Khazanah
Beranda » Berita » Cara Mengatasi Overthinking dengan Kearifan Kitab Al-Hikam

Cara Mengatasi Overthinking dengan Kearifan Kitab Al-Hikam

Overthinking dalam Kitab Al-Hikam
Overthinking dalam Kitab Al-Hikam

SURAU.CO – Pernahkah Anda merasa terjebak dalam pikiran yang berputar-putar tanpa henti? Kondisi ini sering disebut sebagai overthinking. Di era modern yang serba cepat, kecemasan akan masa depan atau penyesalan atas masa lalu menjadi beban mental yang berat bagi banyak orang. Namun, tahukah Anda bahwa ratusan tahun lalu, Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari telah merumuskan solusi spiritual untuk masalah Overthinking dalam mahakaryanya, Kitab Al-Hikam.

Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana ajaran dalam Kitab Al-Hikam dapat menjadi “obat” yang ampuh untuk meredakan badai pikiran dan menghadirkan ketenangan jiwa yang hakiki.

Apa Itu Overthinking dalam Perspektif Spiritual?

Secara psikologis, pakar mendefinisikan overthinking sebagai kebiasaan seseorang saat memikirkan sesuatu secara berlebihan serta berulang-ulang. Namun, jika kita meninjaunya dari kacamata tasawuf, kondisi ini sering kali berakar dari keinginan kuat manusia untuk mengendalikan segala hal yang sebenarnya berada di luar kendali mereka. Oleh karena itu, kita sering kali merasa bahwa dengan berpikir keras, kita nantinya mampu memastikan hasil yang sempurna maupun menghindari kegagalan yang kita takuti.

Syekh Ibnu Atha’illah mengingatkan bahwa beban pikiran yang berlebihan muncul ketika seseorang terlalu mengandalkan “pengaturan diri sendiri” (tadbir) dan melupakan pengaturan Allah SWT. Di sinilah Kitab Al-Hikam menawarkan perspektif baru yang mencerahkan.

Rahasia Ketenangan: “Istirahatkan Dirimu dari Pengaturan”

Salah satu hikmah yang paling populer dalam Al-Hikam adalah perintah untuk mengistirahatkan diri dari tadbir. Beliau menulis:

Pesan Dakwah: Menghitung Dosa (105)

“Arih nafsaka minad-tadbir, fama qama bihi ghairuka ‘anka la taqum bihi linafsika.” (Istirahatkan dirimu dari pengaturan. Apa yang sudah dijamin oleh selainmu—yakni Allah—untukmu, janganlah engkau turut menyibukkan diri untuk mengaturnya).

Kalimat ini bukan berarti kita dilarang berencana atau bekerja. Namun, yang ditekankan adalah berhenti “mengatur” secara emosional dan mental hingga membuat hati cemas. Kita sering kali menderita bukan karena masalahnya, melainkan karena pikiran kita tentang masalah tersebut. Dengan menyerahkan hasil akhir kepada Allah, kita memberikan ruang bagi jiwa untuk beristirahat.

Menyeimbangkan Upaya dan Kepercayaan

Banyak orang salah paham dan menganggap tawakal berarti pasif. Al-Hikam mengajarkan keseimbangan yang presisi. Sebagai hamba, kita wajib melaksanakan ikhtiar secara maksimal. Namun, setelah menyelesaikan usaha tersebut, tugas kita pun berakhir.

Pada umumnya, overthinking biasanya terjadi setelah suatu usaha dilakukan ataupun tepat sebelum usaha tersebut dimulai. Dalam hal ini, pikiran kita cenderung melompat jauh ke depan menuju berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Oleh karena itu, Kitab Al-Hikam hadir untuk mengajarkan bahwa semangat yang sangat menggebu-gebu sekalipun ternyata tidak akan pernah mampu menembus kokohnya tembok takdir. Dengan demikian, kesadaran akan batasan diri menjadi kunci utama agar kita tidak terjebak dalam kecemasan yang berlebihan. Kesadaran inilah yang membebaskan kita dari kecemasan yang sia-sia.

Mengapa Kita Sering Cemas?

Berikut adalah beberapa alasan mengapa overthinking sulit dihilangkan menurut perspektif spiritual:

Ketika Kerabat Pergi: Kematian yang Dekat dan Panggilan untuk Muhasabah

  1. Kurangnya Rasa Percaya (Tsiqah): Kita kurang yakin bahwa Allah telah mengatur yang terbaik bagi kita.

  2. Keterikatan pada Hasil: Kita terlalu fokus pada hasil duniawi sehingga lupa bahwa proses adalah bentuk ibadah.

  3. Lupa akan Waktu Sekarang: Pikiran kita terlalu sering melompat ke masa depan yang belum terjadi, padahal kewajiban kita hanya ada di saat ini.

Langkah Praktis Mengatasi Overthinking ala Al-Hikam

Untuk mengimplementasikan ajaran Al-Hikam dalam kehidupan sehari-hari guna mengatasi overthinking, Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut:

1. Fokus pada Kewajiban, Bukan Hasil

Ingatlah bahwa tugas Anda adalah melakukan yang terbaik pada saat ini. Jika Anda sedang bekerja, fokuslah pada pekerjaan tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Jangan biarkan pikiran Anda terdistraksi oleh “bagaimana jika nanti gagal”.

Kejujuran dalam Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn: Jalan Lurus Menuju Hati yang Hidup

2. Sadari Batas Kemampuan Manusia

Manusia memiliki keterbatasan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi satu jam ke depan. Dengan menerima keterbatasan ini, kita akan lebih mudah melepaskan beban pikiran yang tidak perlu.

3. Perbanyak Zikir dan Mengingat Allah

Zikir bukan sekadar ucapan lisan, tetapi upaya untuk mengembalikan kesadaran bahwa Allah memegang kendali penuh. Ketika pikiran mulai liar, kembalikan fokus pada Allah yang Maha Mengatur.

Kesimpulan: Jalani Hidup yang Lebih Damai dengan Al-Hikam

Mengatasi overthinking memang tidak instan, namun dengan mendalami kearifan Kitab Al-Hikam, kita diajak untuk melihat dunia dengan kacamata yang berbeda. Hidup menjadi lebih ringan ketika kita menyadari bahwa kita bukan pemilik skenario alam semesta.

Istirahatkanlah pikiran Anda. Biarkan Allah yang bekerja dengan cara-Nya yang penuh hikmah, sementara Anda cukup menjadi hamba yang berusaha dengan tulus dan hati yang tenang.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.