SURAU.CO – Ketika Thomas More menerbitkan Utopia pada tahun 1516, ia tidak mungkin membayangkan dunia yang dipenuhi ponsel pintar, kapitalisme global, atau kemarahan di media sosial. Namun, lima abad kemudian, pulau anehnya terasa sangat familiar. Utopia tidak terasa seperti risalah politik yang usang; lebih terasa seperti percakapan tajam yang terdengar dari masa lalu, yang masih mengganggu, memprovokasi, dan diam-diam menuduh kita.
Sekilas, Utopia menyajikan masyarakat ideal: tidak ada kepemilikan pribadi, tidak ada kemiskinan ekstrem, tidak ada kemewahan yang berlebihan. Semua orang bekerja, pendidikan dihargai, dan hukum sedikit karena keadilan itu sederhana. Tetapi di balik permukaan yang tenang ini terdapat ironi yang mendalam. More tidak menawarkan cetak biru yang rapi untuk negara yang sempurna; ia mengajak pembaca untuk mempertanyakan asumsi mereka sendiri tentang kekuasaan, kekayaan, kebebasan, dan kebahagiaan.
Bertahan Hidup Meskipun Bekerja Tanpa Henti
Dan ajakan itu terasa sangat mendesak saat ini. Dunia yang Terobsesi dengan Kekayaan vs. Masyarakat yang Mempertanyakannya.
Salah satu gagasan More yang paling radikal adalah penghapusan kepemilikan pribadi. Di Utopia, emas begitu tidak berarti sehingga digunakan untuk membuat pispot dan rantai untuk budak. Pembalikan simbolis ini mengungkap kebenaran yang masih menyakitkan: masyarakat sering kali memuja apa yang pada akhirnya memperbudak mereka.
Sekarang lihatlah dunia kita. Kita hidup di zaman kekayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan ketidaksetaraan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagian kecil memiliki lebih banyak daripada seluruh bangsa, sementara jutaan orang berjuang untuk bertahan hidup meskipun bekerja tanpa henti.
Seperti Inggris pada zaman More, masyarakat modern kita mengkriminalisasi kemiskinan daripada mempertanyakan sistem yang menghasilkannya. Utopia berani bertanya apa yang masih kita hindari: Apakah akumulasi tanpa batas benar-benar kemajuan, atau hanya bentuk ketidakadilan yang lebih halus?.
Kerja, Waktu Luang, dan Ilusi Kebebasan
Di Utopia, semua orang bekerja, tetapi tidak ada yang terlalu banyak bekerja. Hari kerja singkat, menyisakan waktu untuk belajar, refleksi, dan percakapan. Bandingkan ini dengan “budaya kerja keras” masa kini, di mana kelelahan dianggap sebagai tanda kehormatan dan istirahat terasa hampir seperti dosa.
Kita merayakan produktivitas, namun merasa hampa secara kronis. Pulau More secara diam-diam menantang kontradiksi ini. Jika teknologi telah membuat hidup lebih mudah, mengapa kita lebih sibuk dari sebelumnya? Utopia menunjukkan bahwa masalahnya bukanlah pekerjaan itu sendiri, tetapi pekerjaan yang terpisah dari kesejahteraan manusia, suatu kekhawatiran yang sangat relevan di era kelelahan dan krisis kesehatan mental.
Politik, Kekuasaan, dan Ketakutan akan Kebenaran
Para pemimpin utopia dipilih berdasarkan kebijaksanaan, bukan kekayaan. Ambisi politik dicurigai, bahkan berbahaya. Bandingkan ini dengan politik modern, yang sering didominasi oleh tontonan, manipulasi, dan pengejaran kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri. Kebenaran mudah dibengkokkan ketika keuntungan atau popularitas dipertaruhkan.
Namun More tidak mengidealkan otoritas secara membabi buta. Utopia juga meresahkan: kesesuaian diharapkan, perbedaan pendapat dibatasi, dan individualitas dikendalikan dengan cermat. Ambiguitas ini disengaja. More seolah membisikkan peringatan lintas abad: Bahkan niat baik pun dapat menjadi penindasan jika membungkam kompleksitas manusia.
Di dunia yang semakin terpolarisasi, di mana pandangan yang berlawanan dibungkam daripada diteliti, peringatan ini terasa seperti sebuah nubuat.
Agama, Toleransi, dan Keseimbangan Moral
Hebatnya, Utopia mempraktikkan toleransi beragama, sebuah gagasan luar biasa untuk abad ke-16. Keyakinan yang berbeda hidup berdampingan secara damai, dipersatukan oleh nilai-nilai etika yang sama.
Di zaman kita yang konon tercerahkan ini, intoleransi agama dan ideologi masih memicu konflik di seluruh dunia.
Visi More mengingatkan kita bahwa toleransi bukanlah ketiadaan keyakinan, tetapi kehadiran kerendahan hati, kemampuan untuk mengakui bahwa tidak ada satu perspektif pun yang memiliki seluruh kebenaran.
Apakah Utopia sebuah Mimpi, atau Tantangan?
Mungkin aspek yang paling kuat dari Utopia adalah penolakannya untuk memberikan jawaban yang mudah. Bahkan kata itu sendiri berarti “tidak ada tempat.” More membuat kita ragu: Apakah masyarakat ini patut dikagumi atau mengganggu? Apakah kesempurnaan diinginkan, atau bahkan manusiawi Ketidakpastian itulah intinya.
Utopia bukanlah sekadar tujuan, melainkan cermin. Ia mencerminkan kegagalan kita, melebih-lebihkan nilai-nilai kita, dan memaksa kita untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman tentang dunia yang telah kita bangun.
Di era kecemasan iklim, ketidakseimbangan ekonomi, dan kebingungan moral, karya Thomas More tetap sangat relevan bukan karena ia memberi tahu kita apa yang harus dipikirkan, tetapi karena ia mengajarkan kita bagaimana cara bertanya. Dan mungkin itulah gagasan utopis yang paling utama. (Yanuardi S.)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
