Tren mode hijab di Indonesia berkembang sangat pesat dalam satu dekade terakhir. Banyak wanita kini memilih mengenakan hijab dalam kehidupan sehari-hari. Namun, perkembangan ini memunculkan sebuah perdebatan hangat di tengah masyarakat tentang Busana Syar’i vs Fashion Victim Muncul istilah “Busana Syar’i” yang bersaing dengan fenomena “Fashion Victim”. Fenomena ini mempertanyakan esensi sejati dari menutup aurat. Apakah pakaian tersebut benar-benar menutup atau justru hanya membungkus lekuk tubuh?
Memahami Esensi Menutup Aurat
Menutup aurat merupakan kewajiban fundamental bagi setiap Muslimah. Secara syariat, pakaian harus longgar dan tidak menerawang. Pakaian tersebut tidak boleh memperlihatkan bentuk tubuh secara detail. Prinsip utama busana syar’i adalah menjaga kehormatan dan kesederhanaan. Busana ini bertujuan untuk melindungi wanita dari pandangan yang tidak semestinya.
Sayangnya, arus industri mode sering kali mengaburkan batasan tersebut. Banyak produsen pakaian fokus pada estetika semata. Mereka mengejar tren pasar tanpa memperhatikan kaidah agama yang baku. Hal inilah yang kemudian melahirkan istilah “Fashion Victim” di kalangan hijabers.
Fenomena Fashion Victim dalam Berhijab
Istilah fashion victim merujuk pada orang yang mengikuti tren secara buta. Mereka mengenakan pakaian terbaru tanpa mempedulikan kenyamanan atau kesopanan. Dalam konteks hijab, ini terlihat pada penggunaan pakaian ketat. Pakaian tersebut memang menutupi kulit, namun memperjelas lekuk tubuh pengguna. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai “membungkus aurat,” bukan menutupnya.
Banyak wanita terjebak dalam keinginan untuk tampil modern dan modis. Mereka memadukan hijab dengan celana ketat atau atasan yang pendek. Hal ini tentu menyimpang dari tujuan awal berhijab. Hijab seharusnya menjadi identitas ketundukan kepada Sang Pencipta.
Perbedaan Nyata Menutup vs Membungkus
Perbedaan antara menutup dan membungkus aurat terletak pada siluet pakaian. Busana syar’i menggunakan potongan yang lebar seperti gamis atau abaya. Kain yang digunakan juga cenderung tebal namun tetap sejuk. Hijab syar’i biasanya menjuntai panjang hingga menutupi area dada.
Sebaliknya, gaya “membungkus” cenderung menonjolkan bagian pinggang dan pinggul. Penggunaan bahan yang tipis atau elastis sangat mendominasi gaya ini. Meskipun seluruh tubuh tertutup kain, mata tetap bisa melihat bentuk tubuh dengan jelas.
Seorang pakar busana Muslimah pernah memberikan pernyataan terkait hal ini. Beliau menegaskan:
“Berbusana syar’i itu bukan soal gaya, melainkan soal ketaatan. Banyak orang merasa sudah menutup aurat, padahal mereka hanya memindahkan kulit ke dalam kain yang ketat. Syariat meminta kita menyamarkan lekuk tubuh, bukan mempertegasnya dengan balutan busana yang sempit.”
Pengaruh Media Sosial dan Selebgram
Media sosial memegang peran besar dalam pergeseran tren busana ini. Para influencer sering menampilkan gaya hijab yang sangat artistik. Mereka menggunakan aksesori berlebihan dan riasan wajah yang mencolok. Gaya ini kemudian ditiru oleh jutaan pengikut mereka di dunia maya.
Masyarakat mulai menganggap gaya tersebut sebagai standar baru dalam berhijab. Akibatnya, esensi kesederhanaan (tabarruj) mulai terlupakan. Banyak Muslimah lebih khawatir tidak terlihat fashionable daripada tidak terlihat syar’i. Mereka berlomba-lomba membeli koleksi terbaru demi mendapatkan pengakuan sosial.
Tips Memilih Busana Syar’i yang Tetap Modis
Anda tetap bisa tampil cantik dengan busana syar’i yang benar. Pilihlah bahan yang jatuh dan tidak melekat pada tubuh. Gunakan warna-warna lembut atau pastel untuk kesan yang anggun. Anda bisa bermain dengan aksen lipit atau cutting yang unik pada gamis.
Pastikan kerudung yang Anda gunakan menutupi bagian dada secara sempurna. Hindari penggunaan aksesori yang terlalu besar atau berbunyi nyaring. Kesederhanaan adalah kunci utama dari kecantikan seorang Muslimah.
Seorang tokoh agama dalam sebuah seminar berita pernah berpesan:
“Janganlah pakaianmu justru menjadi fitnah bagi dirimu sendiri. Hijab adalah pelindung, maka jadikanlah ia berfungsi sebagai mana mestinya menurut perintah Allah dan Rasul-Nya.”
Kesimpulan
Memilih antara busana syar’i atau menjadi fashion victim adalah pilihan pribadi. Namun, sebagai Muslimah, syariat harus menjadi kompas utama dalam berpakaian. Menutup aurat bukan sekadar tren tahunan yang bisa berganti mengikuti zaman. Ini adalah bentuk ibadah yang memiliki aturan jelas dalam Al-Qur’an.
Mari kita evaluasi kembali isi lemari pakaian kita. Apakah pakaian kita sudah benar-benar menutup aurat dengan sempurna? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang membungkusnya agar terlihat modis di mata manusia? Kecantikan sejati muncul dari ketaatan dan rasa malu yang terjaga. Simpanlah keindahan tubuh Anda hanya untuk yang berhak melihatnya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
