Media sosial kini menjadi panggung utama bagi banyak orang untuk menunjukkan pencapaian mereka. Salah satu konten yang paling populer saat ini adalah video unboxing barang-barang mewah. Mulai dari tas desainer ternama, kendaraan mahal, hingga perangkat teknologi terbaru menghiasi linimasa kita. Namun, di balik kemilau barang bermerek tersebut, tersimpan ancaman tersembunyi yang bersifat spiritual dan psikologis. Fenomena ini sering masyarakat sebut sebagai penyakit ain global.
Fenomena Unboxing dan Budaya Flexing
Kegiatan membuka kemasan produk atau unboxing awalnya bertujuan memberikan ulasan jujur kepada calon pembeli. Namun, tujuan tersebut kini bergeser menjadi ajang pamer kemewahan atau flexing. Banyak kreator konten sengaja menonjolkan label harga dan eksklusivitas barang tersebut. Mereka mencari pengakuan dan validasi dari jutaan pasang mata di seluruh dunia.
Keinginan untuk terlihat sukses sering kali mengalahkan rasa rendah hati. Penonton yang melihat konten tersebut memberikan reaksi beragam. Ada yang merasa termotivasi, namun tidak sedikit yang merasa iri dan dengki. Di sinilah titik awal munculnya risiko penyakit ain yang dapat berdampak buruk bagi pemilik konten tersebut.
Memahami Konsep Penyakit Ain
Dalam tradisi Islam, penyakit ain merupakan gangguan yang timbul dari pandangan mata yang disertai rasa iri, dengki, atau bahkan kekaguman yang berlebihan. Penyakit ini tidak hanya sekadar mitos, melainkan sebuah realitas spiritual yang nyata. Dampaknya bisa berupa kerusakan fisik, gangguan mental, hingga kegagalan dalam urusan pekerjaan atau rumah tangga.
Kutipan penting mengenai hal ini menyatakan: “Ain itu nyata, bahkan jika ada sesuatu yang mendahului takdir, maka ainlah yang mendahuluinya.” Kutipan ini menekankan betapa kuatnya pengaruh pandangan mata manusia terhadap nasib orang lain.
Ancaman Ain di Era Digital (Global Ain)
Dahulu, risiko ain hanya terbatas pada lingkup tetangga atau kerabat dekat. Namun, internet mengubah segalanya menjadi skala global. Saat seseorang mengunggah konten unboxing mewah, jutaan orang dari berbagai belahan dunia bisa melihatnya. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam hati setiap penonton tersebut.
Rasa iri yang terpancar dari ribuan orang sekaligus menciptakan energi negatif yang sangat besar. Inilah yang disebut sebagai “Ain Global”. Seseorang yang terkena ain global mungkin akan merasakan kegelisahan yang tidak jelas asalnya. Mereka juga bisa mengalami kemalangan beruntun meskipun secara logika segala sesuatunya terlihat lancar.
Dampak Psikologis dan Sosial
Selain aspek spiritual, tren pamer kemewahan juga merusak tatanan sosial. Konten seperti ini menciptakan standar hidup yang tidak realistis bagi penontonnya. Remaja dan dewasa muda sering kali merasa depresi karena tidak mampu mencapai gaya hidup tersebut. Mereka terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat setiap hari.
Bagi si pembuat konten, tekanan untuk terus terlihat mewah menjadi beban tersendiri. Mereka harus selalu membeli barang baru demi mempertahankan popularitas. Sikap konsumerisme akut ini perlahan-lahan mengikis ketenangan batin mereka. Hidup mereka penuh dengan kepura-puraan demi mendapatkan pujian dari orang asing di internet.
Cara Mencegah Penyakit Ain
Mencegah tentu jauh lebih baik daripada mengobati. Kita perlu bijak dalam menggunakan media sosial untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan:
-
Terapkan Prinsip Kesederhanaan: Jangan mengunggah segala sesuatu yang kita miliki ke ruang publik. Simpanlah kebahagiaan dan kesuksesan tertentu untuk lingkungan keluarga saja.
-
Sertakan Doa dan Pujian kepada Tuhan: Saat mengunggah sesuatu, sertakan kalimat seperti Masya Allah atau Tabarakallah. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan segala pujian kepada Sang Pencipta.
-
Hindari Memancing Rasa Iri: Pikirkan kembali sebelum mengunggah barang mewah. Apakah konten tersebut memberikan manfaat bagi orang lain atau hanya sekadar memuaskan ego?
-
Rutinkan Dzikir Pagi dan Petang: Secara spiritual, bentengi diri dengan doa-doa perlindungan agar terhindar dari pandangan mata jahat.
Kesimpulan
Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan, bukan kesombongan. Tren unboxing mewah mungkin meningkatkan angka penayangan dan jumlah pengikut dalam sekejap. Namun, risiko kehilangan kedamaian hidup akibat penyakit ain global adalah harga yang terlalu mahal.
Marilah kita kembali membumi dan menghargai privasi. Kebahagiaan sejati tidak terletak pada berapa banyak orang yang mengagumi kekayaan kita. Kebahagiaan sesungguhnya ada pada ketenangan hati dan rasa syukur yang tulus tanpa perlu pengakuan dunia. Bijaklah bersosial media agar kita terhindar dari bahaya pandangan mata yang merusak.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
