Kalam Khazanah
Beranda » Berita » Rahasia Kopi dalam Khazanah Tasawuf: Minuman Para Pencari Tuhan

Rahasia Kopi dalam Khazanah Tasawuf: Minuman Para Pencari Tuhan

Kopi dalam Khazanah Tasawuf
Kopi dalam Khazanah Tasawuf

SURAU.CO – Bagi masyarakat modern, kopi mungkin hanya sekadar penghalau kantuk di pagi hari atau teman saat bekerja. Namun, jika kita menilik lebih dalam ke dalam sejarah Islam, dalam khazanah tasawuf, kopi memiliki kedudukan yang jauh lebih mulia. Artikel ini mengupas tuntas peran kopi sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan spiritual para sufi dan alasan orang-orang menjuluki minuman ini sebagai ‘minuman para kekasih Allah’.

Sejarah Awal Kopi di Dunia Islam

Kopi, atau yang dalam bahasa Arab disebut sebagai qahwah, memiliki akar sejarah yang sangat kuat di wilayah Yaman dan Etiopia. Dalam catatan sejarah Islam, para sejarawan sering mengaitkan penemuan khasiat kopi dengan para sufi yang mencari cara agar tetap terjaga saat melaksanakan ibadah malam (qiyamul lail).

Dalam catatan sejarah, salah satu tokoh yang sangat sering disebut dalam sejarah kopi adalah Syekh Abu Bakar bin Abdullah al-Aydarus. Secara lebih mendalam, beliau merupakan seorang sufi terkemuka yang menyadari bahwasanya biji kopi dapat memberikan energi tambahan bagi tubuh manusia. Hal ini bertujuan agar tubuh tetap tegak dan terjaga saat melaksanakan salat maupun zikir, terutama di saat orang lain sedang terlelap. Oleh karena itu, berawal dari sinilah tradisi meminum kopi mulai menyebar secara luas, mulai dari kalangan tarekat hingga akhirnya menjangkau masyarakat umum.

Mengapa Para Sufi Sangat Mencintai Kopi?

Bagi seorang salik (pencari Tuhan), waktu malam adalah waktu yang paling berharga. Di saat itulah keheningan menciptakan ruang bagi pertemuan spiritual antara hamba dan Sang Pencipta. Namun, kelemahan fisik manusia sering kali berupa rasa kantuk yang berat. Di sinilah kopi hadir sebagai “asisten spiritual.”

Beberapa alasan mengapa kopi sangat dihargai dalam khazanah Sufisme antara lain:

Pesan Dakwah: Menghitung Dosa (105)

  1. Membantu Konsentrasi Zikir: Kafein dalam kopi membantu menstimulasi sistem saraf sehingga pikiran tetap fokus pada kalimat-kalimat tayyibah.

  2. Menghilangkan Kemalasan : Para ulama Sufi memandang rasa kantuk sebagai penghalang ibadah. Kopi membantu menghilangkan penghalang ini.

  3. Simbol Kebersamaan: Tradisi “ngopi” dalam majelis ilmu atau pertemuan tarekat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan (ukhuwah).

Doa Khusus Saat Meminum Kopi

Beberapa sumber menyebutkan adanya tradisi lisan mengenai doa yang perlu dibaca saat hendak meminum kopi. Meskipun doa ini tidak tercantum secara tekstual dalam kitab-kitab hadis induk, para ulama tasawuf sering mengajarkannya sebagai permohonan agar kopi tersebut membawa keberkahan.

Salah satu doa yang populer adalah: “Allahummaj’alha nuran libashari, wa ‘afiyatan libadani, wa syifa’an liqalbi, wa dawa’an likulli da’in, ya Qawiyyu ya Matin.” Artinya: “Ya Allah, jadikan kopi ini cahaya bagi penglihatanku, kesehatan bagi tubuhku, penyembuh hatiku, dan obat untuk segala penyakit, wahai Yang Mahakuasa, Yang Maha Perkasa.”

Ketika Kerabat Pergi: Kematian yang Dekat dan Panggilan untuk Muhasabah

Keyakinan para sufi adalah bahwa segala sesuatu yang dikonsumsi dengan niat ibadah akan berubah menjadi energi ketaatan. Oleh karena itu, kopi bukan lagi sekadar cairan hitam, melainkan sarana menuju Tuhan.

Pandangan Ulama tentang Hukum Kopi

Menariknya, masyarakat di masa lalu tidak langsung menerima kehadiran kopi begitu saja. Para fuqaha (ahli hukum Islam) terlibat perdebatan sengit mengenai hal ini. Sebagian ulama melarang konsumsi kopi karena mereka menganggap efeknya mirip dengan khamar (minuman beralkohol) yang memabukkan atau mengubah kesadaran.

Namun, para ulama tasawuf dan ulama moderat membela kopi. Mereka berargumen bahwa kopi tidak memabukkan, melainkan justru memberikan kecerdasan dan semangat dalam kebaikan. Seiring berjalannya waktu, ulama menyepakati konsensus bahwa kopi adalah mubah (boleh), bahkan bisa menjadi sunnah jika seseorang menyengajanya untuk membantu ibadah.

Filosofi “Qahwah” dalam Nama

Secara etimologi, kata qahwah awalnya digunakan untuk menyebut jenis anggur tertentu. Namun, para sufi “meminjam” istilah ini untuk kopi sebagai bentuk metafora. Jika anggur biasa memabukkan pikiran dan membawa pada kemaksiatan, maka “anggur para sufi” (kopi) memabukkan jiwa dengan cinta kepada Allah dan membawanya pada kesadaran ilahiah.

Ada pula yang menjabarkan huruf-huruf dalam kata Qahwah(Qaf, Ha, Wau, Ha) sebagai simbol-simbol spiritual:

Kejujuran dalam Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn: Jalan Lurus Menuju Hati yang Hidup

  • Qaf (Quut) : Makanan untuk jiwa.

  • Ha (Huda): Petunjuk menuju jalan kebenaran.

  • Wau (Wud) : Cinta yang mendalam kepada Sang Pencipta.

  • Ha (Hiya) : Kehidupan yang dijalani dengan mengenang.

Kopi dan Budaya Pesantren di Indonesia

Di Indonesia, kaitan antara kopi dan dunia spiritual sangat terasa di lingkungan pesantren. Secangkir kopi hitam hampir selalu menemani para santri yang harus bangun tengah malam untuk mengaji atau melaksanakan salat tahajud. Mereka terus melestarikan warisan tradisi sufi ini hingga sekarang.

Kopi di pesantren bukan sekadar gaya hidup, melainkan instrumen edukasi. Sambil menyeruput kopi, para kiai dan santri mendiskusikan kitab-kitab kuning yang tebal, membedah persoalan umat, dan mencari solusi atas berbagai problematika kehidupan. Di sini, kopi menjadi katalisator bagi lahirnya pemikiran-pemikiran besar.

Menikmati Kopi dengan Kesadaran

Melalui khazanah tasawuf, kita belajar bahwa tindakan sesederhana minum kopi bisa bernilai ibadah yang tinggi jika disertai dengan adab dan niat yang benar. Kopi adalah jembatan antara kebutuhan fisik dan aspirasi spiritual.

Oleh karena itu, jika Anda merupakan seorang penikmat kopi, maka sebaiknya cobalah untuk tidak sekadar meminumnya secara terburu-buru. Selain itu, luangkanlah waktu untuk meresapi aromanya sekaligus mensyukuri nikmatnya, serta jangan lupa meniatkan energi yang muncul dari kopi tersebut untuk melakukan berbagai kebaikan. Dengan demikian, secara tidak langsung Anda telah mempraktikkan sebagian dari tradisi luhur para sufi saat mereka berupaya mencari keridaan-Nya.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.