Dalam dunia kerja modern, istilah psychological safety menjadi topik yang sangat populer. Pakar organisasi, Amy Edmondson, mendefinisikan konsep ini sebagai keyakinan bahwa lingkungan kerja aman untuk mengambil risiko. Anggota tim merasa tidak akan dipermalukan atau dihukum jika melakukan kesalahan atau berpendapat. Menariknya, Rasulullah SAW telah menerapkan prinsip ini dalam kepemimpinannya berabad-abad silam.
Mengenal Psychological Safety dalam Konteks Nabawi
Rasulullah SAW membangun fondasi tim yang sangat kuat dengan para sahabat. Beliau tidak pernah memposisikan diri sebagai pemimpin yang kaku atau otoriter. Sebaliknya, beliau menciptakan ruang bagi para sahabat untuk berbicara jujur. Hal ini selaras dengan esensi keamanan psikologis dalam manajemen modern.
Keamanan psikologis mendorong inovasi dan kolaborasi yang jujur. Tanpa rasa aman, anggota tim cenderung menyembunyikan ide karena takut salah. Rasulullah SAW justru sangat menghargai kontribusi pemikiran dari setiap pengikutnya.
Implementasi Melalui Tradisi Syura (Musyawarah)
Rasulullah SAW sangat mengedepankan prinsip musyawarah atau syura. Beliau sering meminta pendapat para sahabat sebelum mengambil keputusan strategis. Contoh nyata terjadi saat Perang Badar dan Perang Khandaq.
Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman mengenai karakter lembut Rasulullah:
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Kutipan ini menunjukkan bahwa keramahan pemimpin sangat krusial. Pemimpin yang keras hanya akan membuat anggota tim merasa tertekan. Sebaliknya, kelembutan hati akan memupuk rasa percaya diri dalam tim.
Menghargai Keahlian dan Perbedaan Pendapat
Rasulullah SAW mengakui bahwa setiap manusia memiliki spesialisasi masing-masing. Beliau pernah bersabda kepada para sahabat mengenai urusan duniawi:
“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim).
Kalimat ini memberikan otoritas penuh kepada anggota tim yang lebih ahli. Dalam manajemen modern, ini disebut sebagai delegasi berbasis kompetensi. Rasulullah tidak merasa terancam saat sahabat memberikan saran teknis yang berbeda. Beliau justru mendengarkan dan mengikuti saran tersebut jika memang lebih efektif.
Cara Menangani Kesalahan Tim dengan Bijak
Membangun psychological safety bukan berarti menoleransi kinerja yang buruk. Namun, ini tentang bagaimana pemimpin bereaksi terhadap kegagalan. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk tidak langsung menghakimi atau mempermalukan orang yang salah.
Beliau lebih mengedepankan edukasi dan perbaikan daripada hukuman yang mematikan mental. Ketika seorang anggota tim berbuat salah, beliau memberikan bimbingan dengan penuh martabat. Sikap ini membuat anggota tim berani mencoba hal baru tanpa rasa takut yang melumpuhkan.
Langkah Praktis Membangun Keamanan Psikologis ala Nabi
Ada beberapa langkah konkret yang bisa pemimpin terapkan berdasarkan teladan Rasulullah:
-
Jadilah Pendengar Aktif. Rasulullah selalu menghadap penuh kepada lawan bicaranya. Beliau mendengarkan hingga tuntas tanpa memotong pembicaraan.
-
Tunjukkan Kerendahan Hati. Pemimpin yang mengakui keterbatasan akan lebih mudah didekati. Rasulullah tidak jarang ikut bekerja fisik bersama para sahabat.
-
Berikan Apresiasi Tulus. Beliau sering memberikan julukan baik kepada para sahabat untuk meningkatkan moral mereka.
-
Ciptakan Lingkungan Tanpa Saling Menyalahkan. Fokuslah pada solusi, bukan pada siapa yang harus menerima beban kesalahan.
Dampak Positif bagi Produktivitas Tim
Tim yang memiliki keamanan psikologis tinggi cenderung lebih produktif. Mereka berani berbagi ide-ide liar yang mungkin menjadi solusi besar. Mereka juga lebih cepat belajar dari kegagalan karena tidak ada yang disembunyikan.
Rasulullah SAW telah membuktikan bahwa kepemimpinan berbasis empati mampu mengubah sejarah. Beliau menyatukan berbagai suku dan karakter manusia menjadi satu tim yang solid. Kekuatan utama mereka terletak pada rasa saling percaya dan rasa aman.
Kesimpulan
Membangun psychological safety ala Rasulullah adalah investasi jangka panjang. Pemimpin harus mampu menjadi pelindung sekaligus fasilitator bagi timnya. Dengan meneladani sikap beliau, kita bisa menciptakan lingkungan kerja yang sehat secara mental.
Mulailah dengan hal kecil seperti memberikan senyum dan mendengarkan saran bawahan. Ketika tim merasa aman secara psikologis, kesuksesan organisasi akan mengikuti secara alami. Mari kita terapkan nilai-nilai luhur ini dalam budaya kerja profesional kita sekarang juga.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
