SURAU.CO – Kiai Sahal Mahfudz dikenal karena gagasan fiqih sosial yang fokus pada pemberdayaan masyarakat sekitar pesantren. Pesantren Maslakul Huda yang diasuhnya tidak hanya sebagai lembaga pendidikan Islam, tapi juga sebagai pusat pembangunan sosial masyarakat (community development). Pada tahun 1970, pesantren ini menjadi eksperimen pengembangan sosial ekonomi masyarakat oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) Jakarta.
Kiai Sahal kemudian membentuk Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM) untuk meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat sekitar pesantren. BPPM menggunakan metode pendekatan dari dalam (development from within), memandang masyarakat sebagai subjek pembangunan dengan kemampuan memadai. Mereka dipandang sebagai sumber daya yang mampu mengembangkan diri dan mencari solusi masalahnya.
BPPM melakukan penyuluhan, pelatihan, konsultasi, dan pemberian pinjaman lunak/kredit tanpa bunga untuk kelompok usaha mikro. Kiai Sahal juga mengajarkan masyarakat membuat “asuransi” kesehatan dengan menabung setiap bulan. Ia Pernah dicegat Banser di pintu masuk acara resmi NU dan ditanya apakah dirinya tamu atau tidak.
Menjabat Rais ‘Aam PBNU
Kiai Sahal Mahfudz dikenal sangat sederhana. Suatu ketika, saat menjabat Rais ‘Aam PBNU, ia dicegat anggota Banser di pintu masuk acara resmi NU dan ditanya apakah dirinya tamu atau tidak. Kiai Sahal hanya menjawab, “Saya Sahal,” tanpa menyebutkan jabatannya. Saat diminta kartu pengenal, Kiai Sahal tidak membawanya, sehingga ia tidak bisa masuk ke forum. Padahal, acara belum dimulai karena menunggu kedatangannya. Akhirnya, panitia mencari informasi dan menemukan bahwa lelaki kurus bernama Sahal itu adalah Kiai Sahal sendiri.
Kesederhanaan Kiai Sahal sudah lumrah dikenal masyarakat. Ia jarang terlihat menggunakan sorban atau pakaian yang menunjukkan statusnya sebagai tokoh besar, kecuali saat shalat Jumat.
Kiai Sahal Mahfudz dikenal karena kesederhanaannya. Ia hanya memakai sorban dan peci putih saat shalat Jumat, dan dalam kesehariannya, ia tidak menunjukkan statusnya sebagai tokoh besar. Rumah dan kendaraannya juga sederhana, sehingga guru-guru di Kajen tidak berani memiliki mobil lebih mewah darinya.
Kiai Sahal memiliki kepribadian yang inspiratif, santri, intelektual, alim, dan efektif dalam berbicara. Ia juga memiliki rasa humor yang baik dan tidak pernah terlihat marah. Nasihatnya sangat menyentuh hati, dan ia sangat menjaga hubungan baik dengan pemerintah dan partai politik tanpa menggunakan pengaruhnya untuk kepentingan pribadi.
Peduli Masyarakat Kecil
Kiai Sahal merupakan sosok ulama yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya. Ia juga seorang pemikir yang produktif menulis makalah dan aktivis LSM yang peduli terhadap masyarakat kecil. Beberapa karyanya antara lain Thariqatul-Hushul ila Ghayathil-Wushul, Pesantren Mencari Makna, dan Nuansa Fiqh Sosial.
Kiai Sahal Mahfudz memiliki banyak karya tulis, antara lain Ijma’ (terjemahan bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausu’ah al-Ijma’), Al-Thamarah al-Hajainiyah, Luma’ al-Hikmah ila Musalsalat al-Muhimmat, dan Al-Faraid al-Ajibah. Karena kedalaman ilmu dan kontribusinya, ia diakui sebagai salah satu ahli Fiqih terbaik di Indonesia.
Kiai Sahal menerima beberapa penghargaan, seperti Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam bidang pengembangan ilmu fiqih dan pesantren, Tokoh Perdamaian Dunia (1984), Manggala Kencana Kelas I (1985-1986), Bintang Maha Putra Utama (2000), dan Tokoh Pemersatu Bangsa (2002). Ia juga memiliki pengalaman studi komparatif ke luar negeri, seperti Filipina, Korea Selatan, Jepang, Srilanka, Malaysia, dan Arab Saudi.
Sejak tahun 2008, Kiai Sahal mengalami penurunan kondisi kesehatan, namun tetap berusaha memenuhi keinginan umat yang mengharapkannya memimpin Nahdlatul Ulama. (Dr. H. Basnang Said), (CM)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
