SURAU.CO – Dalam kehidupan sosial, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah. Namun, ketika perbedaan tersebut meruncing menjadi konflik dan permusuhan, Islam memberikan panduan tegas bagi umatnya untuk segera bertindak. Fenomena pertikaian antar sesama Muslim bukan sekadar masalah pribadi, melainkan ujian bagi soliditas umat secara keseluruhan. Artikel ini akan mengulas mendalam tentang urgensi mendamaikan saudara yang bertikai berdasarkan prinsip ishlah dalam Islam.
Memahami Konsep Persaudaraan dalam Islam
Islam memandang hubungan antar pengikutnya bukan hanya sebagai ikatan sosial biasa, tetapi sebagai ikatan spiritual yang sangat kuat. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, Surah Al-Hujurat ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah perselisihan di antara saudara-saudaramu dan takutlah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Ayat ini menegaskan bahwa fondasi hubungan umat Islam adalah persaudaraan (ukhuwah). Jika ada dua pihak yang berselisih, maka pihak ketiga memiliki kewajiban moral dan religius untuk menjadi penengah. Persaudaraan ini ibarat satu tubuh; jika salah satu anggota badan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.
Hak dan Kewajiban Sesama Muslim Menurut Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Mukhtasar Ihya’ Ulumiddin memberikan perhatian khusus pada etika bersosialisasi di antara sesama Muslim. Beliau menekankan bahwa Allah SWT telah mengikat hati setiap orang beriman, sehingga mereka akan memunculkan rasa saling mengenal dan saling membantu secara alami.
Beberapa hak dasar yang harus dipenuhi antar sesama Muslim meliputi:
-
Mengucapkan dan menanggapi salam.
-
Memenuhi undangan.
-
Mendoakan saat bersin.
-
Menjenguk ketika sakit.
-
Melayat dan mengurus jenazah ketika meninggal.
-
Tepati janji yang telah Anda buat.
Lebih dari itu, menjaga kedamaian di antara saudara merupakan bagian dari menjaga hak-hak tersebut. Ketika terjadi pertikaian, hak-hak tersebut seringkali terabaikan, dan di sinilah peran ishlah atau perdamaian menjadi sangat krusial.
Prioritas untuk Mendamaikan Orang-orang yang Berselisih
Mungkin banyak yang belum menyadari bahwa amalan mendamaikan orang yang bertikai memiliki derajat yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang amalan yang lebih utama daripada derajat puasa, salat, dan sedekah?”
Para sahabat menjawab tentu saja mereka mau. Rasulullah kemudian bersabda, “Yaitu mendamaikan perselisihan di antara kamu, karena rusaknya perdamaian di antara kamu adalah ‘al-haaliqah’ (pemutus/perusak agama).”
Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga keharmonisan sosial jauh lebih penting daripada sekadar menjalankan ibadah ritual jika ibadah tersebut tidak membekas dalam akhlak sosial. Perpecahan dianggap sebagai “pencukur” agama karena dapat melenyapkan rasa cinta, kasih sayang, dan ketaatan kepada Allah secara kolektif.
Bahaya Membiarkan Perselisihan Berlanjut
Membiarkan saudara atau tetangga dalam kondisi bermusuhan dapat berdampak buruk bagi lingkungan sekitar. Konflik yang tidak segera didamaikan cenderung akan meluas dan melibatkan pihak lain yang tidak berkepentingan (provokasi).
Islam sangat melarang tindakan namimah atau adu domba. Seseorang yang sengaja memperkeruh suasana saat ada pihak yang bertikai diancam dengan hukuman yang berat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa pelaku adu domba tidak akan masuk surga. Oleh karena itu, tugas kita bukan hanya tidak menjadi kompor, melainkan menjadi air yang memadamkan api perselisihan tersebut.
Langkah Praktis Mendamaikan Saudara yang Bertikai
Untuk menjalankan misi perdamaian ini, ada beberapa langkah yang bisa diambil berdasarkan nilai-nilai Islam:
1. Niatkan karena Allah (Ikhlas)
Langkah pertama adalah memastikan bahwa tujuan kita menengahi konflik adalah untuk mencari ridha Allah, bukan untuk mencari panggung atau memihak salah satu pihak secara tidak adil.
2. Bersikap Adil dan Objektif
Dalam Surat Al-Hujurat ayat 9, Allah memerintahkan kita untuk mendamaikan dengan adil. Jangan sampai karena kita lebih dekat dengan salah satu pihak, kita membela yang salah. Keadilan adalah kunci agar perdamaian bersifat permanen dan tidak meninggalkan dendam.
3. Gunakan Kata-kata yang Baik
Kata-kata lembut seringkali lebih ampuh dalam meruntuhkan ego daripada argumen yang keras. Gunakan pendekatan persuasif dan ingatkan kedua belah pihak tentang pentingnya pengampunan.
4. Menutup Aib Kedua Pihak
Seorang pendamai (mushlih) harus bisa menjaga rahasia. Jangan sampai cerita dari pihak A disebarkan ke pihak B dengan tambahan yang bisa menyulut emosi kembali.
Pentingnya Menjaga Hubungan dengan Tetangga
Selain persaudaraan seiman, hubungan bertetangga juga menjadi poin penting yang disorot dalam ajaran Islam. Tetangga memiliki hak yang berlapis, terutama jika mereka juga seorang Muslim dan kerabat. Namun, bahkan jika tetangga kita berbeda keyakinan, kewajiban untuk menjaga kenyamanan dan keselamatannya tetap berlaku.
Mendamaikan tetangga yang berselisih adalah bentuk nyata dari iman. Seseorang belum dikatakan sempurna imannya jika ia kenyang sementara tetangganya lapar, atau jika ia merasa tenang sementara tetangganya merasa terancam oleh perilakunya.
Kesimpulan
Mendamaikan saudara yang bertikai adalah tugas mulia yang mendatangkan rahmat melimpah. Dengan melakukan ishlah, kita tidak hanya menyelamatkan hubungan antarmanusia, tetapi juga menjaga keutuhan agama dan bangsa. Jangan ragu untuk menjadi penengah, karena Allah menjanjikan pahala yang lebih besar dari ibadah sunnah lainnya bagi mereka yang mampu merajut kembali tali silaturahmi yang terputus.
Marilah kita jadikan semangat persaudaraan sebagai landasan dalam interaksi kita sehari-hari. Dengan bertakwa dan selalu mengupayakan perdamaian, semoga Allah SWT memberkati kita semua.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
