Masyarakat modern saat ini hidup dalam arus informasi yang sangat deras dan tidak terbendung. Kehadiran media sosial mengubah cara manusia berkomunikasi, berinteraksi, hingga mengekspresikan diri. Namun, di balik kemudahan teknologi ini, muncul sebuah fenomena sosial yang cukup mengkhawatirkan. Kita menyaksikan pudarnya budaya malu atau Haya’ yang selama ini menjadi fondasi moral dan adab bangsa.
Dahulu, masyarakat sangat menjunjung tinggi privasi dan kehormatan diri. Orang akan merasa risi jika urusan pribadi mereka menjadi konsumsi publik. Namun, era keterbukaan informasi membalikkan keadaan tersebut secara drastis. Saat ini, banyak individu justru berlomba-lomba membuka aib atau privasi mereka demi mengejar popularitas instan di dunia maya.
Tekanan Algoritma dan Haus Validasi
Platform digital seperti TikTok, Instagram, dan Facebook menciptakan standar kesuksesan baru berdasarkan angka. Jumlah pengikut, penyuka, dan penonton menjadi tolok ukur eksistensi seseorang. Kondisi ini mendorong pengguna untuk melakukan apa saja agar konten mereka menjadi viral. Mereka seringkali mengabaikan batasan moral dan etika demi memuaskan algoritma media sosial.
Seseorang tidak lagi ragu melakukan aksi konyol, provokatif, atau bahkan tidak senonoh di depan kamera. Fenomena ini membuktikan bahwa rasa malu bukan lagi menjadi rem pengendali perilaku manusia modern. Ketika ambisi untuk terkenal lebih besar daripada rasa malu, maka integritas pribadi akan mulai runtuh secara perlahan. Masyarakat seolah kehilangan sensor alami untuk membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak pantas.
Seorang pakar komunikasi pernah menyatakan: “Media sosial telah menghapus sekat antara ruang publik dan ruang privat, sehingga manusia kehilangan kendali atas rasa malunya.” Kutipan ini menegaskan bahwa teknologi memang berperan besar dalam pergeseran nilai sosial kita saat ini.
Fenomena Flexing dan Eksibisionisme Digital
Salah satu bukti nyata lunturnya budaya malu adalah fenomena flexing atau pamer kekayaan secara berlebihan. Orang-orang dengan bangga menunjukkan kemewahan, meskipun terkadang harta tersebut bersifat semu atau hasil manipulasi. Rasa malu untuk terlihat sederhana hilang, berganti dengan rasa bangga saat orang lain merasa iri.
Selain kekayaan, masalah domestik dan konflik rumah tangga pun kini sering menjadi bahan konten drama. Banyak pasangan suami istri yang mengumbar pertengkaran atau kemesraan yang berlebihan di depan publik. Padahal, menjaga privasi keluarga merupakan bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Tanpa rasa malu, manusia kehilangan batasan suci dalam hubungan antarmanusia.
Perspektif Haya’ sebagai Fondasi Iman
Dalam pandangan Islam, rasa malu atau Haya’ bukan sekadar emosi manusiawi, melainkan bagian penting dari keimanan. Rasa malu berfungsi sebagai penjaga agar manusia tetap berada pada koridor kebaikan. Jika seseorang sudah kehilangan rasa malu, maka ia akan kehilangan kompas moral dalam hidupnya.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis: “Malu itu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa rasa malu merupakan perisai yang melindungi manusia dari perbuatan tercela. Jika perisai ini retak atau hancur, maka berbagai kerusakan moral akan dengan mudah masuk dan merusak tatanan masyarakat.
Krisis adab yang kita lihat sekarang, seperti perundungan siber (cyber bullying) dan penyebaran hoaks, berakar dari hilangnya rasa malu. Para pelaku merasa bebas menyerang kehormatan orang lain karena mereka tidak lagi memiliki rasa malu kepada Tuhan maupun sesama manusia.
Membangun Kembali Benteng Karakter
Mengembalikan budaya malu di tengah gempuran informasi memerlukan kesadaran kolektif dari berbagai pihak. Keluarga memegang peranan paling penting sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Orang tua harus menanamkan nilai-nilai adab dan kesopanan sejak dini. Kita perlu mengajarkan anak-anak bahwa tidak semua hal dalam hidup ini harus dibagikan kepada dunia.
Selain itu, institusi pendidikan dan tokoh masyarakat perlu menggalakkan kembali literasi digital yang berbasis karakter. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan mengoperasikan gawai, tetapi juga tentang bagaimana beretika di ruang siber. Masyarakat harus bijak dalam menyaring konten dan tidak memberikan panggung bagi perilaku yang merusak moral.
Dunia digital seharusnya menjadi tempat untuk menyebarkan inspirasi dan ilmu pengetahuan, bukan panggung pamer aib. Kita perlu merenung kembali sebelum menekan tombol “unggah” pada gawai kita. Mari kita jadikan rasa malu sebagai identitas diri agar tetap menjadi manusia yang bermartabat di era keterbukaan ini. Dengan menjaga budaya malu, kita sebenarnya sedang menjaga kehormatan peradaban manusia itu sendiri.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
