Ibadah
Beranda » Berita » Makna Pergantian Tahun: Mengapa Ulama Lebih Menekankan Muhasabah daripada Resolusi?

Makna Pergantian Tahun: Mengapa Ulama Lebih Menekankan Muhasabah daripada Resolusi?

Pergantian Tahun sebagai muhasabah
Pergantian Tahun sebagai muhasabah

SURAU.CO – Masyarakat sering kali merayakan momen pergantian tahun, baik Tahun Baru Hijriah maupun Masehi, dengan gegap gempita. Umumnya, masyarakat modern menyambut tahun baru dengan menyusun daftar panjang target yang mereka sebut sebagai ‘resolusi’. Namun, jika kita menilik pandangan para ulama dan tradisi intelektual Islam, ada hal yang jauh lebih krusial untuk dilakukan daripada sekadar membuat daftar keinginan.

Alih-alih fokus pada apa yang ingin dicapai di masa depan (resolusi), para ulama lebih menekankan pentingnya melihat ke belakang melalui proses muhasabah (evaluasi diri). Artikel ini akan mengulas mengapa refleksi spiritual jauh lebih utama dalam Islam dan bagaimana cara bijak menyambut pergantian waktu sesuai tuntunan para salafus saleh.

Memahami Perbedaan Antara Resolusi dan Muhasabah

Secara umum, resolusi adalah janji pada diri sendiri untuk melakukan perubahan atau mencapai target tertentu di tahun yang baru. Hal ini sifatnya sangat berorientasi pada hasil duniawi dan masa depan. Sebaliknya, apa yang diminta oleh para ulama saat pergantian tahun adalah melakukan audit spiritual terhadap waktu yang telah berlalu.

Ulama mengajarkan bahwa waktu adalah modal utama manusia. Setiap detik yang terbuang tanpa nilai ibadah adalah kerugian besar. Oleh karena itu, pergantian tahun seharusnya menjadi alarm pengingat bahwa jatah usia kita di dunia semakin berkurang, dan jarak kita dengan liang lahat semakin dekat.

Mengapa Ulama Menekankan Evaluasi Diri?

Para ulama, seperti Imam Al-Ghazali dalam kitab-kitabnya, sering mengingatkan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari kemarin. Dalam konteks pergantian tahun, ada tiga alasan utama mengapa muhasabah menjadi prioritas utama:

Pentingnya Thaharah dalam Islam

1. Menyadari Kekurangan Ibadah

Selama setahun penuh, pasti ada banyak kewajiban yang terlalaikan atau ibadah yang dilakukan tanpa kekhusyukan. Dengan melakukan evaluasi, seorang Muslim dapat menyadari titik lemahnya. Apakah shalat lima waktu sudah tepat waktu? Apakah interaksi dengan Al-Qur’an sudah maksimal? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang diharapkan muncul saat tahun berganti.

2. Memohon Ampunan atas Dosa Masa Lalu

Tahun yang baru tidak akan bermakna jika kita masih memikul beban dosa dari tahun sebelumnya tanpa bertaubat. Ulama menganjurkan agar momen ini diisi dengan istighfar yang mendalam. Kita meminta agar Allah menghapus catatan buruk di tahun yang lewat dan memberikan kekuatan untuk tidak mengulanginya.

3. Mensyukuri Segala Nikmat

Seringkali kita hanya fokus pada apa yang belum kita capai (resolusi) sehingga lupa mensyukuri apa yang sudah Allah berikan. Muhasabah mengajarkan kita untuk menghitung kembali nikmat kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang telah dinikmati selama setahun terakhir.

Tradisi Para Ulama dalam Menyambut Waktu

Dalam tradisi Islam, pergantian waktu dipandang sebagai momen yang sakral namun penuh kewaspadaan. Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah berkata, “Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab (oleh Allah di hari kiamat nanti).” Perkataan ini menjadi landasan utama bagi para ulama dalam menyikapi pergantian tahun.

Bukan kembang api atau pesta pora yang menjadi penghias malam pergantian tahun bagi para pencinta ilmu, melainkan sujud yang panjang dan tetesan air mata penyesalan. Mereka melihat pergantian tahun sebagai langkah kaki yang semakin mendekat ke alam akhirat. Jika resolusi hanya fokus pada “apa yang ingin saya dapatkan”, maka ulama fokus pada “apa yang telah saya persiapkan untuk menghadap Sang Pencipta”.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Langkah Praktis Melakukan Muhasabah Sesuai Tuntunan

Agar pergantian tahun Anda lebih bermakna dan sesuai dengan arahan para ulama, berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:

  1. Menyepi Sejenak (Khalwat): Luangkan waktu di akhir malam untuk menyendiri. Jauhkan diri dari kebisingan media sosial atau perayaan luar ruangan.

  2. Audit Amal Harian: Cobalah ingat kembali dari bulan Januari hingga Desember, apa saja pencapaian spiritual Anda. Jika lebih banyak maksiatnya, maka segeralah beristighfar.

  3. Menyusun Niat Perbaikan (Bukan Sekadar Resolusi): Jika Anda ingin membuat target tahun depan, buatlah niat yang berlandaskan lillahi ta’ala. Misalnya, berniat untuk lebih istiqamah dalam shalat tahajud atau lebih rutin bersedekah.

  4. Memperbanyak Doa Akhir dan Awal Tahun: Doa adalah senjata orang mukmin. Para ulama mengajarkan doa khusus untuk memohon perlindungan dari godaan setan di tahun yang akan datang.

    Haji 2026 Lebih Humanis dan Fokus pada Perlindungan dan Kesehatan Jemaah

Bahaya Terjebak dalam Euforia Resolusi Duniawi

Salah satu kritik para ulama terhadap tren resolusi modern adalah sifatnya yang sering kali membuat manusia terjebak dalam angan-angan panjang (thulul amal). Kita terlalu sibuk merencanakan kesuksesan finansial atau karier hingga lupa bahwa ajal bisa datang kapan saja.

Islam tidak melarang kita untuk maju secara duniawi. Namun, orientasi hidup seorang Muslim harus tetap pada akhirat. Resolusi tanpa muhasabah hanya akan melahirkan sifat sombong jika berhasil, atau putus asa jika gagal. Dengan muhasabah, apa pun hasilnya di tahun depan, kita akan tetap merasa tenang karena bersandar pada ketetapan Allah.

Menatap Masa Depan dengan Cermin Masa Lalu

Pergantian tahun adalah momentum emas untuk “berhenti sejenak” dari hiruk-pikuk dunia. Apa yang diminta oleh para ulama bukanlah agar kita berhenti bermimpi, melainkan agar kita tidak lupa daratan. Muhasabah adalah kunci agar resolusi yang kita buat bukan sekadar daftar keinginan kosong, melainkan langkah nyata menuju ketakwaan.

Mari kita jadikan pergantian tahun ini sebagai titik balik. Kita perlu meninggalkan kebiasaan lama yang buruk, memurnikan hati dengan taubat, serta menyongsong tahun baru demi meraih cinta Allah SWT. Kita perlu mengingat bahwa sejatinya waktu tidak pernah kembali dan Allah akan meminta pertanggungjawaban atas setiap detik yang berlalu.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.