Kisah
Beranda » Berita » Kisah Nabi Uzair: Rahasia Kebangkitan Setelah Wafat 100 Tahun

Kisah Nabi Uzair: Rahasia Kebangkitan Setelah Wafat 100 Tahun

Kisah Nabi Uzair
Kisah Nabi Uzair

SURAU.CO – Kisah Nabi Uzair merupakan salah satu fragmen sejarah yang sangat menakjubkan dalam literatur Islam. Peristiwa ini tidak hanya berbicara tentang mukjizat, tetapi juga menjadi jawaban atas pertanyaan eksistensial manusia mengenai hari kebangkitan. Allah SWT mengabadikan momen luar biasa ini dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 259.

Dalam artikel ini, kita akan mengulas secara mendalam bagaimana Nabi Uzair wafat, dibangkitkan kembali oleh Allah setelah satu abad, serta hikmah besar di balik peristiwa tersebut bagi keimanan kita.

Siapakah Nabi Uzair?

Nabi Uzair (dalam literatur Barat dikenal sebagai Ezra) adalah seorang nabi dari kalangan Bani Israil yang hidup di masa antara Nabi Sulaiman dan Nabi Zakaria. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat alim dan hafal kitab Taurat. Di tengah masa-masa sulit saat Baitul Maqdis hancur akibat serangan Raja Nebukadnezar dari Babilonia, Uzair hadir sebagai sosok yang menguatkan spiritualitas kaumnya.

Awal Mula Perjalanan: Sebuah Pertanyaan di Balik Reruntuhan

Kisah ini bermula ketika Nabi Uzair sedang dalam perjalanan mengendarai seekor keledai. Ia membawa keranjang berisi buah-buahan seperti anggur dan perasan jeruk sebagai bekal. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah negeri (yang diyakini sebagai Yerusalem) yang telah hancur total. Bangunan-bangunannya roboh, dan tulang-belulang manusia berserakan di mana-mana.

Melihat kehancuran yang begitu dahsyat, Nabi Uzair bergumam dalam hati, bukan karena ragu, melainkan karena rasa takjub akan kuasa Allah: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”

Hikmah Mendalam Kisah Nabi Yunus dalam Perut Ikan: Pelajaran Kesabaran dan Kekuatan Doa

Pertanyaan ini menjadi titik awal dari sebuah keajaiban yang akan ia alami sendiri sebagai tanda kekuasaan Sang Pencipta.

Mukjizat Kematian Selama 100 Tahun

Mendengar gumaman hambanya, Allah SWT kemudian memerintahkan Malaikat Maut untuk mencabut nyawa Uzair di tempat itu juga. Ia pun wafat dalam keadaan terduduk di bawah sebuah pohon. Tidak hanya Uzair, keledainya pun ikut mati dan hancur menjadi tulang belulang.

Waktu terus berlalu. Satu tahun, sepuluh tahun, hingga genap 100 tahun. Selama kurun waktu tersebut, dunia telah banyak berubah. Peradaban berganti, generasi lama wafat, dan bangunan-bangunan yang dulunya hancur mulai dibangun kembali. Namun, jasad Nabi Uzair tetap terjaga oleh Allah SWT di tempat peristirahatan terakhirnya yang sunyi.

Kebangkitan dan Pertanyaan Malaikat

Setelah genap seratus tahun, Allah menghidupkan kembali Nabi Uzair. Malaikat kemudian datang dan bertanya kepadanya, “Berapa lama engkau tinggal di sini?”

Nabi Uzair yang baru bangun dari kematiannya merasa seolah-olah ia hanya tertidur sebentar. Ia menjawab, “Aku tinggal di sini sehari atau setengah hari.”

Kisah Karomah Ashim bin Tsabit: Sahabat Nabi yang Jasadnya Dijaga Lebah

Malaikat kemudian mengoreksi persepsinya dengan berkata, “Sesungguhnya engkau telah tinggal di sini selama seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu, belum lagi berubah. Dan lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang).”

Momen ini adalah puncak dari pembuktian kuasa Allah. Meskipun Uzair telah mati selama satu abad, makanan (buah-buahan) yang ia bawa tetap segar, tidak busuk sedikit pun. Sebaliknya, keledainya telah hancur total. Allah kemudian memperlihatkan proses penyusunan kembali tulang-belulang keledai tersebut hingga hidup kembali di depan mata Nabi Uzair.

Kembali ke Kaumnya: Menjadi Tanda Kekuasaan Allah

Setelah dibangkitkan, Nabi Uzair pulang ke kampung halamannya. Tentu saja, tidak ada yang mengenalnya karena semua teman sebayanya telah wafat. Ia menemukan rumahnya dan bertemu dengan seorang wanita tua yang buta. Wanita itu dulunya adalah pembantu di rumah Uzair dan berusia sekitar 20 tahun saat Uzair menghilang. Kini, wanita itu telah berusia 120 tahun.

Uzair berkata, “Aku adalah Uzair.” Wanita itu terkejut dan berkata bahwa Uzair adalah orang yang doanya selalu dikabulkan. Ia meminta Uzair berdoa agar matanya bisa melihat lagi untuk membuktikan identitasnya. Atas izin Allah, setelah didoakan, mata wanita itu sembuh.

Kabar ini menyebar dengan cepat. Bani Israil yang awalnya ragu akhirnya percaya setelah Uzair mampu membacakan kembali isi kitab Taurat secara sempurna dari ingatannya—sesuatu yang tidak ada seorang pun bisa lakukan di zaman itu karena naskah asli Taurat telah lama hilang atau rusak.

Meneladani Akhlak Rasulullah sebagai Suami dan Kepala Keluarga Idaman

Hikmah Kisah Nabi Uzair bagi Umat Islam

Ada banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah inspiratif ini:

  1. Kepastian Hari Kebangkitan: Peristiwa ini adalah prototipe kecil dari apa yang akan terjadi pada hari kiamat nanti. Jika Allah mampu menghidupkan kembali Uzair setelah 100 tahun, maka membangkitkan seluruh manusia bukanlah hal sulit bagi-Nya.

  2. Kekuasaan Allah atas Waktu: Allah mampu menghentikan proses pembusukan pada makanan Uzair selama 100 tahun, namun di saat yang sama membiarkan keledainya hancur. Ini menunjukkan bahwa hukum alam tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah.

  3. Pentingnya Ilmu dan Al-Qur’an: Uzair menjadi mulia karena ilmu dan hafalannya terhadap wahyu. Ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu menjaga interaksi dengan kitab suci.

Penutup

Kisah Nabi Uzair yang bangkit setelah 100 tahun wafat adalah bukti nyata bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Peristiwa ini mengajarkan kita untuk selalu husnuzan (berprasangka baik) terhadap takdir Allah dan mempertebal keyakinan akan adanya kehidupan setelah mati.

Semoga kisah ini menambah keimanan kita dan membuat kita semakin mempersiapkan diri menuju hari kebangkitan yang sesungguhnya.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.