SURAU.CO – Dunia Islam pada abad ke-20 menyaksikan lahirnya banyak cendekiawan progresif, namun hanya segelintir yang memiliki pengaruh sedalam Ali Syari’ati. Banyak orang mengenalnya sebagai arsitek intelektual di balik semangat perubahan besar di Iran. Syari’ati bukan sekadar seorang akademisi yang duduk di belakang meja. Ia adalah seorang cendekiawan progresif yang berhasil mengawinkan nilai-nilai spiritual Islam dengan semangat pembebasan sosial yang membara. Artikel ini akan mengulas secara mendalam pemikiran Ali Syari’ati terkait kemanusiaan, teologi pembebasan, dan visi revolusinya yang tetap relevan hingga kini.
Mengenal Sosok Ali Syari’ati dan Perjalanan Intelektualnya
Ali Syari’ati lahir di Mazinan, Iran, pada tahun 1933. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memegang teguh tradisi keilmuan Islam. Namun, rasa haus akan ilmu membawanya melangkah jauh hingga ke Universitas Sorbonne, Prancis, untuk mempelajari sosiologi dan sejarah agama. Selama di Eropa, Syari’ati menyerap berbagai pemikiran Barat seperti eksistensialisme, marxisme, dan humanisme radikal.
Persinggungan inilah yang kemudian melahirkan corak pemikiran baru. Syari’ati melakukan sintesa yang cerdas antara tradisi Syiah yang kritis dengan sosiologi modern yang progresif. Ia tidak menelan mentah-mentah teori Barat, namun menggunakannya sebagai pisau analisis untuk membedah kondisi masyarakat Muslim saat itu. Syari’ati berkeyakinan bahwa Islam bukanlah sekadar kumpulan ritual tanpa makna atau dogma yang menjauhkan manusia dari realitas sosial. Sebaliknya, ia memandang Islam sebagai sebuah ideologi hidup yang harus mampu menjawab tantangan zaman dan menjadi senjata utama untuk menghancurkan segala bentuk penindasan.
Reinterpretasi Tauhid: Landasan Utama Perlawanan
Salah satu pilar paling mendasar dalam bangunan pemikiran Ali Syari’ati adalah reinterpretasi makna Tauhid. Jika mayoritas ulama tradisional memahami Tauhid sebatas pengakuan teologis terhadap keesaan Allah, Syari’ati melangkah lebih jauh. Ia menarik Tauhid ke dalam ranah sosiologis yang sangat kuat.
Bagi Syari’ati, Tauhid berarti penolakan mutlak terhadap segala bentuk “tuhan” selain Allah. Dalam kehidupan sosial, prinsip ini menuntut manusia untuk menolak penghambaan sesama manusia. Segala bentuk tirani politik, eksploitasi ekonomi, dan sistem kelas merupakan bentuk kemusyrikan modern yang nyata. Syari’ati menegaskan bahwa mengakui keesaan Tuhan berarti harus berjuang mewujudkan kesetaraan manusia. Oleh karena itu, Teologi Pembebasan yang ia usung berakar pada Tauhid yang menuntut keadilan bagi kaum mustadh’afin (mereka yang tertindas secara sistemik).
Humanisme Islam: Kritik Terhadap Barat dan Tradisionalisme
Ali Syari’ati sering melontarkan kritik tajam terhadap konsep humanisme Barat yang ia anggap kering. Ia menilai bahwa humanisme Barat sengaja memutus hubungan manusia dengan Tuhan, sehingga manusia kehilangan arah spiritual dan terjebak dalam materialisme. Di sisi lain, ia juga menyerang sikap beragama yang terlalu asketik (menjauhi dunia) karena sikap tersebut seringkali melupakan kewajiban membela hak-hak kemanusiaan di dunia nyata.
Sebagai solusi, Syari’ati menawarkan konsep “Humanisme Islam”. Konsep ini memandang manusia sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Sebagai wakil Tuhan, manusia memikul tanggung jawab besar untuk menciptakan keteraturan dan keadilan sosial. Sosok manusia ideal dalam pandangan Syari’ati adalah pribadi yang memiliki keseimbangan utuh antara kematangan intelektual, kepekaan sosial, dan kedalaman spiritual. Manusia tidak boleh hanya saleh secara pribadi, tetapi juga harus saleh secara sosial.
Rausyan Fikr: Intelektual sebagai Penggerak Zaman
Dalam upaya mewujudkan transformasi sosial, Syari’ati menekankan peran krusial Rausyan Fikr atau intelektual yang tercerahkan. Ia membedakan kelompok ini dengan intelektual akademis konvensional yang seringkali hanya sibuk dengan teori di menara gading. Seorang Rausyan Fikr memiliki karakteristik khusus, antara lain:
-
Merasakan Penderitaan: Mereka merasakan langsung kepedihan dan penderitaan rakyat kecil.
-
Analisis Tajam: Mereka mampu memahami akar masalah sosial dan ketidakadilan di lingkungannya.
-
Aksi Nyata: Mereka berani menyuarakan kebenaran dan mengambil risiko demi membela kaum tertindas.
Syari’ati percaya bahwa perubahan sosial yang fundamental mustahil terjadi tanpa kesadaran kolektif. Para pemikir inilah yang bertugas membangun kesadaran tersebut dengan cara turun langsung ke akar rumput dan menggerakkan massa.
Dari Agama Menuju Ideologi Revolusi
Salah satu pencapaian terbesar Syari’ati adalah keberhasilannya mengubah wajah agama. Jika Karl Marx menyebut agama sebagai “candu” yang meninabobokan rakyat, Syari’ati justru membuktikan bahwa agama bisa menjadi mesin penggerak revolusi yang dahsyat. Ia dengan tegas membedakan antara “Islam Statis” dengan “Islam Dinamis”.
Islam Statis adalah agama yang mendukung penguasa dan mempertahankan status quo, sedangkan Islam Dinamis adalah agama yang selalu menuntut perubahan dan keadilan. Melalui ceramah-ceramah inspiratifnya di Husseiniye Ershad, Syari’ati membakar semangat kaum muda untuk menilik kembali sejarah perjuangan para nabi dan imam. Ia menggambarkan tokoh-tokoh suci Islam bukan sebagai sosok yang pasif, melainkan sebagai simbol perlawanan terhadap kezaliman. Bahkan, ia memaknai syahadah (mati syahid) bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai pernyataan perlawanan tertinggi untuk menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.
Warisan Intelektual untuk Masa Depan
Hingga saat ini, pemikiran Ali Syari’ati tetap relevan karena ketimpangan sosial dan penindasan global masih terus terjadi di berbagai belahan dunia. Gagasan Teologi Pembebasan miliknya memberikan harapan segar bahwa agama memiliki kekuatan transformatif yang positif untuk memperbaiki keadaan dunia.
Dengan memahami Tauhid secara progresif, mendorong peran intelektual yang berpihak pada rakyat, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kita dapat melanjutkan perjuangan Syari’ati. Ia telah mewariskan kompas intelektual bagi siapa saja yang merindukan keadilan. Ali Syari’ati adalah bukti nyata bahwa iman dan semangat kemajuan dapat berjalan beriringan demi memanusiakan manusia seutuhnya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
