Khazanah
Beranda » Berita » Patriarki Berlebih vs Feminisme Ekstrem: Menemukan Jalan Tengah Islam

Patriarki Berlebih vs Feminisme Ekstrem: Menemukan Jalan Tengah Islam

Dunia modern saat ini menghadapi benturan dua arus besar terkait relasi gender. Di satu sisi, budaya patriarki yang kaku masih membelenggu kebebasan perempuan. Di sisi lain, muncul gerakan feminisme ekstrem yang menuntut kebebasan tanpa batas. Menanggapi fenomena ini, Islam hadir membawa konsep wasathiyah atau jalan tengah. Konsep ini menawarkan harmoni tanpa mengabaikan fitrah manusia.

Dominasi Budaya Patriarki yang Berlebihan

Budaya patriarki sering kali memosisikan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan tunggal. Dalam struktur ini, perempuan hanya memiliki ruang gerak yang sangat terbatas. Masyarakat sering menganggap perempuan sebagai warga kelas dua dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini mencakup urusan domestik, pendidikan, hingga karier profesional.

Praktik patriarki yang berlebih sering menyalahgunakan tafsir agama untuk melanggengkan kekuasaan. Padahal, banyak pakar menilai hal tersebut lebih bersifat kultural daripada religius. Penindasan terhadap hak-hak dasar perempuan jelas bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Kondisi inilah yang memicu keresahan besar di kalangan aktivis perempuan di seluruh dunia.

Munculnya Arus Feminisme Ekstrem

Sebagai reaksi atas patriarki, gerakan feminisme ekstrem pun lahir. Gerakan ini menyuarakan kesetaraan mutlak dalam segala hal tanpa terkecuali. Namun, sebagian kelompok feminis radikal mulai meninggalkan nilai-nilai kodrati. Mereka terkadang memandang institusi keluarga atau pernikahan sebagai bentuk penjajahan baru.

Feminisme ekstrem cenderung meniadakan perbedaan biologis dan psikologis antara pria dan wanita. Mereka menuntut persamaan peran yang terkadang mengabaikan harmoni alami dalam masyarakat. Aliran ini sering kali memicu konflik horizontal dan merapuhkan tatanan sosial tradisional. Akibatnya, hubungan antara laki-laki dan perempuan menjadi kompetisi yang tak berujung, bukan kolaborasi.

Bunga Pukul Empat, Kembang Indah yang Kaya Manfaat

Islam Sebagai Solusi dan Jalan Tengah

Islam memandang laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang setara di hadapan Allah SWT. Agama ini tidak mendukung penindasan patriarki, namun juga tidak menyepakati liberalisme feminisme ekstrem. Islam mengedepankan prinsip keadilan (‘adl) daripada sekadar kesamaan angka secara matematis.

Dalam Islam, laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab yang berbeda namun saling melengkapi. “Perempuan adalah saudara kandung laki-laki,” demikian bunyi sebuah kutipan hadis yang menegaskan kesetaraan martabat. Islam memberikan hak waris, hak pendidikan, dan hak berpendapat kepada perempuan sejak empat belas abad lalu.

Seorang pakar pemikiran Islam pernah menyatakan:

“Islam tidak datang untuk memenangkan satu gender atas gender lainnya, melainkan untuk memuliakan keduanya dalam bingkai ketaatan kepada Tuhan.”

Keadilan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an

Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan seseorang bergantung pada ketakwaannya, bukan jenis kelaminnya. Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk berkarya dan berkontribusi di ruang publik. Sejarah mencatat banyak tokoh perempuan Islam yang menjadi ulama, pejuang, hingga pengusaha sukses.

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Namun, Islam tetap menjaga peran sentral perempuan dalam keluarga. Ibu memiliki kedudukan yang sangat terhormat dan mulia. Islam menyeimbangkan peran domestik dan publik dengan sangat proporsional. Hal ini bertujuan agar stabilitas keluarga tetap terjaga tanpa mengubur potensi individu perempuan.

Kutipan lain yang relevan dalam konteks ini adalah:

“Keadilan bukan berarti memberikan beban yang sama persis, tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya sesuai dengan fitrah dan kebutuhan.”

Membangun Harmoni di Masa Depan

Masyarakat perlu memahami bahwa solusi isu gender bukan dengan cara ekstrem. Kita harus meninggalkan budaya patriarki yang merendahkan martabat wanita. Pada saat yang sama, kita tidak perlu mengadopsi feminisme yang mencerabut akar nilai agama.

Jalan tengah Islam menawarkan kolaborasi yang sehat antara kedua gender. Laki-laki harus melindungi dan menghargai perempuan sebagai pasangan yang setara. Perempuan pun dapat mengejar impian mereka tanpa harus kehilangan jati diri sebagai hamba Allah. Dengan pendekatan ini, keadilan sosial dapat terwujud secara nyata dan berkelanjutan.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.