SURAU.CO – Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam.Namun, tahukah Anda bahwa sebelum perjalanan agung menuju Sidratul Muntaha tersebut, Nabi Muhammad SAW harus melewati fase kehidupan yang sangat kelam dan penuh duka? Para ulama sering menyebut periode ini sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.
Memahami latar belakang di balik Isra’ Mi’raj Rasulullah sangat penting bagi setiap Muslim. Pesan ini mengajarkan kita bahwa ujian yang sangat berat sering kali mengawali setiap kemuliaan. Artikel ini mengulas secara mendalam berbagai cobaan yang menimpa Nabi Muhammad SAW dalam perjalanannya menjemput karunia terbesar dari Allah SWT.
1. Kematian Sang Pelindung: Abu Talib
Ujian pertama yang sangat memukul batin Rasulullah sebelum Isra’ Mi’raj adalah wafatnya sang paman, Abu Thalib. Dalam dakwah Islam di Mekkah, Abu Thalib adalah sosok benteng pertahanan utama. Meskipun beliau tidak menyatakan keislamannya secara terang-terangan, Abu Thalib menggunakan pengaruhnya sebagai tokoh Quraisy untuk melindungi keponakannya dari gangguan fisik kaum kafir.
Ketika Abu Thalib wafat, Rasulullah tidak hanya kehilangan sosok ayah pengganti, tetapi juga kehilangan perlindungan politik dan sosial. Tanpa Abu Thalib, kaum kafir Quraisy merasa memiliki lampu hijau untuk menyakiti Rasulullah dengan lebih terang-terangan dan brutal.
2. Kehilangan Pendamping Setia: Sayyidah Khadijah ra.
Hanya berselang singkat setelah wafatnya Abu Thalib, duka kembali menyelimuti hati Nabi Muhammad SAW. Istri tercinta beliau, Sayyidah Khadijah ra., berpulang ke rahmatullah. Khadijah bukan sekadar istri; ia adalah orang pertama yang mengimani kerasulan Muhammad, orang yang menenangkan beliau saat ketakutan menerima wahyu pertama, dan sosok yang merelakan seluruh hartanya demi tegaknya agama Allah.
Kematian Khadijah membuat Nabi merasa sangat kesepian.Di luar rumah beliau ditekan oleh kaum Quraisy, dan kini di dalam rumah, beliau tidak lagi menemukan sosok pendamping yang biasanya menghapus kesedihan tersebut.Tahun ini benar-benar merupakan titik terendah dalam pergumulan emosionalnya.
3. Penolakan Menyakitkan di Kota Thaif
Karena tekanan di Mekkah semakin tidak terbendung setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, Rasulullah mencoba mencari basis dakwah baru ke kota Thaif.Ia berharap agar penduduk Taif, khususnya Bani Thaqif, menerima pesan Islam dan memberikan perlindungan.
Namun, kenyataan yang diterima sangatlah jauh dari harapan. Alih-alih diterima dengan tangan terbuka, Rasulullah justru diusir dengan hina. Para pemuka Thaif memprovokasi anak-anak dan budak untuk melempari beliau dengan batu. Dalam perjalanan pulang, tubuh Rasulullah bersimbah darah dan kaki beliau terluka parah.
Pengalaman mengerikan di Taif ini dianggap sebagai salah satu momen paling memilukan dalam hidupnya.Meski demikian, di sinilah terpancar kemuliaan akhlak Nabi; beliau menolak tawaran Malaikat Jibril untuk menghancurkan penduduk Thaif dengan gunung, justru beliau mendoakan agar keturunan mereka kelak menjadi pemeluk Islam yang taat.
4. Pemboikotan dan Tekanan Ekonomi yang Hebat
Sebelum peristiwa-peristiwa duka tersebut, Rasulullah dan Bani Hashim juga telah melewati masa pemboikotan selama tiga tahun di lembah Syi’ib Ali. Mereka dilarang melakukan transaksi dagang, tidak boleh menikah dengan kaum lain, dan akses makanan diputus total.
Penderitaan fisik akibat kelaparan ini meninggalkan dampak yang mendalam bagi kesehatan para sahabat dan keluarga Nabi. Tekanan ekonomi ini dirancang untuk mematahkan semangat dakwah, namun Rasulullah tetap teguh berdiri di atas kebenaran meskipun kondisi fisik sangat lemah.
Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Ujian Berat?
Banyak hikmah yang bisa kita petik dari rentetan ujian ini. Para ulama menjelaskan bahwa Isra’ Mi’raj adalah “hiburan” (tasliyah) dari Allah SWT untuk menghibur hati hamba-Nya yang sedang terluka.
-
Penyucian Hati: Ujian berat ini bertujuan untuk lebih memurnikan ketergantungan Nabi hanya kepada Allah, bukan kepada manusia (Abu Talib atau Khadijah).
-
Hadiah untuk Kesabaran: Allah menunjukkan bahwa setelah kesulitan yang luar biasa, ada kemudahan dan kemuliaan yang tidak terbayangkan oleh akal manusia.
-
Persiapan Mental: Allah menempa mental Rasulullah sekeras baja sebelum beliau menerima perintah salat di langit ketujuh. Hal ini mempersiapkan beliau menghadapi tantangan dakwah besar seperti hijrah ke Madinah.
Relevansi bagi Kehidupan Kita Saat Ini
Kisah cobaan yang dialami Nabi sebelum Isra’ Mi’raj memberikan pelajaran berharga bagi kita ketika menghadapi masalah kehidupan.Seringkali, saat kita merasa berada di titik terendah, itulah saat Allah sedang mempersiapkan sebuah “perjalanan besar” atau derajat yang lebih tinggi untuk kita.
Kuncinya adalah kesabaran dan menjaga hubungan dengan Tuhan.Sebagaimana Nabi Muhammad (saw) terus berdoa meskipun terluka di Taif, kita juga diajarkan untuk tidak pernah putus asa terhadap rahmat Allah.
Kesimpulan
Peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah bukanlah sekadar perjalanan fisik dan spiritual biasa. Ini adalah puncak dari proses perjuangan yang penuh air mata dan darah. Pemahaman terhadap beban berat Rasulullah membantu kita lebih menghargai setiap hukumnya. Terutama ibadah salat, yang merupakan oleh-oleh utama dari perjalanan agung tersebut.
Semoga kisah ini mempertebal iman kita dan memberikan kekuatan dalam menghadapi setiap ujian kehidupan dengan meneladani kesabaran sang Baginda Nabi Muhammad SAW.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
