SURAU.CO – Ternyata, butuh waktu bertahun-tahun untuk meraih gelar dosen, tapi hanya butuh waktu kurang dari satu detik bagi sebuah “ludah” untuk menghanguskannya. Kasus dosen berinisial AS di Universitas Islam Makassar (UIM) adalah sebuah pelajaran anatomi dan etika yang sangat mahal.
Selembar SK Pemecatan resmi ditandatangani Rektor UIM, Prof. Muammar Bakry. Sang dosen kini tidak lagi mengajar mahasiswa, melainkan belajar pada kenyataan: bahwa di swalayan, hukum antrean lebih tinggi daripada hukum rimba akademik.
Filosofi Ludah: Mengapa Ia di Dalam, Bukan di Luar?
Mari kita bicara sedikit soal biologi. Alam menciptakan ludah untuk tetap berada di dalam mulut. Ia berfungsi membantu pencernaan, melumasi makanan, dan menjaga kelembapan. Namun, di tangan atau lebih tepatnya di mulut seorang pendidik yang kehilangan kendali, ludah berubah fungsi menjadi senjata penghina martabat.
Ada filosofi sederhana yang terlupakan: Ludah adalah bagian dari diri kita yang paling privat. Mengeluarkan ludah ke wajah orang lain bukan hanya soal cairan, tapi soal memuntahkan rasa rendah diri yang dibungkus dengan arogansi jabatan. Sialnya bagi AS, ludah yang keluar itu justru menjadi “bom waktu” yang meledak tepat di wajah kariernya sendiri.
Serobot Antrean dan Mentalitas “Siapa Saya?” Yang kejadiannya terekam kamera CCTV pada 24 Desember lalu adalah potret klasik penyakit sosial kita: Mentalitas Superioritas.
Hanya karena merasa berpendidikan tinggi, merasa ASN, atau merasa punya pengaruh, seseorang merasa berhak menerobos barisan. Intelektual itu meledak jadi proyektil manusia ketika kasir muda berusia 21 tahun berinisial N menegurnya.
Mendidik Mahasiswa untuk Menjadi Manusia
Mungkin sang dosen lupa, bahwa di hadapan meja kasir, semua orang adalah sama: pembeli yang harus antre. Tidak ada jalur fast-track khusus pemegang gelar akademik di swalayan.
Universitas Islam Makassar (UIM) bertindak sangat taktis. Mereka tidak butuh waktu lama untuk menunjukkan bahwa “Islam” dan “Makassar” yang mereka sandang sebagai identitas institusi tidak berkompromi dengan perilaku niretika.
Keputusan Rektor mengembalikan AS ke LLDIKTI Wilayah IX adalah cara halus untuk mengatakan: “Kami mendidik mahasiswa untuk menjadi manusia, dan kami tidak butuh pendidik yang gagal menjadi manusia.”
Apa gunanya ribuan jurnal penelitian dan puluhan sertifikasi jika menghadapi sebuah antrean saja kita gagal lulus ujian moral? Kita sering menganggap generasi Z lembek. Tapi lihatlah N, sang kasir muda itu. Ia berdiri tegak, menjalankan SOP, dan menghadapi “raksasa akademik” yang mengamuk. Justru sang dosenlah yang terlihat rapuh rapuh secara mental, rapuh secara emosional, dan kini, rapuh secara ekonomi karena kehilangan pekerjaan.
Adab Melekat Sampai Mati
Harapan kita sebenarnya sederhana, kita ingin hidup di dunia di mana kita tidak perlu takut diludahi saat menegur kesalahan. Kita ingin hidup di mana “ASN” dan “Dosen” adalah label yang membawa kesejukan, bukan ancaman bagi pelayan toko.
Kasus ini adalah pengingat bagi siapa pun yang memiliki jabatan. Jabatan itu seperti pakaian, orang bisa melepasnya kapan saja. Tetapi adab adalah kulit; ia melekat sampai mati.
Untuk Pak AS, selamat merenung. Mungkin sekarang ada banyak waktu untuk menulis jurnal baru dengan judul: “Korelasi Antara Kecepatan Ludah dan Percepatan Pemecatan: Sebuah Tinjauan Etika di Jalur Antrean.”
Bagi kita semua, mari tetap antre dengan manis. Karena sebotol minuman yang ingin kita beli di kasir tidak akan pernah sebanding harganya dengan harga diri yang hanyut bersama air liur. Oleh: Andrian. #UIM #UniversitasIslamMakassar #DosenUIM. (Nico Indra)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
