SURAU.CO – Sebagai salah satu tokoh Islam modern yang paling berpengaruh, Muhammad Iqbal bukan sekadar penyair atau politisi, melainkan seorang filsuf dan pemikir visioner yang memberikan cetak biru intelektual untuk sebuah identitas muslim di era modern. Karyanya tidak hanya menginspirasi pendirian Pakistan, tetapi juga membentuk kembali pemikiran Islam di seluruh dunia. Kisah hidupnya adalah perjalanan diakronik dari seorang penyair lokal di Punjab menjadi “Penyair dari Timur” dan “Bapak Spiritual Pakistan.”
Pendidikan Awal dan Pembentukan Diri (1877–1905)
Muhammad Iqbal dilahirkan pada 9 November 1877 di Sialkot, sebuah kota di provinsi Punjab, India Britannia. Beliau berasal dari keluarga muslim Kashmir yang berakar kuat pada nilai-nilai spiritual. Ayahnya, Sheikh Noor Muhammad, adalah seorang sufi yang saleh, sementara ibunya, Imam Bibi, adalah seorang wanita yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia. Lingkungan keluarga yang religius dan berilmu inilah yang menanamkan benih spiritualitas dan rasa ingin tahu yang mendalam dalam diri Iqbal.
Pendidikan formalnya dimulai di Scotch Mission College di Sialkot, di mana beliau menunjukkan bakat luar biasa dalam bahasa dan sastra. Di sinilah beliau mulai menulis puisi dalam bahasa Urdu, yang awalnya cenderung romantis dan patriotik. Setelah lulus, beliau melanjutkan studinya di Government College, Lahore. Di sana, beliau bertemu dengan Sir Thomas Arnold, seorang orientalis dan profesor filsafat yang menjadi mentornya. Arnold melihat potensi besar dalam diri Iqbal dan mendorongnya untuk melanjutkan studi ke Eropa.
Pada periode ini, Iqbal mulai menulis puisi yang lebih filosofis, yang mencerminkan ketidakpuasannya terhadap keadaan umat Islam yang pasif dan statis. Beliau merenungkan alasan kemunduran peradaban Islam dan mencari jalan untuk kebangkitan. Pemikirannya mulai melampaui batas-batas nasionalisme dan mengarah pada identitas pan-Islamisme.
Pencerahan di Eropa dan Transformasi Intelektual (1905–1908)
Fase paling krusial dalam pembentukan pemikiran Iqbal terjadi ketika beliau pergi ke Eropa untuk melanjutkan studinya. Pada tahun 1905, beliau berlayar ke Inggris dan mendaftar di Trinity College, Universitas Cambridge, untuk mempelajari filsafat dan hukum. Di Cambridge, beliau berinteraksi dengan pemikir-pemikir terkemuka seperti J.M.E. McTaggart dan G.E. Moore, yang mengasah kemampuan analitisnya.
Setelah itu, beliau pindah ke Jerman, di mana beliau mengambil program doktoral di Universitas Munich. Pada tahun 1908, beliau berhasil meraih gelar Ph.D. dengan disertasi berjudul “The Development of Metaphysics in Persia.” Studinya di Jerman, yang terkenal dengan tradisi filsafatnya, semakin memperdalam pemahaman Iqbal tentang pemikiran Barat, terutama Immanuel Kant dan Nietzsche.
Namun, pengalamannya di Eropa juga memberinya wawasan kritis. Beliau menyaksikan materialisme yang merajalela dan kehampaan spiritual yang melanda peradaban Barat. Pengamatan ini memperkuat keyakinannya bahwa Islam, dengan kekayaan spiritual dan dinamisme moralnya, memiliki solusi untuk krisis modernitas. Periode ini adalah titik balik, di mana beliau menyadari bahwa kebangkitan umat Islam tidak bisa hanya mengadopsi Barat, melainkan harus kembali ke fondasi Islam yang otentik dan dinamis.
Peletakan Dasar Filosofis (1908–1923)
Sekembalinya ke Lahore pada tahun 1908, Iqbal memulai praktik hukumnya, namun jiwanya lebih tertuju pada misi intelektual dan spiritual. Selama periode ini, beliau merumuskan konsep-konsep filosofisnya yang paling fundamental, yang dituangkannya dalam puisi-puisinya.
Konsep utama yang ia kembangkan adalah Khudi atau “Ego/diri.” Bagi Iqbal, Khudi bukanlah egoisme, melainkan kesadaran diri yang kuat, individualitas yang dinamis, dan kemampuan untuk bertindak. Beliau mengkritik sufisme pasif yang mengajarkan penolakan diri, dan sebaliknya, beliau menganjurkan penguatan Khudi melalui aksi, kerja keras, dan penaklukan alam semesta, yang beliau yakini sebagai esensi sejati ajaran Islam. Beliau berpendapat bahwa kelemahan umat Islam adalah karena mereka telah kehilangan Khudi mereka, sehingga menjadi pasif dan tunduk.
Pemikiran ini dituangkan dalam karya-karya epiknya: Asrar-i-Khudi (Rahasia Diri) pada tahun 1915 dan Rumuz-i-Bekhudi (Misteri Ketiadaan Diri) pada tahun 1918. Dalam puisi-puisi ini, Beliau menyerukan umat Islam untuk melepaskan diri dari penindasan intelektual dan spiritual, serta bangkit kembali untuk menempati posisi terhormat dalam peradaban. Beliau menempatkan puisi sebagai alat untuk membangkitkan revolusi spiritual, menjadikannya salah satu penyair paling berpengaruh dalam sejarah.
Keterlibatan Politik dan Ide Pencetus Pakistan (1923–1938)
Pada tahun 1920-an, pengaruh Iqbal meluas dari dunia sastra ke arena politik. Beliau terpilih sebagai anggota Majelis Legislatif Punjab pada tahun 1926. Namun, momen paling bersejarah dalam karier politiknya adalah Pidato Allahabad pada tahun 1930.
Dalam pidato yang monumental ini, sebagai presiden Liga Muslim India, Iqbal secara terbuka mengemukakan ide tentang pembentukan sebuah negara Muslim yang terpisah di wilayah barat laut India, yang mencakup provinsi-provinsi dengan mayoritas Muslim seperti Punjab, North-West Frontier Province, Sindh, dan Balochistan. Argumennya didasarkan pada kenyataan bahwa umat Islam memiliki identitas budaya, sejarah, dan agama yang berbeda dari umat Hindu, dan oleh karena itu, mereka membutuhkan negara mereka sendiri untuk berkembang secara bebas. Pidato ini adalah cetak biru intelektual dan politis bagi apa yang kemudian dikenal sebagai “Teori Dua Negara” dan menjadi landasan pendirian Pakistan.
Beliau juga memainkan peran penting dalam menggerakkan tokoh-tokoh kunci, terutama Muhammad Ali Jinnah, yang saat itu telah pensiun dari politik. Melalui surat-menyurat yang intens, Iqbal meyakinkan Jinnah untuk kembali ke India dan memimpin perjuangan bagi negara Muslim. Tanpa dorongan dan visi Iqbal, sejarah Pakistan mungkin akan berbeda.
Meskipun kesehatannya memburuk di tahun-tahun terakhirnya, semangatnya tidak pernah padam. Beliau terus menulis dan memberikan nasihat kepada para pemimpin Muslim. Muhammad Iqbal wafat pada 21 April 1938, hanya sembilan tahun sebelum Pakistan lahir sebagai negara merdeka pada 1947, mewujudkan visinya.
Warisan Muhammad Iqbal sangatlah besar. Beliau dikenang sebagai pemikir yang berhasil menjembatani tradisi Islam klasik dengan tantangan modern. Filsafat Khudi-nya menjadi seruan universal bagi semua individu untuk menemukan potensi diri mereka. Bagi jutaan Muslim, beliau bukan hanya arsitek sebuah negara, tetapi juga seorang guru spiritual yang mengajarkan pentingnya pembaruan, dinamisme, dan kebanggaan akan identitas diri.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
