Pendidikan
Beranda » Berita » Menulis Tanpa Royalti: Keikhlasan sebagai DNA Keabadian Kitab Kuning

Menulis Tanpa Royalti: Keikhlasan sebagai DNA Keabadian Kitab Kuning

Dunia literasi modern saat ini sangat lekat dengan isu hak cipta dan pembagian royalti bagi penulisnya. Namun, tradisi intelektual Islam klasik atau Kitab Kuning memiliki fondasi yang sangat berbeda dan jauh lebih spiritual. Para ulama zaman dahulu menulis bukan untuk mengejar pundi-pundi materi atau popularitas semata di dunia. Keikhlasan Penulis Kitab Kuning Mereka menempatkan keikhlasan sebagai variabel utama yang justru membuat karya-karya tersebut abadi melintasi zaman.

Tradisi Menulis untuk Keabadian Akhirat

Para pengarang Kitab Kuning memandang aktivitas menulis sebagai bentuk pengabdian tertinggi kepada Tuhan dan ilmu pengetahuan. Mereka meyakini bahwa setiap huruf yang mereka goreskan di atas kertas merupakan investasi untuk kehidupan akhirat. Oleh karena itu, konsep royalti materiil hampir tidak pernah muncul dalam kamus kehidupan para ulama salaf.

Karya-karya seperti Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali atau Tafsir Jalalain tetap relevan hingga hari ini karena kekuatan niat penulisnya. Fokus utama mereka adalah bagaimana ilmu tersebut dapat bermanfaat luas bagi umat manusia tanpa hambatan ekonomi. Sifat “tanpa royalti” inilah yang justru mempercepat persebaran ilmu ke berbagai penjuru dunia melalui salinan tangan santri dan murid.

Ikhlas: DNA yang Menghidupkan Tulisan

Keikhlasan bukan sekadar sikap batin, melainkan ruh yang menghidupkan sebuah karya tulis. Dalam tradisi pesantren, keberkahan ilmu sangat bergantung pada ketulusan sang guru atau pengarang dalam membagikan pengetahuannya. Para ulama sering kali melakukan tirakat, seperti berpuasa atau melaksanakan salat istikharah, sebelum mulai menulis bab pertama kitab mereka.

Proses spiritual ini memastikan bahwa ego penulis tidak ikut campur dalam kebenaran ilmu yang mereka sampaikan. Kutipan bijak sering menyebutkan: “Apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati, dan apa yang hanya keluar dari lisan tidak akan melampaui telinga.” Hal inilah yang menjelaskan mengapa santri tetap merasa bergetar saat membaca teks-teks klasik yang terbit ratusan tahun silam.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Melampaui Batas Hak Cipta Komersial

Secara teknis, banyak Kitab Kuning yang kini beredar dalam format “repro” atau cetak ulang oleh berbagai penerbit. Para penerbit memproduksi kembali kitab-kitab tersebut tanpa beban royalti kepada ahli waris penulis aslinya. Meskipun secara hukum positif modern hal ini tampak unik, dalam kacamata tradisi Islam, hal ini merupakan bentuk shadaqah jariyah bagi sang pengarang.

Ulama justru merasa bahagia jika karya mereka disalin, dicetak, dan dipelajari oleh banyak orang. Mereka tidak memagari ilmu dengan lisensi yang kaku. Bagi mereka, semakin banyak orang yang membaca dan mengamalkan isi kitab tersebut, semakin mengalir pula pahala ke liang kubur mereka. Inilah yang kita sebut sebagai “DNA Keabadian” yang melampaui sistem ekonomi kapitalis mana pun.

Tantangan Menulis di Era Kontemporer

Menulis tanpa mengejar royalti tentu menjadi tantangan besar bagi penulis di era digital yang serba materialistis. Namun, kita dapat mengambil pelajaran berharga dari etos kerja para ulama. Penulis modern tetap bisa mencari nafkah dari karyanya, tetapi jangan sampai materi menjadi tujuan tunggal yang menghilangkan dimensi keberkahan.

Seorang penulis yang menyisipkan niat tulus untuk mengedukasi masyarakat akan memiliki daya tahan yang berbeda. Karyanya akan memiliki “bobot” yang lebih dalam daripada sekadar mengejar tren atau klik (clickbait). Keikhlasan akan menjaga kualitas konten dan kejujuran dalam berargumen.

Kesimpulan: Ilmu yang Menjadi Cahaya

Fenomena Kitab Kuning membuktikan bahwa kejayaan sebuah karya tidak selalu berbanding lurus dengan nilai kontrak penerbitan. Kekuatan spiritual dan niat yang murni mampu menjaga eksistensi sebuah buku selama berabad-abad. Ketika seorang penulis melepaskan keterikatan pada imbalan duniawi, Tuhan justru mengangkat derajat karyanya hingga menjadi rujukan abadi bagi umat manusia.

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

Keikhlasan adalah teknologi paling canggih dalam menjaga peradaban. Tanpanya, tulisan hanya akan menjadi tumpukan kertas tanpa nyawa. Dengan meneladani para ulama, kita belajar bahwa menulis adalah jalan menuju keabadian, selama kita melakukannya karena Tuhan dan untuk kemaslahatan sesama.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.