Berita Opinion Politik
Beranda » Berita » Demokrasi di Persimpangan: Melawan Politik Pengecut dan Teror Bau Busuk

Demokrasi di Persimpangan: Melawan Politik Pengecut dan Teror Bau Busuk

ilustrasi terancamnya demokrasi
ilustrasi terancamnya demokrasi

SURAU.CO – Indonesia lahir dari rahim cita-cita besar para pendiri bangsa yang memimpikan sebuah negara dengan landasan kebebasan dan kedaulatan rakyat. Sejak awal, proyeksi besar bangsa ini menjadikan demokrasi sebagai panggung inklusif; di sana, proses pendewasaan bernegara menyerap setiap kritik, bahkan yang paling pahit sekalipun. Namun, realitas belakangan ini menunjukkan adanya tren yang mengkhawatirkan: upaya pembungkaman suara kritis melalui metode teror yang sangat primitif.

Mengapa Kritik Sangat Penting bagi Demokrasi?

Dalam sistem demokrasi yang sehat, posisi rakyat bukan sekadar objek kebijakan, melainkan pemegang kedaulatan tertinggi. Prinsip Vox Populi, Vox Dei atau “suara rakyat adalah suara Tuhan” bukan hanya slogan kosong, melainkan fondasi filosofis bahwa kekuasaan pemerintah bersifat mandat.

Pemerintah adalah mandataris yang bertugas menjalankan amanah rakyat. Karena penguasa adalah manusia yang tidak luput dari kekeliruan, kita memerlukan keberadaan oposisi dan suara kritis secara mutlak. Tanpa adanya kritik transformatif, sebuah pemerintahan cenderung terjebak dalam absolutisme dan penyalahgunaan kekuasaan demi kepentingan kelompok tertentu.

Definisi Demokrasi Menurut Karl Popper

Filsuf sains kenamaan abad ke-20, Karl Popper, dalam bukunya All Life is Problem Solving, memberikan definisi yang sangat relevan. Ia menyatakan bahwa demokrasi adalah sistem yang memungkinkan rakyat untuk menggulingkan penguasa tanpa pertumpahan darah. Rasa terancam warga saat berpendapat menandakan bahwa kualitas demokrasi kita sedang terpuruk ke titik nadir dan menuntut pertanyaan serius dari kita semua.

Fenomena Teror “Bangkai Busuk”: Kasus DJ Donny dan Sherly Annavita

Belakangan ini, ruang publik dihebohkan oleh pola teror yang tampak terorganisir namun sangat pengecut. Dua sosok yang vokal di media sosial, DJ Donny dan Sherly Annavita, menjadi sasaran tindakan intimidasi yang tidak beradab.

Konsep Halalan Ṭayyiban dalam Konsumsi Makanan

  1. Kasus DJ Donny: Sebagai influencer yang sering mengkritisi kebijakan pemerintah, Donny mendapatkan kiriman bangkai ayam disertai surat ancaman pembunuhan.

  2. Kasus Sherly Annavita: Aktivis yang aktif menyoroti kinerja birokrasi dan penanganan bencana ini dikirimi telur busuk serta pesan-pesan bernada ancaman.

Tindakan ini mengirimkan pesan yang sangat jelas: “Jaga mulutmu atau tanggung risikonya.” Ini adalah pola lama yang sering muncul di era otoritarian, di mana argumen intelektual dibalas dengan intimidasi fisik dan psikologis.

Politik Pengecut: Ketika Kritik Kalah oleh Kekerasan

Mengapa disebut sebagai politik pengecut? Karena pengiriman bangkai dan telur busuk adalah simbol kegagalan dalam berdialog. Ketika seseorang atau kelompok tidak lagi mampu membalas argumen dengan data dan fakta yang valid di ruang diskusi publik, mereka beralih ke cara-cara rendah untuk menanamkan rasa takut.

Dampak Psikologis bagi Publik

Teror semacam ini sebenarnya bukan hanya ditujukan kepada individu seperti Donny atau Sherly, melainkan kepada seluruh masyarakat. Pesan terselubungnya adalah menciptakan budaya takut (culture of fear). Tujuannya agar warga negara lainnya merasa ngeri untuk ikut bersuara kritis, sehingga penguasa bisa berjalan tanpa hambatan.

Warung Kopi, Surga, dan Rasa Aman yang Terlalu Cepat

Namun, seperti yang ditegaskan oleh DJ Donny, para pelaku teror ini sebenarnya adalah orang-orang kerdil yang panik. Mereka sadar bahwa narasi yang mereka bangun mulai rapuh di hadapan kebenaran, sehingga kekerasan menjadi jalan terakhir untuk mempertahankan status quo.

Peran Negara: Diam Berarti Membiarkan

Salah satu indikator kegagalan negara adalah ketika aparatur keamanan gagal memberikan perlindungan bagi warga negara yang kritis. Jika pemerintah cenderung diam atau tidak mengusut tuntas dalang di balik teror bangkai ayam ini, publik akan berasumsi bahwa kekuasaan memang sedang memelihara ketakutan tersebut.

Negara harus hadir untuk memastikan bahwa perbedaan pendapat tidak berujung pada ancaman nyawa. Demokrasi menuntut adanya jaminan keamanan bagi setiap individu untuk berbicara. Jika mandataris rakyat membiarkan perlakuan buruk terhadap rakyat hanya karena perbedaan pandangan, maka hal itu akan meruntuhkan kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi secara perlahan.

Baca juga Tauhid pembebasan Ali Syari’ati 

Mempertahankan Harapan di Tengah Pengepungan Kepengecutan

Sejarah telah membuktikan berkali-kali bahwa ideologi dan kritik tidak akan pernah mati hanya karena intimidasi fisik. Justru dari bau busuk bangkai yang dikirimkan, semangat perlawanan biasanya tumbuh semakin kuat. Kekerasan tidak akan bisa membunuh ide-ide perubahan yang sudah terlanjur bersemi di kepala rakyat.

Resmi Dilantik, PC PMII DIY 2025–2026 Teguhkan Komitmen sebagai Poros Kaderisasi dan Katalisator Eko-Sosial

Keberanian warga negara seperti Donny dan Sherly adalah suar harapan bagi kita semua. Mereka menunjukkan bahwa di tengah kepungan para pengecut yang bersembunyi di balik teror gelap, masih ada jiwa-jiwa merdeka yang menolak untuk bertekuk lutut.

Indonesia saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Apakah kita akan tumbuh menjadi bangsa besar yang merawat dialektika dan diskusi sehat, atau kita akan mundur menjadi bangsa yang membiarkan premanisme politik mengendalikan kita? Demokrasi kita tidak boleh kalah oleh aroma busuk telur dan bangkai ayam. Saatnya setiap elemen masyarakat bersatu untuk menolak segala bentuk pembungkaman, demi masa depan Indonesia yang lebih adil dan beradab.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.