SURAU.CO – Sakit adalah pengalaman paling manusiawi. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa menghindarinya. Namun pertanyaannya bukan apakah kita akan sakit, melainkan bagaimana kita memaknai sakit itu sendiri.
Apakah sakit adalah berkah, ujian, kutukan, atau justru kesalahan baik kesalahan manusia maupun kelalaian dalam menjalani hidup?.
Sakit sebagai Kutukan (Cara Pandang Terendah)
Sebagian orang memandang sakit sebagai kutukan.
Kutukan dari Tuhan, dari nasib, atau dari kehidupan yang dianggap tidak adil.
Cara pandang ini biasanya lahir dari:
Keputusasaan
Ketidaktahuan
Luka batin yang belum sembuh
Dalam posisi ini, manusia merasa menjadi korban. Ia bertanya, “Mengapa aku?”
Padahal, ketika sakit dimaknai sebagai kutukan, yang paling menderita bukan hanya tubuh, tetapi jiwa dan pikiran. Rasa marah dan penolakan justru memperberat proses penyembuhan.
Sakit sebagai Kesalahan (Cara Pandang Rasional)
Pada tingkat berikutnya, sakit dipahami sebagai akibat dari kesalahan:
Pola hidup yang tidak seimbang
Makan tanpa kesadaran
Stres berkepanjangan
Emosi yang dipendam
Hubungan yang tidak sehat antara hati, pikiran, dan tubuh
Ini adalah cara pandang yang lebih dewasa.
Sakit bukan kutukan, melainkan peringatan. Tubuh tidak pernah berbohong. Ia hanya memberi sinyal bahwa ada yang tidak selaras.
Namun jika berhenti di sini, manusia masih melihat sakit semata sebagai problem teknis, bukan pesan spiritual.
Sakit sebagai Ujian (Cara Pandang Spiritual)
Pada tingkat kesadaran yang lebih dalam, sakit adalah ujian.
Ujian tentang:
Kesabaran
Keikhlasan
Ketergantungan kepada Tuhan
Kerendahan hati sebagai manusia
Dalam sakit, manusia belajar bahwa:
Ilmu ada batasnya
Kekuatan ada ujungnya
Kendali mutlak bukan milik manusia
Sakit menguji apakah manusia masih mampu:
Bersyukur ketika tidak berdaya
Tenang ketika rencana runtuh
Berserah tanpa kehilangan ikhtiar
Namun ujian pun bukan tujuan akhir.
Sakit sebagai Berkah (Cara Pandang Tertinggi)
Pada puncak kesadaran, sakit justru menjadi berkah tersembunyi.
Berkah karena: Sakit menghentikan kesombongan, Sakit memaksa manusia pulang ke dalam dirinya
Sakit membuka dialog antara hati, nafas, dan pikiran
Sakit mendekatkan manusia pada Tuhan secara jujur, bukan ritual semata
Banyak orang baru benar-benar hidup justru setelah sakit.
Banyak yang baru memahami makna sabar, dzikir, dan kesadaran nafas ketika tubuhnya lemah.
Dalam kondisi ini, sakit tidak lagi ditanya “kapan sembuh?”, melainkan “apa yang harus aku pahami?”
Semua Tergantung Kesadaran
Sakit bukan satu makna tunggal.
Ia bisa menjadi:
Kutukan bagi yang menolak
Kesalahan bagi yang mau belajar
Ujian bagi yang beriman
Berkah bagi yang sadar
Bukan sakit yang menentukan derajat manusia, melainkan cara manusia memaknai sakit itu sendiri.
Ketika hati, nafas, dan pikiran kembali selaras sering kali, sakit pun mulai kehilangan alasan untuk tinggal.
Kesombongan, Keakuan, Merasa Lebih dari yang Lain Berujung pada Kekafiran, Kemunafikan, dan Kemurtadan
Kesombongan tidak selalu datang dalam rupa kata kata yang keras atau sikap yang kasar. Ia sering hadir dengan wajah yang halus, tersenyum, bahkan dibungkus dengan pakaian kebaikan dan kesalehan.
Kesombongan bersemayam di dalam hati ketika aku merasa lebih benar, lebih suci, lebih pintar, atau lebih berjasa dibandingkan orang lain. Pada saat itulah keakuan mulai mengambil alih kesadaran, memisahkan diri dari hakikat ketundukan kepada Tuhan.
Keakuan adalah akar dari segala penyimpangan batin. Ketika “aku” lebih ditinggikan daripada kebenaran, maka kebenaran pun diukur menurut kepentingan diri. Aku mulai memilih ayat, nasihat, dan nilai yang menguntungkan posisiku, lalu mengabaikan yang menegur dan meluruskan. Dari sinilah kekafiran batin bisa bermula, bukan selalu menolak Tuhan secara lisan, tetapi menyingkirkan kehendakNya demi kehendak diri.
Kesombongan melahirkan kemunafikan. Di luar tampak taat, di dalam menolak untuk tunduk sepenuhnya. Lisan berbicara tentang keikhlasan, tetapi hati penuh tuntutan pengakuan.
Amal dilakukan, namun menunggu pujian. Ketika pujian tak datang, kekecewaan muncul. Ketika nasihat diberikan, hati menolak. Inilah tanda bahwa iman tidak lagi bersemayam sebagai cahaya, melainkan sebagai simbol.
Lebih berbahaya lagi, keakuan yang dibiarkan tumbuh dapat menyeret pada kemurtadan batin.
Bukan selalu berpindah agama secara formal, tetapi berpindah pusat ketundukan: dari Tuhan menuju ego.
Saat itu, pembenaran diri menggantikan nilai-nilai ilahi. Yang salah terasa benar, yang benar terasa mengancam. Hati pun kehilangan rasa takut kepada Alloh dan rasa malu kepada sesama.
Aku belajar bahwa Iblis tidak jatuh karena kurang ibadah, tetapi karena kesombongan: “Aku lebih baik darinya.” Kalimat inilah yang terus hidup dalam berbagai bentuk di dalam diri manusia. Setiap kali aku merasa lebih dari yang lain, saat itulah aku sedang berdiri di tepi jurang yang sama.
Kerendahan Hati adalah pagar Iman
Jalan keselamatan bukan merasa paling benar, tapi terus merasa perlu diluruskan. Bukan meninggikan diri, tetapi merendahkan hati. Bukan sibuk menilai orang lain, tetapi menghisab diri sendiri. Jadi, kerendahan hati pagar iman, tanpanya iman mudah runtuh.
Ya Alloh, selamatkan aku dari kesombongan yang tersembunyi, dari keakuan yang menipu, dan dari perasaan merasa lebih dari yang lain.
Amin, jadikan aku hamba yang sadar akan keterbatasannya, selanjutnya tunduk dalam kebenaran, dan istiqomah dalam kerendahan hati. Karena hanya dengan itulah iman tetap hidup dan hati tetap berpulang kepadaMu. (Bambang Jb)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
