SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sosok
Beranda » Berita » Ibnu Muqlah Sang Revolusioner Kaligrafi Arab

Ibnu Muqlah Sang Revolusioner Kaligrafi Arab

Ibnu muqlah
ilustrasi

SURAU.CO. Dalam lembaran sejarah peradaban Islam, seni kaligrafi atau khat bukan sekadar guratan visual keindahan. Seni ini menjadi jembatan spiritual yang mengabadikan wahyu dengan sesuatu yang menakjubkan. Dari media sederhana seperti pelepah kurma dan batu pada zaman Nabi Muhammad SAW, kaligrafi tidak sekedar indah tetapi bertransformasi menjadi sains yang presisi. Salah satu sosok sentral dalam revolusi estetika kaligrafi Arab ini adalah Abu Ali al-Sadr Muhammad ibn al-Hasan ibn Abdullah ibn Muqlah, atau yang lebih akrab populer dengan sebutan Ibnu Muqlah.

Ibnu Muqlah lahir pada tahun 272 H (887 M). Namanya Ibnu Muqlah yang berarti “anak si biji mata” adalah sebagai simbol kesayangan dalam keluarganya. Sang kakek yang memberikan nama indah itu kepadanya. Tumbuh dalam lingkungan ahli seni di Baghdad, Ibnu Mulqah mewarisi bakat kaligrafi secara turun-temurun. Bersama saudaranya yang Abu Abdillah, keduanya mendapat gemblengan dari maestro Al-Ahwal al-Muharrir, seorang kaligrafer masyhur yang merupakan murid Ibrahim al-Syajari. Tidak salah keduanya mencapai derajat “Imam Khattatin” atau pemimpin para kaligrafer.

Revolusi Geometris: Melahirkan Standar Emas Kaligrafi

Kejeniusannya dalam bidang geometri (ilmu ukur) menjadi fondasi lahirnya standar baru yang mengubah wajah dunia tulis-menulis Arab selamanya. Sumbangan terbesar Ibnu Muqlah yang mendapatkan oleh para peneliti hingga orientalis seperti Schroeder adalah teori al-Khaṭṭ al-Manṣūb. menurutnya teori ini tidak sekadar menciptakan gaya baru, tetapi memformulasikan sistem penulisan yang matematis. Dalam tulisan yang berjudul Peran Ibnu Muqlah dalam Perkembangan Ilmu Kaligrafi, Siti Rahimah Harahap menyebut sumbangan Muqlah dalam kaligrafi bukan pada penemuan gaya baru tulisan saja. Akan Ibnu Muqlah juga penerapan kaidah-kaidah yang sistematis untuk kaidah Khat Naskhi yang berpangkal pada huruf alif.

Selain itu sistem penulisan Ibnu Muqlah berpangkal pada tiga unsur kesatuan baku yaitu   yaitu titik belah ketupat, alif vertikal, dan lingkaran yang dikemukakan oleh Ibnu Muqlah sebagai rumus-rumus dasar pengukuran bagi penulisan setiap huruf. Berkat sistem geometri ini, ia berhasil mengangkat pamor Khat Naskhi dan Tsulutsi, menggeser dominasi gaya Kufi yang kaku. Ia juga mempelopori penggunaan enam gaya tulisan pokok (al-Aqlam as-Sittah), yakni Tsuluts, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqa’, dan Tauqi’. Hingga hari ini, lebih dari seribu tahun setelah kepergiannya, kaidah yang hasl rumusan Ibnu Muqlah masih menjadi kitab suci bagi para kaligrafer seluruh dunia. Keindahannya tetap lestari, membuktikan bahwa ketulusan seni yang berdasar pada ilmu pengetahuan akan selalu abadi melintasi zaman.

Politik dan Pengabdian: Wazir di Tengah Badai

KH Idris Marzuqi Lirboyo: Keteguhan Menjaga Tradisi Ngaji Kitab Ramadhan

Perjalanan hidup Ibnu Muqlah pernah berhasil menduduki puncak kekuasaan sebagai menteri atau wazir. Ia tercatat melayani tiga khalifah berbeda yaitu al-Muqtadir, al-Qahir, dan al-Radhi. Dunia politik yang kejam membuatnya harus merasakan tiga kali jatuh-bangun melalui proses reshuffle akibat konflik kepentingan. Meskipun sempat mendapatkan isu miring mengenai afiliasi keagamaan ekstrem yaitu aliran Syi’ah ekstrem ‘Ghaliyah’. Akan tetapi kebenaran tuduhan tersebut meragukan,  demikian tulis Hilal Naji dalam kitabnya Ibnu Muqlah Khaththathan wa Adiban wa Insanan.

Adanya intrik politik yang menyebabkan Ibnu Muqlah beberapa kali dipecat, dipenjara, bahkan mendapatkan potong tangan. kisah hidupnya tersebut mencerminkan kerasnya kehidupan politik pada masa itu.  namun demikian Ibnu Muqlah terus berkarya dan melanjutkan inovasinya dalam seni khat> semangat dan keulteannya ini  adalah dedikasi luar biasa terhadap seni meski berada dalam situasi yang sangat sulit.

Makamnya Berpidah Sampai 3 Kali

Kredibilitasnya sebagai seorang sastrawan, penyair, dan politisi yang dermawan tetap mendapatkan pengakuan sejarah.. Selain itu Ibnu Muqlah juga pemangku madrasah khat di Baghdad.. Sepanjang hidupnya Ibnu Muqlah hanya menikah dengan satu wanita saja yang berasal dari kota al-Dinariyah. Istrinya adalah sosok wanita kaya dan sangat setia. Sampai-sampai ia rela menjanda sampai mati dan meminta jasad Ibnu Muqlah bahkan memeindah kuburan ibnu Muqlah ke rumahnya.

Dari seorang istri ia mendapatkan lima putra yang tiga dari mereka mahir dalam bidang khat. Mereka adalah Abu al-Husain Ali bin Abu Ali (w. 346 H), Abu al-Hasan Muhammad bin Muhammad, Abu al-Qasim, Abu Isa dan Abu Muhammad Abdullah. Ibnu Muqlah wafat pada tahun 940 M dan makamnya berada dalam pekuburan kerajaan setelah tiga kali berpindah atas permintaan istrinya yang setia.

Meneladani Jejak Pemikiran Haji Agus Salim: Puasa sebagai Fondasi Kedisiplinan Bangsa

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.