Oleh: Gus Nas Jogja
Dalam bentang sejarahnya, Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar organisasi; ia adalah Lebenswelt atau “dunia-kehidupan” bagi jutaan ruh. Namun hari ini, kita menyaksikan sebuah pergeseran ontologis. Panggung yang seharusnya menjadi tempat sholawat, tahlil dan istighosah, perlahan berubah menjadi teater Geopolitik Zionis Israel dan Drama Tambang yang bising. Siapakah sebenarnya “Aktor” dan “Sutradara” kegaduhan di Panggung NU kali ini?
Jawabannya tentu tak mudah. Secara filosofis, aktor tersebut bukanlah subjek tunggal yang duduk di kursi pimpinan Parpol atau mereka yang berteriak lantang di media sosial. Aktor tersebut adalah “Keterasingan Makna”. Mengutip Jean Baudrillard, NU sedang mengalami simulakra—sebuah kondisi di mana simbol-simbol keulamaan seperti sorban, sanad, dan khidmah digunakan untuk menutupi ketiadaan substansi spiritual di balik ambisi kekuasaan. Dalam ruang simulasi ini, wajah kiai tidak lagi dipandang sebagai cermin Ilahi, melainkan sebagai aset elektoral atau stempel legitimasi bagi kebijakan yang sekuler.
Antropologi Politik: Perebutan Ruang Simbolik
Secara antropologis, kegaduhan ini dapat dibaca melalui lensa Clifford Geertz tentang “Jaringan Makna” atau Webs of Significance. NU adalah sebuah ekosistem di mana modal simbolik—meminjam istilah Pierre Bourdieu—berupa “Barokah” dan “Karomah” sedang mengalami proses komodifikasi massal.
Sutradara kegaduhan ini adalah sistem “Oligarki Simbolik”. Mereka adalah entitas yang bekerja di balik layar, memetakan jaringan pesantren sebagai lumbung suara dan mengubah relasi guru-murid yang sakral menjadi hubungan patron-klien yang mekanistis. Aktornya Pengendali Media, senang Sutradaranya adalah Ketum atau mantan Ketum Partai. Di sini, terjadi pengkhianatan terhadap Habitus pesantren; kearifan lokal yang seharusnya menjadi antitesis bagi kerakusan modernitas, justru dipaksa tunduk pada logika pasar dan kekuasaan praktis.
Politik Pengalihan Isu: The Art of Distraction dalam Ekosistem Budaya
Kegaduhan yang muncul seringkali merupakan smoke screen atau “tabir asap”. Ketika isu kesejahteraan warga nahdliyin di tingkat akar rumput—seperti konflik agraria, kemiskinan sistemik, atau krisis ekologi—mencuat, tiba-tiba muncul drama internal tentang keabsahan struktur atau perselisihan nasab.
“Politik adalah cara untuk menjaga orang agar tidak mengurusi hal-hal yang benar-benar penting,” ujar Noam Chomsky.
Dalam ekosistem kebudayaan NU yang paternalistik, sutradara kegaduhan menggunakan “Politik Identitas Internal” sebagai alat pengalihan. Masyarakat NU dipaksa menjadi penonton drama atau The Society of the Spectacle menurut Guy Debord, asyik berdebat tentang “siapa yang paling NU” sementara kedaulatan ekonomi mereka perlahan terkikis. Ini adalah bentuk “Penghapusan Sejarah” dalam bahasa Milan Kundera; di mana memori NU sebagai pembela kaum mustadh’afin atau kaum tertindas sengaja dikubur di bawah tumpukan narasi perselisihan elit.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengingatkan bahwa musuh terbesar dalam ber-NU adalah hilangnya keikhlasan. Secara filosofis, ini selaras dengan konsep “L’enfer, c’est les autres” atau Neraka adalah orang lain dari Jean-Paul Sartre. Setiap faksi di tubuh Syuriah memandang faksi lain di tubuh Tanfidziah sebagai ancaman, begitu pun sebaliknya, sehingga kegaduhan menjadi mekanisme pertahanan diri yang destruktif.
Namun, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin memberikan analisis yang lebih tajam tentang sutradara batiniah, yaitu: “Hubbul Jah” atau “Gila Hormat”. Inilah aktor metafisika yang paling berbahaya. Ia tidak terlihat di SK kepengurusan, namun ia bertahta di dalam hati para elit yang lebih mencintai kursi daripada melayani umat. Ketika Hubbul Jah menjadi sutradara, maka seluruh kebijakan organisasi hanyalah skenario untuk mempertahankan ego, bukan untuk memuliakan agama.
Narasi Spiritual: Suluk di Tengah Badai
Secara puitis, NU hari ini menyerupai samudera yang permukaannya bergejolak hebat karena badai ego, namun di kedalamannya, ruh para pendiri— Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, dan Kiai Bisri Syansuri —tetap tenang dalam keabadian doa.
Sutradara kegaduhan sesungguhnya adalah “Kealpaan akan Akhirat”. Ketika politik praktis dan ekonomi ekstraktif mereduksi spiritualitas menjadi sekadar instrumen negosiasi, maka “drama” tidak akan pernah usai. Mengutip Ibnu ‘Atha’illah al-Iskandari, kegaduhan ini adalah akibat dari keinginan untuk “tampil” (idzhur) sebelum “matang” dalam pengabdian yang sunyi.
Mencari aktor dan sutradara kegaduhan NU tidak akan selesai dengan menunjuk hidung individu tertentu. Ia adalah Hasrat Kekuasaan yang telah berhasil melakukan infiltrasi ke dalam ekosistem kebudayaan pesantren. Ia adalah teknik Politik Pengalihan Isu yang digunakan untuk menidurkan kesadaran kritis warga nahdliyin.
Untuk mengakhirinya, NU memerlukan sebuah “Rekonsiliasi Ontologis”—kembali ke titik nol. Mengambil jalan Epoche menurut Edmund Husserl: mengurung sementara segala kepentingan politik dan material untuk menemukan kembali esensi sejati dari Jam’iyyah Nahdliyyah berbasis Aswaja ini. Hanya dengan mengganti sutradara “Ambisi” dengan sutradara “Ilahi”, NU dapat kembali menjadi mercusuar peradaban yang teduh dan meneduhkan.
Antropologi Politik: Perebutan Ruang Simbolik
Secara antropologis, kegaduhan di dalam tubuh NU dapat dibaca melalui lensa Clifford Geertz tentang “Jaringan Makna” atau Webs of Significance. NU adalah sebuah ekosistem di mana “Kiai”, “Pesantren”, dan “Sanad” berfungsi sebagai modal simbolik (meminjam istilah Pierre Bourdieu) yang sangat bernilai. Kegaduhan muncul ketika aktor-aktor politik mencoba melakukan conversion of capital—mengubah modal spiritual (doa dan restu kiai) menjadi modal politik praktis (suara pemilu atau konsesi ekonomi).
Di sini, aktor kegaduhan adalah “Sang Penjarah Simbol”. Mereka bukan lagi santri yang mengabdi, melainkan teknokrat politik yang menggunakan dialek pesantren untuk melegitimasi agenda sekuler. Panggung muktamar atau rapat pleno berubah menjadi arena perebutan hegemoni, di mana bahasa langit dipaksa turun untuk membungkus transaksi bumi.
Ekosistem Kebudayaan: Antara Patronase dan Agensi
NU hidup dalam ekosistem kebudayaan patron-klien yang sangat kuat. Hubungan antara kiai (patron) dan santri (klien) adalah urat nadi organisasi. Namun, dalam konteks modern, ekosistem ini mengalami polusi. Aktor kegaduhan memanfaatkan struktur paternalistik ini untuk membungkam nalar kritis warga akar rumput.
Antonio Gramsci menyebut adanya “Intelektual Organik” vs “Intelektual Tradisional”. Kegaduhan hari ini adalah benturan antara intelektual organik NU yang ingin mengembalikan jam’iyyah pada mandat kemanusiaan, dengan aktor-aktor yang telah terkooptasi oleh kepentingan oligarki, yang menggunakan jubah tradisi untuk mempertahankan status quo.
“Hegemoni terjadi ketika kelas penguasa mampu meyakinkan kelas yang dikuasai bahwa kepentingan penguasa adalah kepentingan mereka juga.”
— Antonio Gramsci.
Kegaduhan sengaja diciptakan untuk memutus rantai kritis ini. Isu-isu teologis yang puritan atau perdebatan nasab seringkali dimunculkan sebagai “Distraksi Kebudayaan” agar warga tidak menyadari bahwa sumber daya ekonomi organisasi sedang diperebutkan di balik layar.
Politik Pengalihan Isu: Dialektika “Tangan yang Tak Terlihat”
Dalam teori komunikasi politik, pengalihan isu adalah seni memindahkan fokus publik dari isu substansial (seperti tata kelola tambang atau kemiskinan warga) ke isu emosional. Aktor kegaduhan di NU sangat mahir memainkan instrumen ini. Mereka menciptakan “musuh bersama” di luar atau memicu friksi identitas di dalam untuk menutupi krisis legitimasi kepemimpinan.
Michel Foucault dalam Discipline and Punish mengingatkan kita tentang bagaimana kekuasaan bekerja melalui pendisiplinan tubuh dan pikiran. Kegaduhan adalah cara untuk mendisiplinkan warga NU agar tetap dalam koridor “kepatuhan buta” dengan narasi bahwa “mengkritik pimpinan adalah su’ul adab”. Padahal, dalam khazanah pesantren, Bahtsul Masail adalah bukti bahwa perbedaan pendapat adalah roh intelektualisme NU.
Narasi Spiritual: Meratapi Hilangnya Sirr atau Rahasia Ilahi
Secara puitis, jika NU adalah sebuah taman, maka aktor kegaduhan adalah ulat bulu yang memakan daun-daun keikhlasan. Mereka tidak peduli jika pohon itu kering, asalkan mereka kenyang. KH. Sahal Mahfudh pernah menekankan pentingnya “Fikih Siyasah” yang berbasis pada kemaslahatan umat (tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil mashlahah).
Ketika etika politik ini dilupakan, maka yang tersisa hanyalah politik kekuasaan yang gersang. Kegaduhan adalah tangisan ruhani dari sebuah organisasi yang mulai kehilangan Sirr—rahasia kesucian yang dititipkan oleh para wali pendiri.
Menemukan “Aktor” kegaduhan tidak akan selesai dengan menunjuk satu nama. Ia adalah akumulasi dari Ego Kolektif dan Syahwat Materialisme yang menyusup ke dalam ruang suci. Untuk meredam kegaduhan, NU harus melakukan Self-Purification atau dalam teks Sufi sering disebut dengan Tazkiyatun Nafs secara organisasi—kembali menjadi tenda besar bangsa yang menaungi, bukan panggung sirkus yang mengecoh mata.
Ekosistem Kebudayaan: Antara “Karomah” dan “Komoditas”
Dalam ekosistem kebudayaan NU, terdapat ketegangan antara yang sacred (sakral) dan yang profane (profan). Aktor kegaduhan muncul dari retakan di mana nilai-nilai sakral seperti “Barokah” mulai dikomodifikasi. Secara antropologis, ini adalah bentuk “Fetisisme Komoditas” ala Karl Marx yang diadopsi ke dalam ruang spiritual. “Restu Kiai” yang seharusnya menjadi panduan moral-langit, oleh para aktor ini, diubah menjadi komoditas politik untuk memenangkan negosiasi di meja-meja kekuasaan.
Kegaduhan ini mencerminkan rusaknya Ekosistem Pengetahuan pesantren. Dahulu, otoritas dibangun di atas kedalaman kitab kuning dan laku tirakat. Kini, aktor kegaduhan mencoba membangun otoritas melalui penguasaan algoritma media sosial dan narasi-narasi bombastis yang bersifat momentary (sesaat). Ini menciptakan apa yang disebut oleh Jean-François Lyotard sebagai “Kematian Narasi Besar”; NU tidak lagi dibicarakan sebagai penggerak peradaban dunia, melainkan terjebak dalam “Narasi Kecil” tentang siapa memegang jabatan apa.
Politik Pengalihan Isu: “The Great Erasure” –Penghapusan Besar
Aktor kegaduhan bekerja dengan teknik “Amnesia Sejarah”. Mereka memantik kegaduhan internal untuk menghapus ingatan kolektif warga tentang peran NU sebagai pembela kaum mustadh’afin atau kaum tertindas.
“Kekuasaan adalah upaya untuk membuat orang lupa,” tulis Milan Kundera.
Ketika terjadi konflik agraria yang menimpa petani Nahdliyin, atau perampasan ruang hidup di pesisir, aktor kegaduhan akan melemparkan “bola panas” berupa isu khilafiyah atau perdebatan struktur yang tidak berujung. Ini adalah Politik Pengalihan Isu yang sistemik. Kegaduhan berfungsi sebagai noise atau kebisingan yang dirancang agar suara rintihan warga di akar rumput tidak terdengar sampai ke menara gading PBNU. Secara filosofis, ini adalah pengkhianatan terhadap “Etika Tanggung Jawab” Emmanuel Levinas, di mana wajah sesama yang menderita justru diabaikan demi wajah kekuasaan yang bersolek.
Suluk Sufistik: Menelusuri Jejak Sang Aktor Sejati
Jika kita menyelam lebih dalam ke palung esoteris, aktor kegaduhan yang paling nyata adalah “An-Nafs al-Amnarah” atau Nafsu yang memerintah pada keburukan yang telah menjangkiti tubuh kolektif. Secara puitis, kegaduhan ini adalah debu yang beterbangan karena kita terlalu sibuk menyapu halaman luar (politik praktis) namun membiarkan ruang tamu (hati nurani) penuh dengan sarang laba-laba ambisi.
Mengutip Ibnu ‘Atha’illah al-Iskandari dalam Al-Hikam:
“Pendamlah eksistensimu dalam tanah ketiadaan (Khumul), sebab sesuatu yang tumbuh namun tidak ditanam dengan baik, tidak akan sempurna buahnya.”
Aktor kegaduhan adalah mereka yang menolak untuk “tumbuh dalam tanah ketiadaan”. Mereka ingin selalu tampil di permukaan, diterangi lampu sorot, meskipun harus menginjak-injak marwah organisasi yang telah dibangun dengan darah dan air mata oleh para pendahulu.
Epilog: Menuju Rekonsiliasi Ontologis
Siapakah aktor kegaduhan itu? Ia adalah kita yang membiarkan diri terpesona oleh “politik angka” dan melupakan “politik makna”. Ia adalah bayang-bayang gelap dari ambisi yang meminjam suara tuhan untuk kepentingan perut.
Untuk memulihkan ekosistem kebudayaan NU, diperlukan “Dekonstruksi Harapan”. Kita harus membongkar struktur-struktur yang memungkinkan kegaduhan itu tumbuh subur. NU harus kembali menjadi “Ruang Publik Habermasian” yang sehat, di mana komunikasi terjadi secara tulus (communicative action), bukan manipulatif.
Hanya dengan kembali ke titik nol—titik di mana sarung bukan lagi simbol kasta, tapi simbol kesetaraan di hadapan Allah—NU dapat terlepas dari drama yang melelahkan ini. Oleh karena itu, aktor harus kembali menjadi santri, dan panggung harus kembali menjadi sajadah.
Wallahu A’lam
Daftar Pustaka dan Rujukan Ilmiah
Al-Ghazali, I. Ihya Ulumuddin, Jilid III: Kitab Bahaya Lidah dan Cinta Jabatan (Analisis psikologi tasawuf tentang penyakit hati para pemimpin).
Al-Iskandari, I. Al-Hikam. (Tentang bahaya eksistensi yang tidak berakar pada ketulusan/khumul).
Al-Iskandari, I. Al-Hikam. (Tentang pentingnya Khumul/ketidakterkenalan dalam spiritualitas).
Arifin, Z. (2012). Antropologi Pesantren. (Studi tentang relasi kuasa dan budaya di lingkungan NU
Baudrillard, J. (1981). Simulacra and Simulation. University of Michigan Press. (Analisis tentang bagaimana tanda menggantikan realitas substansial).
Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. (Tentang modal simbolik dan konversinya).
Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. (Teori tentang modal simbolik dan konversi modal sosial ke politik).
Chalik, A. (2017). Nahdlatul Ulama dan Geopolitik. UINSA Press. (Analisis pergeseran perilaku politik NU).
Debord, G. (1967). The Society of the Spectacle. Buchet-Chastel. (Kritik terhadap masyarakat yang dikendalikan oleh tontonan/media).
Foucault, M. (1975). Discipline and Punish: The Birth of the Prison. Vintage. (Analisis kekuasaan dan pendisiplinan).
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books. (Tentang jaringan makna dan kebudayaan sebagai teks).
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books. (Analisis simbolik dalam budaya dan agama).
Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks. (Teori hegemoni dan bagaimana elit mengarahkan narasi massa).
Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks. International Publishers. (Teori hegemoni dan intelektual organik).
Habermas, J. (1981). The Theory of Communicative Action. (Tentang komunikasi yang jujur dalam ruang publik).
Kundera, M. (1979). The Book of Laughter and Forgetting. (Tentang memori dan kekuasaan).
Levinas, E. (1961). Totality and Infinity. (Etika tanggung jawab terhadap “Yang Lain”).
Lyotard, J.F. (1979). The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. (Kematian narasi besar).
Mahfudh, M.A. Sahal. (1994). Nuansa Fiqih Sosial. LKiS. (Pemikiran tentang etika politik dan kemaslahatan warga).
Marx, K. (1867). Das Kapital. (Tentang Fetisisme Komoditas dan nilai tukar).
Sartre, J.P. (1943). Being and Nothingness. Philosophical Library. (Tentang konflik eksistensial dan pandangan “orang lain sebagai neraka”).
Wahid, A. (1999). Prisma Pemikiran Gus Dur. LKiS. (Refleksi tentang khidmah, kemanusiaan, dan kekuasaan).
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
