangan jalan. Di satu sisi, ada kerinduan untuk mengembalikan peran politik Islam yang dominan, namun di sisi lain, pemerintah Orde Baru cenderung melakukan depolitisasi agama demi stabilitas nasional.

Dalam situasi inilah, muncul gelombang intelektual muda yang merasa bahwa umat Islam tidak boleh terjebak dalam romantisme politik masa lalu. Fokus utama para pembaharu ini adalah bagaimana Islam dapat berperan aktif dalam pembangunan bangsa tanpa harus terlibat dalam konflik politik praktis yang melelahkan.

Tokoh Kunci dan Gagasan “Islam Yes, Partai Islam No”

Salah satu figur sentral dalam pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia era Orde Baru adalah Nurcholish Madjid, atau yang akrab disapa Cak Nur. Gagasan monumentalnya yang paling kontroversial namun berpengaruh adalah jargon “Islam Yes, Partai Islam No”.

Cak Nur berargumen bahwa umat Islam harus bisa membedakan antara nilai-nilai agama yang suci dengan institusi politik yang bersifat duniawi. Pembaharuan ini bertujuan untuk:

Sejarah dan Jejak Peradaban: 5 Kerajaan Islam di Indonesia yang Mengubah Nusantara

  1. Sekularisasi yang Sehat: Bukan memisahkan agama dari kehidupan, melainkan membedakan mana yang sakral dan mana yang profan (duniawi).

  2. Kebebasan Berpikir: Mendorong umat Islam untuk menggunakan rasio dalam menafsirkan ajaran agama agar relevan dengan zaman modern.

  3. Inklusivitas: Menumbuhkan sikap toleransi dan keterbukaan terhadap penganut agama lain dalam bingkai kebangsaan.

Peran Intelektual Lain: Abdurrahman Wahid dan Mukti Ali

Selain Cak Nur, tokoh seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Mukti Ali juga memberikan warna signifikan. Gus Dur dengan konsep “Pribumisasi Islam” menekankan pentingnya Islam yang menyatu dengan budaya lokal Indonesia tanpa kehilangan esensi ajarannya. Hal ini sangat krusial di era Orde Baru untuk meredam ketegangan antara identitas keislaman dan identitas nasional.

Sementara itu, Mukti Ali, yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama, memperkenalkan pendekatan “Scientific cum Doctrinaire” di institusi pendidikan tinggi Islam (IAIN/UIN). Pendekatan ini mengajarkan mahasiswa untuk mempelajari agama secara kritis dan sosiologis, bukan sekadar hafalan dogma.

Menguak Rahasia Koin Umayyah Abad ke-7 di Situs Bongal

Hubungan Islam dan Negara di Masa Orde Baru

Pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia era Orde Baru juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang menekankan pada asas tunggal Pancasila. Meskipun awalnya mendapat pertentangan, para pemikir pembaharu berhasil memberikan landasan teologis bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Integrasi antara pemikiran Islam dan ideologi negara ini memungkinkan umat Islam untuk masuk ke dalam birokrasi dan struktur kekuasaan. Lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada akhir era 80-an menjadi bukti nyata bahwa kaum intelektual Muslim telah mendapatkan tempat di jantung kekuasaan Orde Baru.

Dampak Pembaharuan Terhadap Masyarakat Modern

Apa dampak nyata dari pembaharuan ini bagi kita sekarang? Pertama, lahirnya kelas menengah Muslim yang terdidik dan moderat. Kedua, penguatan institusi pendidikan Islam yang mampu bersaing secara global. Pembaharuan ini juga menjadi fondasi bagi terciptanya masyarakat sipil yang kuat di Indonesia.

Gagasan para tokoh era Orde Baru ini mengajarkan kita bahwa Islam bersifat dinamis. Islam tidak hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang kontribusi nyata terhadap kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan sosial.

Tantangan dan Kritik Terhadap Pembaharuan

Tentu saja, setiap gerakan pembaharuan tidak luput dari kritik. Sebagian kalangan konservatif menilai bahwa gerakan ini terlalu condong ke arah liberalisme yang dikhawatirkan dapat mengikis akidah. Namun, jika dilihat secara objektif, pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia era Orde Baru justru memperkuat posisi Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) di tengah keberagaman Indonesia.

Menelusuri Tradisi Islam yang Mulai Menghilang di Era Modernisasi

Warisan Intelektual untuk Masa Depan

Sebagai penutup, pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia era Orde Baru adalah fase krusial dalam sejarah bangsa. Melalui dialektika antara agama, politik, dan modernitas, para intelektual kita telah mewariskan cara pandang yang seimbang dalam beragama dan bernegara.

Bagi generasi muda saat ini, memahami sejarah pembaharuan ini sangat penting agar kita tidak mudah terprovokasi oleh paham-paham radikal yang ingin membenturkan agama dengan negara. Mari kita jaga semangat pembaharuan ini dengan terus belajar, berpikir kritis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.